More
    HomeAlam & WisataFestival Petik Laut, Antara Ungkapan Syukur dan Pelestarian Budaya Masyarakat Pantai Pancer...

    Festival Petik Laut, Antara Ungkapan Syukur dan Pelestarian Budaya Masyarakat Pantai Pancer Puger

    Published on

    spot_img

    LokalKarya.id – Bulan Suro, selalu identik dengan perayaan tradisi turun menurun dari para leluhur yang tradisinya masih berlangsung sampai saat ini di tanah Jawa. Namun tradisi itu tak hanya berhenti di tanah Jawa saja, melainkan juga merambah ke laut Jawa.

    Para leluhur memang sudah paham akan kaitan antara manusia dan alam, bahwa manusia dan alam hidup berdampingan, maka sepantasnyalah ada tindakan saling memberi diantara keduanya. Hal itu tak hanya sekedar kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang sampai saat ini telah menjadi tradisi.

    Puger, daerah yang berada di sisi selatan Jember dan berdampingan dengan segoro kidul, memaksimalkan keberadaan lautan sebagai sumber penghasilan dan penghidupan para warganya. 57% warganya berprofesi sebagai nelayan dan berharap-harap cemas kepada lautan untuk mendapatkan ombak yang tenang. Sampai saat ini, Pantai Pancer masih menjadi sarana untuk mendapatkan keberkahan penghidupan bagi masyarakat Puger.

    Atas keberkahan laut segoro kidul yang telah berjasa bagi penghidupannya, maka para nelayan tak serta merta lupa akan kebaikannya. Mereka selalu rutin mengadakan sedekah bersama-sama kepada lautan. Sedekah laut itu kini lebih dikenal dengan nama petik laut. Petik laut ini selalu disadari oleh warga setempat sebagai acara syukuran para nelayan dengan segala hal yang telah diberikan oleh laut. Adapun nama petik laut, kerap pula disebut larung sesaji, dulunya disebut labuh sesajen.

     

    Percaya atau tidak, larung sesaji ini sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu, yaitu semenjak tahun 1800-an dan dilakukan di pantai selatan, yakni di Pantai Pancer Plawangan Puger Kulon. Konon di Pantai Plawangan inilah bersemayam Punggawa Nyi Roro Kidul, sehingga di daerah itu kerap menelan korban jiwa para nelayan.

    Ujub-ujub atau permohonan doa adat yang dilakukan oleh sesepuh desa, selalu tidak lepas menyebut sosok adi kodrati lainnya yang dipercaya. Mulai dari Nyi Ratu Hemas Roro Kidul, Mbah Sindu Wongso, Mbah Sri Tanjung, Nyi Tleges, Buyut Jirin, serta Mbah Surgi. Nama-nama ini diyakini masyarakat sebagai penunggu atau yang disebut dengan baurekso daerah Puger Kulon.

    Nama Nyi Ratu Hemas Roro Kidul misalnya, dianggap sebagai penguasa laut kidul atau segoro kidul. Adapun Mbah Wongso konon adalah salah seorang punggawa Pangeran Puger yang bertapa di Pulau Nusa Barong, sekitar 2 km dari Pantai Puger. Sedangkan Mbah Sri Tanjung, tak banyak yang tahu tentangnya. Orang-orang hanya dapat menyebutkan bahwa makamnya terletak di lereng Gunung Watangan.

    Sementara nama Nyi Tleges diyakini sebagai salah satu nama punggawa Nyi Roro Kidul yang memang bertugas menjaga plawangan di Pancer, tempat bertemunya Sungai Bedadung dan Sungai Besini. Para nelayan menganggap kawasan Plawangan ini sebagai daerah yang angker, sebab banyak merenggut nyawa nelayan Pugerkulon.

    Nama lain yang disebut dalam upacara tersebut adalah Buyut Jirin dan Mbah Surgi. Menurut kepercayaan masyarakat Puger Kulon, Buyut Jirin itu seorang dukun sakti yang tetap dipercaya sampai saat ini. Sedangkan sosok Mbah Surgi diyakini tak berbeda seperti Mbah Wongso, yaitu dipandang sebagai salah satu punggawa Pangeran puger.

    Bermula dari keyakinan-keyakinan seperti itulah, tradisi petik laut di Puger Kulon dari waktu ke waktu terus hidup dan selalu dilangsungkan setiap tahun. Kesadaran akan adanya mahluk lain yang memiliki kekuatan yang luar biasa, serta kuatnya keinginan untuk memperoleh keselamatan hidup telah menjadi pilar utama yang membuat tradisi petik laut terus dilangsungkan.

