LokalKarya.id – Upaya Puguh PS pendiri merek dagang Le Ollena Menjadi Oleh-Oleh Khas Probolinggo Memakai Tenaga Kerja Lokal, Belajar Dari UMKM Kanada.
Puguh PS, pendiri Le Ollena menerima wawancara di ruang kerjanya yang didominasi warna putih. Melalui ruang sempit inilah Puguh merancang sistem terpadu dari hulu ke hilir untuk menggerakkan bisnisnya. Memikirkan beragam strategi penjualan dan mengatur lalu lintas barang yang berjalan padat.
Menurut Puguh, nama Le Ollena, berasal dari bahasa Madura yang berarti oleh-olehnya. Bagi masyarakat yang awam bahasa Madura, nama ini lebih terasa seperti bahasa Perancis. Jadi, kami mengambil nama Le Ollena dengan harapan, merek kami mudah diingat dan terkesan di hati konsumen. Le Ollena yang berdiri pada 16 April 2006 ini menggandeng sejumlah pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) sejenis sebagai mitra kerja.
“Kami mengumpulkan beberapa produk serupa dari UMKM lain, untuk kemudian kami jual di bawah merek dagang Le Ollena. Ada sekitar 50 UMKM yang menjadi mitra kerja kami. Beberapa memproduksi keripik singkong, keripik talas dan produk olahan ikan,” tuturnya.

Menggunakan sistem bergilir, ke-50 mitra kerja Le Ollena akan mendapat kesempatan yang sama untuk pemasaran produknya.
“Sekarang kami ambil dari sini, lalu berikutnya dari UMKM yang lain,” jelasnya. Dengan melibatkan pengusaha lain, Puguh berharap semakin banyak sumber daya lokal yang terberdayakan.
Menyasar segmen menengah ke atas, produk Le Ollena dibanderol dengan harga di atas harga pasar.
“Sejak awal, kami memposisikan harga Le Ollena lebih mahal dibanding harga produk sejenis. Kami percaya bahwa konsumen berani membayar mahal untuk produk bermutu tinggi. Untuk itu kami mengimbanginya dengan pengemasan produk yang menarik, dan rasa yang terjaga kualitasnya. Sesuai dengan slogan kami, bicara kelas, bicara kualitas,” jelasnya.
Puguh yang fasih berbicara bahasa Inggris ini mengaku belajar dari beberapa UMKM dari negara lain.
“Saya banyak belajar mengenai sistem pasar dan saluran distribusi dari industri kecil di Kanada,” ungkapnya.

Ia juga meminta contoh desain kemasan dari mereka. Kemasan mereka sederhana, tapi menarik. Kadang kemasan tersebut berbeda, menyesuaikan perayaan hari raya. Dipasarkan dengan sistem konsinyasi, produk dikirimkan secara merata ke 600 outlet yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Termasuk di wilayah Mataraman seperti Jombang, Nganjuk dan Madiun.
“Untuk menjaga stok produk di wilayah barat, kami sudah memiliki perwakilan Le Ollena di daerah Kertosono. Di sana kami menempatkan tenaga pemasaran asli Probolinggo,” ujarnya.
Dengan begitu Puguh berharap misinya menjadikan Le Ollena sebagai oleh-oleh khas kota ini akan terwujud. Usaha lain yang rutin dilakukan adalah mengikuti berbagai pameran UMKM di seluruh Indonesia. Salah satunya pameran Produk Penunjang Pariwisata yang diadakan Dinas Pariwisata di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) pada tahun 2008. Dalam kegiatan ini, Puguh membagikan brosur yang berisi rincian produk Le Ollena dan contoh produk yang bisa dicicipi langsung.

Le Ollena memiliki 280 item produk dengan 36 item yang diproduksi rutin. Sisanya diproduksi mengikuti musim ketersediaan bahan baku. Di antara item yang diproduksi musiman seperti dodol mangga, manisan mangga dan manisan kulit mangga. Sedangkan item yang diproduksi rutin adalah keripik tulang ikan, kerupuk rajungan dan kerupuk non kolesterol.
“Penjualan kami mencapai Rp 60 juta per bulan itu di saat pasar sedang sepi dan dimasa liburan bisa mencapai Rp 100 juta per bulan,” ungkapnya.
Sebagian dari hasil penjualan dia gunakan untuk membiayai usaha kecil kelompok masyarakat binaannya.
Sumber: onenews.id
