LokalKarya.id – “Di Jember emangnya ada apa? Ceritain ke kita, biar kitanya tertarik pergi kesana…” Hm, pernah ga kamu dapat jawaban makjleb semacam itu saat sedang mencoba ngomporin orang lain untuk datang ke kota tercinta ini?
Bagi yang pernah, rasanya benar-benar seperti ‘tamparan’ sekaligus tantangan untuk lebih mengenal Jember yang dijuluki kota tembakau ini. Biar kata Jember Fashion Carnaval sudah mendunia, nyatanya Jember bukan hanya perhelatan JFC, kan? Masih banyak potensi Jember yang ternyata memang belum banyak diketahui masyarakat. Jangankan masyarakat luar Jember, kadang warga lokal Jember sendiri pun kurang ngeh harus cerita apalagi tentang Jember selain JFC dan keindahan Watu Ulo misalnya.
Untuk lebih mendekatkan warga lokal dengan destinasi wisata pilihan, Dinas Pariwsata Jember berinisiatif mengajak para warga net (netizen) yang aktif ‘bersuara’ dan memberikan social influence kepada followers nya untuk ber fam trip ria. Fam trip perdana ini selain diikuti para duta wisata seperti Paguyuban Gus Ning dan Duta Batik Jember, juga diikuti para admin media sosial publik di Jember. Sebut saja para admin akun ke-Jember-an yang tergabung di Location (Local Creative Online), Info Warga Jember, Youtube Creator Jember, Blogger Jember Sueger, Masyarakat Film Jember, dan Jember Drone Community.
Dibuka di pelataran Kantor Dinas Pariwisata Jember pada Rabu (15/11) oleh Ir. Satuki, MSi selaku perwakilan Kepala Dinas Pariwisata Jember, sekitar 60 an orang pegiat media sosial dan duta wisata Jember pun terlihat sumringah. “Jember ini nomor 1 untuk potensi wisatanya. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita mengemas potensi-potensi ini agar tidak berhenti pada potensinya saja”, ungkap bapak yang pagi itu terlihat segar dengan baju putihnya.

Ditemani bus pariwisata eksklusif berwarna hitam dengan aksen merah, dan dua hi est yang mirip mobil travel, rombongan pun siap nge-trip menuju lima destinasi wisata yang sudah disiapkan di hari pertama ini. Sekali-kali jadi turis di kota sendiri lah ya, kalau bukan warga Jember yang memperkenalkan kotanya, lalu siapa lagi?

Destinasi Pertama : Museum Tembakau Jember
Hayo, arek lokal sudah tahu belum kalau Jember punya yang namanya Museum Tembakau? Kalau UPT Pengujian Sertifikat Mutu Barang (PSMB) Lembaga Tembakau tahu ga? Itu loh, kalau arek lokal sedang melewati Jalan Kalimantan No.1, jangan lupa untuk berkendara pelan, dan tengoklah sebentar ke sebuah gedung serupa kantor.


Di bagian belakang kantor persis, terdapat sebuah museum yang mengulas segala pernak pernik tembakau sebagai komoditas andalan kota Jember. Serunya, sebelum benar-benar masuk ke museumnya, rombongan fam trip pegiat media sosial disambut dengan atraksi khas Jember, yaitu can macanan kadduk. Semacam tarian dari replika macan yang dibuat dari tali rafia dengan iringan musik tradisional yang kental dengan adat Madura.

Tak lama, kami semua dikumpulkan di sebuah ruangan untuk mendengarkan welcome speech dari Pak Sunito selaku Duta Pameran di Museum Tembakau. “Saya pulang jam 1 demi mempersiapkan penyambutan temen-temen hari ini”, ungkapnya antusias.

Dalam welcome speech nya, bapak yang sangat bersemangat menjelaskan tentang Museum Tembakau ini bercerita bahwa inisiator dari berdirinya museum ini adalah Bu Desak yang mantan Kepala UPT PSMB Lembaga Tembakau yang baru saja berpindah tugas menuju Surabaya. Goals nya adalah ingin menyampaikan sisi lain dari tembakau yang selama ini identik hanya untuk penggunaan bahan baku rokok semata. Nah, di museum ini, arek lokal bisa melihat secara lengkap apa saja fungsi pengolahan dari tembakau selain untuk industri rokok atau kretek.
Setelah mendengarkan sekilas tentang Museum Tembakau, kami disambut lagi oleh Tari Lahbako yang dibawakan penari=penari luwes nan cantik. Tarian ini bercerita tentang kehidupan para petani tembakau di Jember, dari proses menanam hingga memanen.

