More
    HomeEventsMengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Published on

    spot_img

    LokalKarya.id – Hari libur bagi sebagian orang sering dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu bersenang-senang bersama keluarga, mengunjungi tempat-tempat wisata, dan berbagai aktivitas lainnya. Berbeda dengan sekelompok pemuda di Jember ini, mereka menamakan diri sebagai Pemoeda Pemoedi Condro (PPC), memanfaatkan momentum liburan sekolah untuk melaksanakn sebuah acara menarik guna mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak dan masyarakat. Bertempat di lingkungan Condro, nama sebuah kelurahan yang berada di tengah-tengah kota Jember, PPC mengelar Festival Liburan Condro.


    Festival Liburan yang diselenggarakan dalam rangka mengisi hari libur anak-anak ini mempunyai makna tersendiri yang begitu penting bagi anak-anak Condro. Di tengah pergeseran budaya akibat modernisasi yang hampir menghilangkan tradisi-tradisi lokal zaman dahulu, acara ini ingin megenalkan kembali tradisi-tradisi masyarakat dahulu yang kian lama kian menghilang tergerus arus perubahan zaman, salah satunya adalah permainan anak-anak.

    Tak bisa dipungkiri, saat ini benda bernama gadget dan berbagai bentuk permainan modern berbasis teknologi hampir sepenuhnya menggantikan permainan-permainan tradisional zaman dahulu. Banyak anak-anak yang tak lagi mengenal jenis permainan tradisional yang dulu sering dimainkan oleh generasi-generasi terdahulu. Hal inilah yang menjadi kegelisahan Muhammad Alfan Suri dan kawan-kawan sehingga mereka berinisiatif untuk mengisi liburan anak-anak dengan memainkan kembali berbagai macam permainan tradisional.

    Festival Liburan Condro yang diinisiasi oleh PPC ini bertujuan untuk melestarikan kembali perm ainan-permainan tradisional. Diantara beberapa permainan yang ditampilkan adalah dam-daman, egrang, lompat tali, gobak sodor, englek, dakon. Selain itu acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan warga terhadap lingkungan Condro.

    “Acara ini kita selenggarakan untuk melestarikan kembali permainan-permainan tradisional yang sudah hampir punah. Sebab, saat ini di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, anak-anak zaman sekarang sudah tidak lagi mengenal apalagi memainkan permainan-permainan tradisional”, ungkap Alfan selaku Ketua Pelaksana.

    Alfan juga menjelaskan bahwa permainan tradisional sangat berbeda jauh dengan permainan modern seperti yang ada saat ini. Disamping tidak memerlukan biaya mahal untuk membuat mainannya, ada hal lebih mendasar yang ingin disampaikannya, yaitu terjalinnya interaksi sosial melalui permainan. Sebab dalam setiap permainan, tidak hanya memerlukan ketangkasan tapi juga menuntut anak-anak untuk menjalin kerjasama satu sama lain. Sehingga kebersamaan anak-anak seperti yang dirasakan dahulu bisa tetap terjaga.

    “Kalau dalam permainan zaman dulu, kita hampir setiap hari main bersama, kemana-mana bersama. Beda dengan saat ini, anak-anak kalau sudah pegang gadget, mereka cenderung individualis, interaksi dengan yang lain kurang”, ujar Alfan, salah satu tokoh pantomim di Jember ini.

    Acara Festival Liburan Condro dilaksanakan selama 4 Hari. Mulai dari tanggal 21 sampai 24 Desember. Selain diikuti oleh anak-anak dan masyarakat di lingkungan Condro, kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa komunitas literasi dan pegiat sosial di Jember dan dari luar Kota Jember seperti Komunitas Jendela Jember, Kelas Inspirasi Jember, TurunTangan Jember, Gerkatin Jember, Cahaya Ilmu, Kampoeng Dolanan (Surabaya), Rumah Belajar Ilalang (Jepara), Rumah Baca Gang Masjid (Jombang), dan Perpustakaan Keliling Gatda (Bojonegoro). Komunitas yang hadir ikut serta memeriahkan acara festival dengan membuka lapak baca, membatik, mendongeng, dan sebagian menjadi relawan yang membantu panitia.

