LokalKarya.id – Mendirikan koperasi untuk memberdayakan para petani kopi di pedesaan tidak mudah. Tapi, Suwarno bisa menyakinkan masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo dengan mendirikan koperasi bagi petani kopi di desanya.
Suwarno langsung menceritakan Koperasi Ketakasi yang didirikannya sempat diragukan masyarakat Desa Sidomulyo. Sebab, pada 1980, pernah berdiri koperasi, tetapi tidak berjualan sesuai harapan. Sehingga, masyarakat menjadi trauma untuk mendirikan kembali koperasi.
“Masyarakat khawatir koperasi yang akan didirikan tidak berjalan lagi seperti koperasi yang pernah didirikan sebelumnya,” kata Suwarno mengalami ceritanya.

Kendala lain, Desa Sidomulyo sudah didirikan kelompok tani untuk menjembatani masyarakat, agar semakin mudah melakukan aktivitasnya. Karena, jika dilakukan perseorangan, akan berjalan sendirian. Namun, menurut Suwarno, kelompok tani tersebut juga tidak efektif, karena terkendala di modal.
Akhirnya, setelah ada kerjasama dengan Universitas Jember (UNEJ), akhirnya Suwarno bisa meyakinkan masyarakat Desa Sidomulyo untuk kemnali mendirikan koperasi yang dia namakan Koperasi Ketakasi.
“Masyarakat kami terangkan manfaat koperasi. Dan, akhirnya kami menciba mendirikan koperasi lagi,” kata bapak beranak dua anak tersebut.

Setelah diterima dan ada kesepakatan dengan masyarakat, keinginan Suwarno mendirikan Koperasi Ketakasi terwujud pada 2007. Koperasi Ketakasi ini seangkatan dari Koperasi Kelompok Tani Kopi Sidomulyo, yang kemudian berubah menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Buah Ketakasi.
“Jadi ada nama buah sebelum ketakasi tersebut,” jelasnya.
Masyarakat pun mulai merasakan manfaat dari berdirinya koperasi ketakasi. Selain bisa meminjam modal, koperasi juga menyediakan pupuk maupun pembayaran listrik. Bahkan, masyarakat Desa Sidomulyo yang mayoritas petani kopi mulai mengubah kebiasaannya. Ketika panen kopi menjual secara mentah ke pihak lain, sehingga harga murah, kini memilih diolah dulu menjadi bubuk kopi, karena harganya lebih tinggi. Dan, dalam perkembangannya, koperasi terus berkembang dan sejak 2010, koperasi mencoba memproduksi sendiri. Hasilnya, mereka menciptakan kopi bungkusan yang diberi nama Kopi Ketakasi.
“Jadi kalau sudah dijadikan bubuk, saingannya banyak dan harganya lebih mahal,” tambahnya.

Meskipun sudah bisa menghasilkan kopi bubuk, namun sampai sekarang masih terkendala di pemasaran. Sebab, dibutuhkan dana dan tenaga lebih banyak.
“Sementara ini, pemasaran kami masih sebatas kerjasama, ketika ada pameran, atau pemesanan seperti souvenir,” terang Suwarno.
Karena itu meski berhasil membuat koperasi bubuk dalam kemasan, namun belum membuat puas Suwarno. Sebab, dia masih memiliki keinginan lebih besar untuk menciptakan kopi dalam kemasan yang bisa tersebar diberbagai daerah.
“Kami masih memiliki keinginan, agar kopi Sidomulyo menjadi sentra kopi di Jawa Timur, terutama di Jember,” imbuhnya.

Dari jerih mendirikan koperasi Ketaksi untuk memberdayakan masyarakat Desa Sidomulyo, ini telah mengantarkan Suwarno mendapat berbagai penghargaan dari pemerintah. Diantaranya, penghargaan dari Usaha Mikro Kecil dan menengah (UMKM) Jawa Timur dan penghargaan dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia di Jember.
Sumber: jemberonline.com
Image source: minumkopi.com