    Pada tahun 1894, Singo Truno seorang lurah di Puger yang juga merupakan nelayan yang paling sukses di masanya, merasa perlu mengadakan sebuah acara atau kegiatan bersama yang bisa menolong kehidupan mereka selama melaut. Keinginan itu sesungguhnya didorong oleh suatu peristiwa keganasan ombak yang pernah menimpa para nelayan di laut, termasuk dirinya sendiri.

    Suatu ketika di tengah laut, saat mereka berlayar tiba-tiba mereka terkena hempasan ombak. Mereka merasa bahwa ada unsur gaib yang menyelimuti peristiwa itu. Laut seakan-akan tidak lagi semata-mata sebagai tempat mencari penghasilan, melainkan ada kekuatan lain yang tak tertandingi di lautan. Mereka berpikir bahwa sang ‘penguasa’ laut sedang marah terkait dengan tidak benarnya cara mereka memperlakukan laut dan ikan-ikannya.

    Beberapa hari kemudian, ada dampak yang pengaruhnya sangat terasa. Mereka menyadari bahwa hasil tangkapan mereka semakin hari semakin berkurang. Akibatnya pemasukan ekonomi semakin menyusut.

    Akhirnya mereka menggelar acara syukuran atau selametan. Acaranya yaitu ngaji bersama yang dihadiri oleh seluruh nelayan dan keluarganya tepat di pinggir laut. Selametan yang digelar secara sederhana itu juga sudah menerapkan unsur-unsur ritual keagamaan dan adat lokal dari para leluhur.

    Sampai saat ini, tradisi itu masih terus berlangsung. Tentunya tradisi itu tak hanya sekedar acara selametan dan larung sesaji saja, melainkan sudah ditambahi dengan pernak-pernik kegiatan menarik yang melibatkan seluruh warga Puger Kulon. Mereka menyelenggarakan Festival Petik Laut yang diselenggarakan secara besar-besaran.

    Festival Petik Laut tahun 2017 ini,  memiliki serangkaian acara yang digelar semenjak tanggal 1 Oktober sampai 5 hari ke depan. Acara festival petik laut dibuka dengan kegiatan fun bike, lalu dilanjut dengan acara senam massal lansia. Acara selametan kini ditambahi dengan khotmil quran dan tahlil akbar yang dilakukan di sepanjang jalan depan pemakaman umum.

     

    Selain itu digelar pula kirab budaya yang diikuti oleh 1500 peserta dari usia PAUD sampai lansia. Pada saat kirab budaya petik laut, miniatur perahu atau miniatur rumah-rumahan diarak keliling kampung. Di dalamnya terdapat ragam sesaji, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, beras jagung, dan juga kepala kerbau. Rencananya, kepala kerbau dan ragam buah sayuran yang dikenal dengan sebutan polo pendem itu akan dilarungkan ke laut.

    Pada malam harinya, masyarakat beramai-ramai datang ke jalanan depan kantor desa untuk menyaksikan hiburan desa, yaitu pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit malam itu didalangi oleh Dirjo Bawono.

    5 Oktober 2017 menjadi titik puncak perayaan festival petik laut, karena pada pagi itulah sesaji dilarungkan ke laut oleh para nelayan dan perangkat desa. Dari kantor desa, sesaji diarak oleh warga secara beramai-ramai menuju dermaga pelabuhan Pantai Pancer. Di sana, sudah bertengger seribu kapal nelayan yang sengaja tak melaut hari itu, demi perayaan petik laut.

    Sesepuh bersama kepala desa dan perangkatnya, menaiki sampan milik nelayan dan berlayar ke tengah laut. Para warga menyaksikan kegiatan petik laut dari kejauhan, yaitu dari pesisir Pantai Pancer yang biasa menjadi jujugan wisata. Masyarakat antusias sekali menyaksikan petik laut, padahal sesaji yang dilarungkan terlihat sangat kecil karena lokasinya cukup jauh, yaitu di tengah lautan. Namun masyarakat tetap merasa senang dan bahagia dapat menyaksikan petik laut, utamanya karena terletup rasa syukur kepada lautan yang menjadi sarana baginya untuk berpenghasilan. Mereka selalu menanti-nanti perayaan festival petik laut pada tahun berikutnya. Arek lokal juga ingin datang ke Festival Petik Laut juga, kan? Jangan lewatkan tahun depan ya.

    Latest articles

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...

    5 Alasan Kamu Harus Nonton Film Dilan 1990

    LokalKarya.id - "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Nggak asing...

    More like this

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...