LokalKarya.id – Kalau denger kata ‘zine’, apa sih yang terlintas di benak arek lokal? Hm, jangan-jangan arek lokal belum tau apa itu zine ya? Bagi yang belum tau apa itu zine, zine adalah media publikasi alternatif yang biasa diproduksi atau dicetak oleh kelompok masyarakat kecil atau perseorangan. Zine ini sendiri awal sejarahnya berasal dari kata fanzine atau fan magazine. Fan magazine atau zine berbeda dengan magazine (majalah) yang selama ini kamu tahu. Keduanya memang sama-sama media cetak, akan tetapi fanzine diproduksi untuk tujuan sosial, bukan untuk tujuan komersil.
Sebenarnya zine ini sudah ada sejak tahun 90-an. Digunakan oleh para pemuda Indonesia untuk mengeluarkan uneg-unegnya dan bertukar pikiran tentang keadaan politik pada masa itu. Akan tetapi, semenjak adanya berbagai kemudahan teknologi, banyak orang mulai meninggalkan media zine hingga zine pun tenggelam dan jarang beredar lagi. Di Jember sendiri, rupanya zine pun sudah asing didengar. Padahal dulu, zine sempat berjaya sebagai media ekspresi. Ini terbukti dengan keberadaan berbagai zine lokal Jember, misalnya Gerimis dan Merah Putih.

Nah, untuk menggaungkan kembali zine atau fanzine, beberapa arek lokal Jember mengadakan acara yang inspiratif yaitu Semacam Zine Fest. Semacam Zine Fest merupakan festival zine yang diselenggarakan atas kerjasama komunitas Pena Hitam dan Sebuah Project. Memang, di beberapa kota seperti Bandung dan Malang, Zine Fest sudah beberapa kali diadakan. Tetapi untuk di Jember, ini pertama kalinya loh.
“Kita mau ngenalin lagi sebuah media publikasi yang katakanlah anti-mainstream. Ya sebagai literasi juga sebetulnya. Karena kita ga harus melulu baca majalah yang umum. Pastinya banyak pelajaran dan pengetahuan yang dipetik dari zine yang dibuat oleh temen,” Ujar Yogi, selaku ketua Panitia Semacam ZineFest.

Acara ini diadakan selama dua hari, tepatnya tanggal 8-9 Desember 2017 kemarin di Srawung Café yang berada di Jalan Bengawan Solo 27, sekompleks dengan keberadaan Museum Huruf. Selama dua hari, pengunjung bisa melihat zine-zine yang dipamerkan dalam acara Semacam Zine Fest ini.
Asal arek lokal tahu, para panitia harus berkeliling kota mencari para pegiat zine Jember jaman dulu untuk mencari arsip-arsip zine yang pernah ada. Selain itu, mereka juga mengumpulkan zine-zine dari luar kota seperti Sidoarjo, Mojokerto, Malang, bahkan sampai Bali. Kalau di pameran itu pengunjung menemukan zine yang disukai, maka pengunjung bisa memperbanyaknya dengan memfotokopinya melalui panitia.
Setiap malamnya, diadakan diskusi tentang zine yang diisi oleh beberapa narasumber, antara lain adalah Cuplis ‘Gerimis’, Wawan ‘Pispot’, Didi ‘PainSugar’ (Pendiri Pena Hitam), dan Yudo. Mereka semua adalah pegiat-pegiat zine yang cukup terkenal, baik di Jember maupun di luar kota.

Bersama mereka, pengunjung berdiskusi dan bertukar pikiran mulai dari sejarah zine, keunikan-keunikan zine, bagaimana zine dapat membawa dampak positif bagi dunia literasi, dan bertahan di era serba digital ini.
“Yang harus terus ada dalam zine itu kejujuran. Nulisnya jujur aja. Kalau kita ga paham tentang sesuatu ya ga perlu di tulis. Yang kamu tulis, apa yang kamu rasa, apa yang kamu tau aja. Artinya yo ga perlu juga terlalu rumit yang dibahas.”, ungkap Yudo, salah satu narasumber dalam Diskusi Zine ketika ditanya keunikan-keunikan zine sebagai media.

Tak hanya melihat zine yang sudah dibuat dan belajar sejarahnya, para pengunjung pun bahkan juga bisa membuat zine sendiri di acara ini. Membuat zine nyatanya tidak terlalu susah. Kamu bisa membuat zine walau hanya berbekal spidol dan tulisan tangan. Dalam membuat zine, kamu tidak perlu terbelenggu oleh aturan-aturan penulisan seperti kalau kamu menulis di media lainnya. Kamu pun boleh menyebarluaskan ke semua orang semaumu. Dan tidak melulu tentang zine, di Semacam Zine Fest para pengunjung juga dapat mengikuti berbagai workshop seperti workshop fermentasi apel dan workshop tattoo.
Arek lokal, yang membuat acara ini hebat bukan hanya tentang zinenya. Acara yang diadakan oleh Pena Hitam dan Sebuah Project ini sebenarnya ga cuma tentang senang-senang saja. Melalui acara ini, para pemuda yang tergabung dalam Pena Hitam dan Sebuah Project menunjukkan kepedulian mereka terhadap para pelaku industri kreatif di Jember. Di acara ini, mereka mewadahi pelaku UMKM Jember dan pelaku seni, khususnya di bidang industrI kreatif untuk menjual produk-produk mereka di sudut lapakan Semacam Zine Fest. Oleh karena itu, semua pengisinya acara di Semacam Zine Fest adalah anak-anak komunitas dan arek lokal. Wah, benar-benar hebat ya!

Inti acara dari Semacam Zine Fest ini ialah mengajakmu untuk berani menulis dan mengekspresikan apa saja yang ada di benakmu walaupun itu abstrak sekalipun. “Saya berharap mudah-mudahan acara semacam ini tidak berhenti disini. Karena perubahan gak ada di layar televisi atau di layar monitor, perubahan itu menyangkut sikap perilaku keseharian kita. Nah, salah satu perubahan sikap perilaku itu ketika keluh kesah kita menjadi suatu tulisan dan akhirnya bisa dibaca oleh banyak orang karena ternyata merasa punya konflik yang sama. Disanalah kita bisa memetik pelajaran lebih banyak lagi.” tutup Didi selaku narasumber dan pendiri Pena Hitam di penghujung acara tersebut.

Acara pada malam hari juga dimeriahkan oleh band-band indie yang ikut unjuk gigi. Nah, arek lokal, acaranya inspiratif, kan? Arek lokal jangan mau kalah ya. Ayo mulai bikin zine!
