LokalKarya.id – Kalau di artikel sebelumnya, Fam Trip Komunitas Media Sosial Dinas Pariwisata Jember, Ajak Berkunjung ke Destinasi Wisata Favorit yang Perlu Kamu Tahu, Lokal Karya dan rombongan diajak untuk ber-city tour ria ke beberapa destinasi andalan yang kece punya, ternyata malam kelanjutannya tak kalah seru. Begitu pula keesokan harinya. Begini ceritanya.
Selesai menikmati Puslitkoka dengan cuaca yang mendung, bis rombongan pun melaju menuju destinasi berikutnya. Rupanya cuaca tak menjadi penghalang untuk laju jelajah fam trip ini. Kemanakah tujuan kami selanjutnya?
Destinasi Keempat : Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma
Langkah kami semua berderap-derap turun dari bis, dan langsung menjamah dataran berpasir hingga memberatkan langkah si sepatu yang membungkus rapi kedua kaki. Agak terburu-buru memang, karena kalau tak mengambil gerak cepat, sebentar lagi senja akan segera tiba. Birunya langit sebelum berganti warna senja juga pastinya ingin kami abadikan.
Sekilas, menuju tepi laut dan tepian pantai yang merupakan batu memanjang yang kerap disebut menyerupai tubuh ular, pemandangan menunjukkan sampah-sampah berceceran. Mungkin ini bekas keramaian tempat wisata ketika weekend lalu atau bawaan air laut yang tadinya pasang dan seketika surut.

Bagi warga Jember dan sekitarnya, pasti sudah pernah mendengar tentang Watu Ulo dan cerita mistis dibalik penamaannya. Meski bermunculan tempat wisata baru di Jember, nama Watu Ulo tetap bertahan. Bahkan, trip advisor berhasil menahbiskan pantai ini sebagai tempat atraktif ketiga yang paling menarik untuk dikunjungi di Jember.
Menuju kesini, arek lokal hanya perlu menuju arah selatan, kira-kira 30-40 km dari pusat kota Jember, pergilah menuju Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Selain cerita mistis tentang penamaan Watu Ulo yang berarti batu ular (karena dulunya pantai ini konon dikuasai nogo rojo), adanya legenda Nyi Roro Kidul yang ratu pantai selatan juga sangat kuat menyelimutinya.

Terlepas dari itu semua, pantai satu ini memang memiliki pemandangan yang eksotis dengan batu besar dan batu memanjangnya.
Jika ingin suasana yang lebih syahdu, naiklah sedikit, tetap menggunakan kendaraan ya, ke arah Pantai Putih Malikan yang sering diakronimkan menjadi Papuma. Sesuai namanya, Papuma menawarkan keindahan pasir putih sejauh mata memandang. Terdapat banyak warung yang juga menjajakan beragam sajian ikan bakar dan lauk pelengkap lainnya. Kalau mau berkemah atau outbound disini juga sangat memungkinkan. Beberapa fasilitas seperti WC umum dan musholla juga tersedia.

Sore itu sebelum senja menutup birunya langit, suasana mendung yang pekat masih cukup terasa. Terlebih, waktu kami berkunjung bukanlah weekend, sehingga suasana lumayan tenang sekaligus lebih sepi dari biasanya.

Selepas maghrib, yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Apa itu? Sajian makan malam dengan ikan bakar segar serta lalapan dan sambal yang menggoda siapapun yang melihatnya. Ikannya ada bermacam-macam, mulai ikan kakap, ikan bawal, ikan gurami, dan sebagainya. Total menurut pemilik warung, mereka diminta untuk menyediakan jumlah cukup untuk 70 orang. Bisa dibayangkan dong ya.

