LokalKarya.id – Arek lokal tentu masih ingat kan tentang Museum Huruf yang baru-baru ini hadir mewarnai dinamika seni dan budaya yang ada di Jember? Termasuk sebagai tempat jujugan baru bagi pecinta wisata peminatan khusus, seperti wisata literasi dan wisata sejarah.
Ternyata, seperti yang dijanjikan pengelolanya saat grand opening beberapa waktu lalu, Museum Huruf akan terus menambah dan memperbaru koleksinya, memang benar adanya. Janji itu diwujudkan saat pada 8 September 2017 yang lalu, Museum Huruf Jember meluncurkan (launching) koleksi aksara Sunda.
Kenapa aksara Sunda?
“Ini dalam rangka untuk mengenalkan budaya Indonesia dari tempat lain kesini. Sehingga terjadi dialog daam bentuk cross culture.”, begitu alasan yang diungkapkan Ade S. Permana selaku Direktur Museum Huruf yang ternyata mengaku sebagai keturunan Sunda ‘pandalungan’ alias Sunda bercampur Jawa dan Madura ala Jember.

Dalam peluncuran yang dilaksanakan di Jalan Bengawan Solo 27 malam itu, juga dihadirkan urang Sunda asli yang dulunya sempat mengenyam pendidikan di salah satu universitas di Jember. Mulyana, berasal dari Bogor merupakan seorang yang concern pada penulisan dan pengembangan aksara Sunda.
“Tidak akan ada budaya, jika bahasa telah punah…”, itulah penuturan Mulyana saat membuka peluncuran sekaligus sekilas mengenalkan tentang aksara Sunda kepada pengunjung yang hadir.
Masih menurut Mulyana, aksara Sunda sebenarnya sudah ada sejak abad ke-14 pada zaman Kerajaan Mataram dan kemudian terlupakan selama ratusan tahun lamanya. Pada tahun 1950-an, bermula di Bandung, diperkenalkanlah aksara Jawa berbasis hanacaraka secara ‘paksa’ di sekolah-sekolah. Itu merupakan penetrasi budaya besar-besaran.

Kenapa tiba-tiba orang Sunda ingin menghidupkan lagi aksara Sunda yang telah lama mati?
Itulah salah satu pertanyaan kritis dari seorang pengunjung yang mengikuti sesi perkenalan aksara Sunda ini. Ternyata, aksara Sunda ngalagena sendiri mulai dihidupkan lagi pada akhir tahun 1999 melalui sarjana-sarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pajajaran. Tujuannya, tidak lebih karena ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat Sunda bahwa Sunda ternyata punya aksara sendiri yang juga merupakan aksara tertua di Jawa.

Sejak saat itu, Bahasa Sunda yang di dalamnya terdapat penulisan aksara Sunda mulai dijadikan muatan lokal di seluruh jenjang pendidikan wajib, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Bahkan, digelar pula lomba penulisan aksara Sunda yang biasa disebut pasanggiri secara rutin. Hingga konferensi internasional Bahasa Sunda di Bandung yang terakhir diadakan pada tahun 2013, dan akan diselenggarakan lagi pada tahun 2023 nanti.
Pengenalan Aksara Sunda Melalui Workshop Penulisan Aksara Sunda
Malam peluncuran yang hanya berlangsung singkat seiring semakin larutnya hari tentu tak bisa langsung menuntaskan rasa penasaran pengunjung yang sekaligus ingin belajar lebih dalam tentang aksara Sunda.
Maka, pada keesokan harinya, yaitu 9 September 2017, dimulai pukul 1 siang, Museum Huruf kembali melakukan pengenalan aksara Sunda melalui workshop penulisan aksara Sunda yang bisa diikuti secara gratis.

Mulyana pun mulai memberikan dan membeberkan aksara Sunda satu persatu menggunakan media kaca dan spidol yang telah beralih fungsi menjadi papan tulis media ajar.
Workshop dimulai dengan belajar menulis aksara Sunda dasar, kemudian dilanjutkan menjadi rarangken atau merangkaikannya menjadi sebuah kata. Karakter aksara Sunda sendiri berbeda dengan aksara Jawa yang lebih melengkung. Aksara Sunda karakternya lebih tajam karena terpengaruh media penulisannya yang dulunya berupa batu dan logam.

Peserta workshop yang sebagian juga hadir di malam peluncuran aksara Sunda cukup antusias mengikuti rangkaian acara ini. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa ataupun pendidik di Jurusan Sejarah, maupun pribadi-pribadi yang concern terhadap pelestarian budaya melalui aksara.
Menggaris bawahi esensi dari pengenalan aksara Sunda ini, sepertinya arek lokal mesti memaknai dalam-dalam apa yang disampaikan Ade S. Permana, sang inisiator Museum Huruf.
“Kalau kita tahu asal mula aksara, kita ga akan berselisih karena asalnya adalah satu. Aksara dari masing-masing daerah sesungguhnya memiliki makna luhur dibalik itu.”
Foto : Nana Warsita
