LokalKarya.id – Dewasa ini, masih cukup sulit untuk menemukan orang-orang yang peduli dan bersiap turun tangan menghadapi permasalahan yang ada. Apalagi di Jember, yang notabene tingkat pendidikan dan kesehatannya masih rendah. Maka dari itu, perlu orang-orang yang peka untuk bahu membahu menyelesaikan masalah yang kian lama kian menumpuk.
Berawal dari permasalahan itulah, Pak Maulana seorang dosen FISIP Universitas Jember mengajak mahasiswanya untuk ikut terlibat turun tangan menyelesaikan masalah yang ada di Jember. Dengan dukungan kawan-kawan dari kota-kota besar yang juga telah berkecimpung lebih dulu dengan bendera Swayanaka Indonesia, maka pada tanggal 26 Mei 2013, ia menggagas sebuah perkumpulan mahasiswa-mahasiswi dengan visi misi sama yang diberi nama Swayanaka Regional Jember.
Swayanaka Regional Jember merupakan sebuah yayasan beranggotakan mahasiswa-mahasiswi Jember yang peduli terhadap kesejahteraan anak-anak Jember. Konsep Swayanaka dapat dilihat dari akronim namanya, yaitu Mahasiswa Penyayang Anak-Anak. Visi yang diboyong adalah meningkatnya kesempatan anak Indonesia untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensinya sebagai generasi harapan bangsa.
Bergerak selama hampir 4 tahun, menjadikan Swayanaka Jember memiliki banyak anak-anak binaan. Anak-anak tersebut tersebar di beberapa kampung pinggiran kota Jember, antara lain Desa Marwan Kecamatan Mayang, Desa Mojan Kecamatan Arjasa, dan Desa Kertosari Kecamatan Pakusari. Lokasinya tak jauh dari kota Jember, dapat ditempuh kurang lebih 30 menit perjalanan dengan sepeda motor.

Untuk saat ini, Swayanaka Jember sedang fokus pada pengembangan karakter anak di Desa Kertosari Kecamatan Pakusari, khususnya Dusun Sumberdandang. Di desa tersebut ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang notabene sering menimbulkan pencemaran udara. Lokasi dekat TPA sering dijadikan anak-anak sebagai tempat bermain, padahal besar sekali dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran udara. Jadi perlu sekali adanya sosialisasi dan pendekatan kepada anak-anak untuk waspada terhadap bahaya pencemaran udara.

Setiap dua pekan sekali pada hari Minggu, Swayanaka datang ke Dusun Sumberdandang untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anak. Mereka mengajarkan bahayanya pencemaran udara yang ditimbulkan apabila bermain dekat dengan TPA. Selain itu kakak-kakak Swayanaka juga memberi penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) supaya anak-anak Dusun Sumberdandang dapat menjaga kesehatannya setiap hari.
Sementara itu, lokasi yang dekat dengan TPA menjadikan pemulung banyak dijadikan sebagai profesi oleh 90% warganya. Atas dasar itulah, kakak-kakak Swayanaka juga mengajak adik binaan untuk membuat kerajinan dari barang bekas. Ada yang mengumpulkan botol bekas untuk dijadikan mainan mobil-mobilan, perlengkapan alat tulis, hiasan dinding, dan sebagainya.

Kakak-kakak Swayanaka mengemas kegiatan belajarnya dikombinasikan dengan permainan. Mereka mengajari tentang rambu-rambu lalu lintas yang materinya dibuat sedemikian unik, pengenalan budaya daerah dengan membawa permainan tradisional, menonton film, pengenalan sejarah pahlawan melalui mata uang kertas, pengenalan ragam profesi, dan masih banyak lagi. Anak-anak sangat senang dengan metode pembelajaran yang dibawakan oleh kakak-kakak Swayanaka.
Tak hanya itu, Alfita Rahmawati (21) yang menjadi Ketua Umum Swayanaka, menyatakan bahwa Swayanaka juga berfokus pada bidang literasi. Mereka sadar bahwa literasi sangat penting sebagai bekal kehidupan anak-anak dalam bermasyarakat saat mereka tumbuh dewasa kelak. Swayanaka mengerti akan kebutuhan itu, sehingga setiap paginya kakak-kakak Swayanaka menemani anak-anak untuk membaca buku jenis apapun, kurang lebih selama 15 menit. Setelahnya, kakak-kakak Swayanaka juga mengajak anak-anak membaca fenomena yang sedang terjadi, lalu didiskusikan untuk mencari tahu manfaat dan dampaknya. Hal itu juga menjadi bagian dari literasi yang digaungkan oleh Swayanaka.

Swayanaka juga sering mengadakan bakti sosial di tempat binaannya, baik yang sedang ditekuni maupun yang sudah dilepas. Mereka memberikan uang pembinaan hasil donasi relawan Swayanaka. Selain itu, mereka juga mengadakan kegiatan lomba menggambar, kolase, dan lain-lain untuk anak-anak. Anak-anak selalu antusias tatkala mengikuti lomba saat bakti sosial karena ada banyak hadiah yang diberikan kepada mereka.
Kegiatan bakti sosialnya tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, melainkan juga kepada orang dewasa. Mereka mengadakan kegiatan sosialisasi kepada warga perihal parenting dan pendidikan seks anak, dengan mengundang pemateri yang ahli di bidangnya. “Harapannya, tak hanya anak-anak yang berbenah, melainkan orang tuanya juga ikut berbenah karena merekalah yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya,” ungkap Alfita.
Tak hanya itu, kakak-kakak Swayanaka juga mengadakan kegiatan bazar murah. Digelarlah baju layak pakai yang sengaja dijual murah. Mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 20.000. Uang hasil bazar tersebut dikembalikan lagi kepada warga sebagai donasi yang diwujudkan dalam bentuk sembako, supaya lebih bermanfaat.

Swayanaka merupakan yayasan non profit, yang tak mengambil sepersen pun keuntungan dari kegiatan-kegiatannya. Selama ini mereka mendapatkan rezeki dari hasil berjualannya di Pasar Kreanova setiap hari Minggu yang diselenggarakan di Lapangan Universitas Jember. Mereka menjual merchandise, hasil karya anak-anak binaan, serta barang-barang lain hasil produksi anggota Swayanaka. Selain itu banyak donasi yang masuk ke rekening Swayanaka, sehingga membuat ‘dapur’ Swayanaka tetap ‘mengepul’.
Swayanaka selalu membuka tangan lebar-lebar untuk penerimaan donasi, baik donasi berupa uang maupun barang. Apabila arek lokal juga ingin memberi donasi maupun ingin bergabung menjadi bagian dari Swayanaka, yuk langsung saja chat ke Instagram nya di @swayanakajember. Jangan lupa ajak teman-teman lainnya ya, kabarkan kepada dunia bahwa masih banyak orang baik dan peduli kepada anak-anak pinggiran kota Jember.