Belum selesai sampai disana ternyata, kami semua ditodong untuk menari bersama-sama dengan para penari itu dalam satu tarian unik bertajuk Tari Pandhalungan Jember. Tarian ini memang menggambarkan perpaduan budaya Jember yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Madura, wajar jika bentuk tarian dan musiknya ada lembut dan ada nuansa rancaknya. Wah, semuanya langsung malu-malu ikut bergoyang. Suasana pun menjadi ceria.

Setelah lumayan menggerakkan tubuh, barulah rombongan menuju Museum Tembakau dengan desain yang apik serta berbau vintage ini. Arek lokal akan menemukan berbagai informasi mengenai tembakau dengan berbagai jenisnya yang akan diceritakan secara runtut oleh guide. Selain untuk bahan baku rokok, disini arek lokal juga akan melihat produk olahan lain dari tembakau seperti parfum, bio diesel, pestisida, pupuk organik, dan minyak atsiri. Namun, memang olahan produk ini belum dipasarkan secara luas.

O iya, selain ke museum, arek lokal juga bisa menuju ke perpustakaannya di lantai 2. Perpustakaan ini akan memberikan banyak referensi pertembakauan. Dan, dijamin, arek lokal bakal betah. Selain aroma ‘daun emas’ yang khas, desainnya juga sangat menggoda untuk dijadikan photo spot yang layak diunggah ke media sosial. Jadi, jangan lupa buat mampir dan ajak teman-temanmu kesini ya. Jam bukanya sementara masih Senin-Jumat di jam kerja, dan Sabtu Minggu masih belum beroprasi karena keterbatasan tenaga. Untuk tiketnya, gratis!

Destinasi Kedua : Factory Visit ke BIN Cigar Jember
Namanya juga kota tembakau yang terkenal sebagai eksportir terbaik dunia, wajarlah kalau tujuan kali ini, sengaja mengeksplorasi potensi tembakau yang tak banyak diketahui masyarakat awam. Padahal, logo kota Jember sendiri juga berunsur daun tembakau loh.
Nah, rombongan pun diajak untuk mengetahui bukti konkrit dari eksistensi industri tembakau di Jember, kali ini khusus untuk produksi cerutu.
Terletak di Jl.Brawijaya No.3, Jubung, Sukorambi, BIN (Boss Image Nusantara) Cigar yang memiliki showroom atau product store sekaligus area produksinya ini langsung menyambut kami. Sebelum berkeliling melihat prosesnya, kami dipersilahkan untuk menonton film dokumenter tentang proses pembuatan cerutu handmade yang dikembangkan BIN Cigar ini.

Mengamati filmnya, kami jadi punya gambaran tentang prosesnya. Mulai dari penanaman tembakau khusus, panen, pengeringan, rompos (menurunkan tembakau yang telah kering), saring rompos, fermentasi, penghangatan dan dilakukan proses quality control, hingga penyimpanan dan terakhir, proses packing.

Hm, rupanya prosesnya lumayan panjang dan benar-benar menjaga kualitas ya, tak heran kalau akhirnya cerutu yang diproduksi di BIN Cigar dengan berbagai merk ini memiliki harga yang tak bisa dibilang murah. Sesuai dengan kualitasnya. Untuk penjualannya, BIN CIgar juga melakukan kerjasama dengan berbagai hotel bintang lima yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Bali, Semarang, dan Kendari. Juga diekspor ke Turki dan Cina, serta menjalin kerjasama dengan para travel agent.
Begitu melongok keluar ruangan tempat kami disuguhi proses pembuatan cerutu handmade lewat film, kini saatnya melihat sosok nyatanya. Terlihat puluhan pekerja perempuan dengan seragam batik warna warninya sedang asik merapikan si daun emas, memilin, menggunting, pressing, dan sebagainya. Kenapa perempuan? Saat Lokal Karya iseng menanyakan hal itu ke salah satu pekerja, “Ya mungkin karena telaten mbak, kan ini harus rapi. Kalo laki-laki kurang bisa.”, ungkapnya polos.