Suasana sudah makin gelap, dan kami harus segera turun. jalan yang dilalui hi est benar-benar gelap dan bergelombang, rupanya jarang ada lampu jalan dari Papuma menuju Watu Ulo. Untunglah semua rombongan segera tiba di bis meski keadaan diluar kendaraan lumayan basah karena gerimis teratur tak kunjung berhenti.
Beristirahat di Green Hill
Jarak menuju hotel lumayan juga. Tidur di perjalanan rasanya menjadi pilihan. Begitu menemui kamar masing-masing yang semuanya di-booking dalam format guest house, tubuh rasanya sudah ingin cepat-cepat direbahkan. Tapi ternyata, ada agenda yang sudah disepakati bersama, diskusi bersama Dinas Pariwisata. Jadilah malam itu, dengan sedikit tenaga yang tersisa, kami berdiskusi tentang perjalanan tadi dan saran-saran untuk Dinas Pariwisata ke depan.
Untunglah, diskusi tak berlangsung lama. Pihak panitia cukup mengerti kondisi semua peserta fam trip yang membutuhkan istirahat.

Pagi menjelang, ternyata pagi sudah disambut dengan gerimis. Padahal jadwal hari ini adalah tubing dan rafting di Jumerto. Hm, seperti apakah agenda selanjutnya?

O iya, for your information, Green Hill itu terletak di akses jalan menuju wana wisata Rembangan. Tepatnya di Jalan Raya Rembangan No. 99, Baratan. Dari sini pun, hawa sejuk sudah menyapa.
Rafting dan Tubing di Jumerto
Ternyata, destinasi wisata Jember ini luas sekali. Ada beragam pilihan. Dan, ga perlu melanglang buana lebih jauh lagi. Tahu ga kalau di sekitaran daerah Patrang, ada daerah bernama Jumerto yang asli menawarkan kesejukan alam yang bebeda dari penampakan kota Jember pada umumnya.

Menuju kesini, ternyata kami masih disambut di rumah Ketua Pokdarwis nya dimana basceamp pengelola wisata alam dalam kota Jember ini berada. Aneka gorengan, minuman, semua tersaji lengkap. Tak ketinggalan musik dangdut yang digadang-gadang membuat mata tetap melek. Sesaat setelah itu, bertahap, kami diboyong oleh mobil pick up dan hi est menuju lokasi dimana start rafting maupun tubingakan berlangsung.


Ternyata masih sekitar 3 km lagi. Masuk lebih dalam, dan lebih dalam. Setelah semua peralatan ‘perang’ dibagikan, tiap kelompok ataupun perorangan yang akan melakukan rafting ataupun tubing harus mendengarkan beberapa instruksi supaya save. Tak berapa lama, kami berpindah start terutama untuk yang berniat tubing dikarenakan debit air sungai yang terlalu deras. Maklum, di Jumerto ternyata sudah diguyur hujan yang lebih dari sekedar gerimis pada pagi harinya.

Dengan sabar, satu persatu orang mencoba tubing dengan track yang tidak begitu jauh karena masing-masing memang masih pemula sekali. Buat arek lokal yang ingin merasakan tubing dan rafting, pastikan memahami instruksinya, memakai semua perlengkapan safety, dan mintalah pendampingan pada pengelolanya. Karena bagaimanapun, bermain dengan alam juga membutuhkan keahlian dan juga kewaspadaan.
Terlihat beberapa Gus Ning mencoba tubing, sebagian teman-teman netizen lain mencoba rafting. Meski untuk pemula tubing, terlihat sedikit shock saat ban karetnya sempet terguling arus, akhirnya mereka merasakan keseruannya juga. Sedangkan pasukan rafting terlihat sumringah karena kerjasama timnya berhasil.


Kalau arek lokal ingin mencobanya juga, coba sesuaikan dengan musimnya juga ya, dan kontak saja @jumerto_rafting di Instagram.
Fam trip komunitas media sosial yang diselenggarakan Dinas Pariwisata pun berakhir dengan menikmati makan siang menjelang sore yang disediakan di rumah Ketua Pokdarwis tadi. Hidangan ala ndeso seperti sayur asem, ikan air tawar, sayur singkong santan, tahu tempe, dan sambal menambah kenikmatan tak terhingga kebersamaan dua hari 1 malam itu.
Bangga jadi orang Jember ya, ternyata potensi pariwisatanya boleh untuk diadu.