    Acara yang dimulai pada Kamis malam ini ditandai dengan pelepasan peserta pawai motor-motoran oleh Lurah Condro Bapak Lutfi Alif. Pawai diikuti oleh anak-anak dengan membawa motor-motoran mengelilingi lingkungan Condro. Namun ada hal yang menarik dari pawai ini, motor-motoran yang dibawa para peserta semua terbuat dari barang bekas seperti kaleng oli, botol minuman dan barang bekas lainnya. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak dapat meciptakan mainan sendiri sekreatif mungkin.

    Berlanjut di hari kedua, anak-anak mengikuti acara outbound dengan berbagai macam permainan menantang. Menggunakan lingkungan sekitar Condro, acara outbound tidak kalah seru dengan outbound yang dilaksanakan oleh para provider outbound.

    Di hari ketiga, berbagai jenis permainan tradisional dimainkan dan dilombakan. Nampak semua yang hadir, baik itu peserta dari anak-anak maupun masyarakat yang ikut menyaksikan begitu antusias. Di hari ketiga ini banyak permainan yang ditampilkan, seperti dam-daman, lompat tali, gobak sodor, Englek, lomba balap egrang dan dakon. Acara yang bertempat di RW 8 lingkungan condro ini terlihat ramai dipenuhi stan komunitas yang membuka lapaknya. Gang kecil di RW 8 disulap sebagai game zone untuk anak-anak.

    Kemudian kegiatan terakhir dututup dengan pentas seni yang diisi olek anak-anak. Berbagai macam penampilan disuguhkan untuk menghibur warga sekitar. Mulai dari mebaca puisi, pantomim, menyanyi yang diiringi oleh bahasa isyarat, drama kolosal, dan juga pemberian doorprize bagi penonton yang berhasil menyeselesaikan tantangan yang diberikan panitia. Semua yang hadir mengakui bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk memberi edukasi kepada masyarakat khususnya kepada anak-anak zaman sekarang ini agar dapat menjaga kelestarian budaya tradisional yang sudah mulai luntur.

    “Acara ini sangat bermanfaat sekali, karena jarang ada yang mencoba melestarikan budaya tradisional khususnya di kalangan anak-anak, penting untuk tetap dilaksanakan karena zaman sekarang anak-anak banyak yang sudah melupakan permainan zaman dulu dan ini juga sebagai salah satu percontohan agar bisa dilaksanakan di daerah lain“, jelas Agung, relawan pemilik perpustakaan keliling asal Bojonegoro.

    Sebagai bagian dari masyarakat Jember, kecintaan dan kepedulian Alfan terhadap dunia anak-anak membuatnya tak ingin anak-anak di Jember khusunya lingkungan Condro tempatnya lahir dan dibesarkan terbawa arus negatif perkembangan zaman. Sehingga banyak cara yang ia lakukan untuk menginisiasi gerakan-gerakan guna menjaga kelestarian budaya tradisional.

    Nah, arek lokal juga pasti ingin juga kan agar budaya tradisional di kota Jember tercinta tetap terjaga? Mari jadi bagian dari gerakan yang menjaga kelestarian budaya. Penasaran juga ingin melihat berbagai kegiatan dari PPC? Arek lokal bisa baca ulasan lengkapnya juga disini.

    Latest articles

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...

    5 Alasan Kamu Harus Nonton Film Dilan 1990

    LokalKarya.id - "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Nggak asing...

    Pemutaran Film “Save Me” di Universitas Muhammadiyah Jember dalam Rangka Memperingati Hari Perempuan

    LokalKarya.id - Perdagangan manusia kian tahun semakin bertambah. Di Indonesia, perdagangan manusia, terutama perempuan...

    More like this

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...

    5 Alasan Kamu Harus Nonton Film Dilan 1990

    LokalKarya.id - "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Nggak asing...