Tak lengkap rasanya kalau arek lokal tak mampir ke showroom atau product store nya. Selain berbagai merk cerutu yang sudah dikemas secara eksklusif, arek lokal juga bisa menemukan berbagai oleh-oleh khas Jember yang semuanya produksi lokal. Mulai dari kopi, coklat, sale pisang, edamame, dan sebagainya. Harganya juga relatif murah.

Puas berkeliling, ternyata tak terasa rombngan haru segera move ke destinasi berikutnya. Buat arek lokal yang juga ingin berkunjung ke BIN Cigar, bisa berkunjung dulu ke official website nya dan menanyakan pada kontak yang tertera disana ya, www.bincigar.com

Destinasi Ketiga : Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (ICCRI) Jember
Waktu sudah menunjukkan hari yang beranjak siang dan seperti biasa, Jember menjelang siang akhir-akhir ini sudah mendung saja. Tapi, itu tak menyurutkan langkah kami untuk menuju destinasi berikutnya.
Tempat yang berada bersebelahan dengan Kebun Renteng ini, biasanya disingkat dengan nama Puslitkoka dalam Bahasa Indonesia atau ICCRI dalam Bahasa Inggris yaitu kepanjangan dari Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute. Keberadaannya tepat di Desa Nogosari, rambipuji, Jember atau buka saja petunjuk google maps nya disini.

Memasuki kebun percobaan sekaligus areal kantor seluas 380 ha ini, udaranya sangat sejuk dan mata juga seketika jadi fresh karena lingkungannya yang asri. Belum lagi air mancur beserta logo yang besar banget di tengah-tengah area pelataran depan.
Memang sih pas masuk ke pelataran depan, arek lokal tak akan menemukan langsung kebun percobaan kopi arabika (KP. Andungsari di ketinggian 100-1.200 mdpl), kopi robusta dan kakao (KP. Kaliwining dan KP. Sumberasin di ketinggian 45-550 mdpl). Karena untuk melihat itu semua, arek lokal perlu berkeliling ke area, yang saat ini sudah difasilitasi dengan menggunakan kereta kayu yang unik. Biayanya cukup 10 ribu rupiah saja per orang.

Nantinya, arek lokal akan melewati area perkebunan kopi dan kakao yang akan dijelaskan guide, melewati pula area konservasi rusa, kolam mini dan permainan outdoor untuk anak-anak, dan akan melihat proses pengolahan kopi dan kakao dari hulu ke hilir yang bisa disaksikan dari jendela luarnya. Yap, karena semua prosesnya sangat steril.

Setelah puas berkeliling, arek lokal akan kembali ke pelataran depan, dan bisa mampir ke Pusat Informasi yang menyajikan informasi mengenai Puslitkoka sebagai Pusat Pengembangan Inovasi dan inkubator Bisnis Berbasis Teknologi Kopi dan Kakao. O iya, for your information nih, kakao di Jember adalah penghasil kakao terbaik di Indonesia, dan satu-satunya lembaga risetnya ya di Jember ini. Tak heran, Puslitkoka jadi rujukan banyak orang yang ingin belajar atau meneliti lebih lanjut.
Dan, karena sejak 2016 yang lalu Puslitkoka diresmikan sebagai CCSTP (Coffee and Cocoa Science Techno Park), tak heran kini Puslitkoka berkembang sebagai tujuan edu wisata yang worth it buat dikunjungi. Jangan sampai melewatkan pula berkunjung ke cafenya atau outlet kopi dan kakaonya ya, selain bisa mencicipi olahan kopi dan coklat langsung dari area yang terintegrasi dengan kebunnya, arek lokal juga bisa memborong produknya sebagai stok cemilan atau oleh-oleh.

Gerimis masih saja mengiringi langkah kami, peserta fam trip yang siang itu masih ingin terus mengeksplorasi destinasi wisata Jember yang lain lagi. The show must go on, rombongan pun beranjak meninggalkan Puslitkoka menjelang ashar yang baru saja berkumandang.
Kalau makan siang tadi kami lakukan di dalam bus dengan menu kemasan lunch box, kabarnya makan malam kami akan dilakukan di Pantai Papuma, seperti apa? Baca kisah lanjutannya disini ya arek lokal.
