LokalKarya.id – Maulud berarti kelahiran. Maulud Nabi Muhammad SAW jatuh pada 12 Rabiul Awal yang pada 2017 ini jatuh pada Jumat, 1 Desember. Sebenarnya tidak ada tuntunan langsung tentang wajibnya peringatan Maulud Nabi ini, tapi secara hukum, mubah melakukannya. Istilahnya, kita boleh memanfaatkan momentum peringatan hari lahir Rasulullah SAW ini sebagai upaya untuk terus meneladani beliau dalam setiap sendi kehidupan sebagai seorang muslim.
Di Jember, ada beragam peringatan yang biasanya dilakukan dalam bentuk tasyakuran di masjid-masjid besar hingga masjid kampung. Biasanya peringatan tersebut dalam bentuk pengajian, tabligh akbar, dzikir, musabaqah, berbagai macam perlombaan, dan sebagainya.

Tak ketinggalan, di sebuah sudut kota Jember, yang berbatasan dengan area yang disebut kampus, tepatnya di Masjid Raudlatul Jannah, kawasan Perumahan Taman Kampus, Sumbersari. Sebelum diadakan ceramah pada malam hari ba’da isya’ tepat di hari Jumat (1/12), telah berlangsung berbagai macam lomba yang menumbuhkan semangat berprestasi anak-anak dan remaja muslim. Lomba-lomba yang digelar diantaranya lomba wudhu anak-anak serta lomba adzan anak dan remaja.

Setelah pengumuman lomba-lomba tersebut, tibalah acara inti yang ditunggu-tunggu oleh warga Perumahan Taman Kampus dan masyarakat kampung sekitar, kurang lebih 200 orang. Yaitu ceramah yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember, Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar MA.
Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pesan untuk tidak saja memenuhi akal dengan ilmu-ilmu empirik atau science semata yang kemudian diturunkan ke anak-anak kita, tetapi akal juga harus diisi dengan pemahaman terhadap ajaran agama yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dibawa Rasulullah SAW.

“Mari kita bangun generasi saat ini dengan dasar-dasar agama. Saya khawatir kalau generasi sekarang tidak berbasis pada dasar agama yang kuat, apa yang kita upayakan akan sia-sia. didasari keimanan kepada Allah, maka amal itu di sisi Allah bagai debu yang beterbangan.”, ungkapnya.
Di akhir ceramah, beliau kembali mengingatkan tentang bagaimana kita membangun generasi yang dicita-citakan Rasulullah SAW dalam Al-Qur’an QS. Ibrahim 24-26 :
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. (24); Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (25); Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (26)”
“Generasi yang baik ibarat pohon yang baik, pohon yang baik itu akarnya menghujam ke dalam tanah (iman dan mentalnya kokoh), rantingnya menjulang tinggi ke langit (ilmu dan wawasannya luas), dan ketiga, generasi yang baik harus mengabdi dalam rangka memberikan pencerahan kepada masyarakat. Jadi, mari dekatkan anak-anak kita ke masjid, bukan hanya pintar Matematika, Fisika, dan sebagainya. Jangan sampai anak-anak kita menjadi generasi yang tidak diinginkan, karena ibarat pohon yang jelek adalah yang akarnya telah tercabut, artinya generasi yang imannya tercabut dan tinggal menunggu masa kehancurannya.”, itulah tafsir dari surah Ibrahim yang menjadi penutup ceramah peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW malam itu.

Ketua takmir Masjid Raudlatul Jannah, Handoko Hadi, Spd menjelaskan bahwa warga kawasan Perumahan Taman Kampus cukup antusias mendukung acara-acara positi semacam ini. Dari warga, juga mendukung dengan berkonstribusi nasi kotak yang digunakan sebagai konsumsi acara sebanyak dua kotak per Kepala Keluarga. Seain acara-acara insidentil semacam ini, Masjid Raudlatul Jannah juga aktif menyelenggarakan kajian rutin lainnya di hari-hari tertentu.
