LokalKarya.id – Festival Dandang Sewu, sesuai dengan namanya festival ini masih berhubungan dengan salah satu perkakas dapur yaitu dandang. Beberapa diantaranya, orang mengenal dandang dengan sebutan langseng; perkakas dapur untuk membantu menanak nasi (mengukus nasi setengah matang/nasi tim/nasi aron) yang pada umumnya saat ini terbuat dari bahan alumunium dan stainless steel.
Meskipun ini merupakan salah satu agenda baru dalam B-fest (Banyuwangi Festival) dalam penyelengaraannya, mendapat antusias yang baik dari masyarakat. Terbukti dengan hadirnya ribuan warna yang datang dan memenuhi area diselenggarakannya Festival Dandang Sewu (Festival Seribu Dandang).
Festival ini merupakan bentuk program dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam rangka mempromosikan potensi warga pengrajin perkakas dapur di daerah tersebut. Ya, tidak hanya dandang tetapi perkakas dapur yang beragam.
Event ini diselenggarakan di salah satu wilayah bagian dari Kabupaten Banyuwangi yang letaknya di ujung, perbatasan antara kabupatan Banyuwangi dan Jember. Sudah bisa menerka? Bagi arek lokal yang sering melewati jalur Jember-Banyuwangi pasti sudah paham dengan wilayah yang dimaksud. Dimana pada salah satu ruas jalan, arek lokal akan menemui penjual kerajinan perkakas dapur di kanan-kiri jalan raya.

Tepat, Kota Kalibaru. Kini Kalibaru mempunyai satu event yang merupakan bagian dari agenda tahunan B-fest. Harapannya, sentra kerajinan alat masak berbahan dasar aluminium dan stainless steel ini lebih berkembang dan mendapatkan pasar yang lebih luas dan dapat menjadi sentra percontohan desa yang mandiri dan berdaya.
Tidak dipungkiri, keanekaragaman perkakas yang dihasilkan oleh para pengrajin di Kalibaru ini membuktikan juga lamanya mereka menggeluti bidang tersebut. Perkakas dapur yang berbahan alumunium dan stainless steel semua ada. Dandang, oven kue, tudung saji, wajan, panci, cetakan kue, sutil, dan banyak lainnya.
Sentra kerajinan alat dapur ini ada sekitar tahun 1970-an. Seiring perjalanan waktu mengubah perilaku warga secara turun-temurun. Orangtua pengrajin rata-rata memiliki keturunan yang kini juga menekuni bidang ini. Hampir seluruh warganya menjadi pengrajin peralatan dapur dan tak sengaja membentuk suatu pola komunitas warga. Dimana dapat ditemui para penjual perkakas dapur ini di kanan-kiri jalan hingga seperti sekarang ini.
Konon, pada mulanya di daerah ini (Kampung Sayangan) hanya ada 2 pengrajin, tetapi hingga saat ini beranak-pinak menjadi sekitar 4 pengrajin, luar biasa. Pertumbuhan ekonomi dan sumber daya inilah yang sekiranya mendorong terciptanya festival seribu dandang.
Pada perayaan festival seribu dandang, view yang menarik dapat kita dapatkan. Aneka ragam perkakas dapur yang dihasilkan oleh para pengrajin ditampilkan berderet-deret. Lengkap dengan pesona view pegunungan indah wilayah sekitar.

Suksesnya penyelenggaraan festival perdana Dandang Sewu pada 4 Agustus 2017 lalu di Dusun Tegal Pakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, memberi semangat baru kepada para pengrajin setempat untuk bersama-sama mengangkat potensi desa sekaligus sebagai salah satu sumber mata pencaharian warga.
Nah, menghadiri acara event ini tidak perlu takut bosan atau khawatir hanya bisa melihat perkakas dapur yang dipamerkan saja, akan tetapi acara ini diikuti dengan serangkaian acara lainnya yang menjadikannya menarik dan didatangi oleh banyak warga maupun wisatawan. Uniknya, acara ini dipusatkan di tengah persawahan.
Misal saja, pada penyelenggaraan Festival Dandang Sewu untuk pertama kalinya saat itu, pengunjung dapat menikmati beragam acara. Kesenian jaranan yang dibawakan oleh 500 pelajar, lomba mewarnai siswa TK, spesial juga seni tari kreasi dandang.
Luar biasa, event ini tercipta berangkat dari fenomena lingkungan dan masyarakat yang dimiliki. Nah, kira-kira arek lokal punya ide juga nggak tentang festival baru yang bisa diangkat dari kearifan lokal yang sudah ada?
