More
    HomeKomunitasKomunitas Rumah Budaya Pendalungan, Upaya Pengenalan Identitas Budaya Jember Sebagai Akulturasi Budaya...

    Komunitas Rumah Budaya Pendalungan, Upaya Pengenalan Identitas Budaya Jember Sebagai Akulturasi Budaya Jawa dan Madura

    Published on

    spot_img

    LokalKarya.idArek lokal pasti tahu ya ketika berbicara mengenai kota Jember, sebenarnya erat kaitannya dengan istilah Pendalungan atau Pandhalungan. Apakah itu? Menurut Wikipedia, pendalungan adalah istilah untuk menyebut kebudayaan hasil asimilasi antara budaya Jawa dan Madura. Asimilasi ini membentuk suatu komunitas yang tersebar di pesisir Pantai Utara Jawa Timur (sebagian Tuban, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Situbondo) dan sebagian Pesisir Selatan Jawa Timur bagian timur (Lumajang, Jember, dan sebagian Banyuwangi).

    Jember merupakan ruang geo kultural yang mempertemukan dan mendialogkan bermacam komunitas dan budayanya, tetapi proses tersebut tidak serta merta menjadikan istilah pendalungan sebagai paham kebenaran yang sudah melekat (mempengaruhi) dan diakui oleh mayoritas warga.

    Menurut Djoko Supriatno, sedikit sekali dari masyarakat awam maupun anak muda zaman now yang menyebutkan bahwa dalam masyarakat Jember terdapat sebuah budaya hasil percampuran ragam-etnis. Artinya, istilah-istilah pendalungan masih belum menjadi istilah yang populer. Atau bisa dikatakan tidak semua masyarakat Jember mengetahui, memahami, maupun mengakui pendalungan sebagai sebuah identitas kultural. Memang butuh proses dan waktu yang lama dalam perjalanannya membentuk serta mengenalkan budaya pendalungan.

    Definisi pendalungan mulai bersemi pada awal 2000-an. Paling tidak, terdapat dua pendapat umum terkait istilah pendalungan, yakni proses kultural yang terjadi di wilayah “Tapal Kuda” dan secara khusus terjadi di Jember. Bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa pendalungan merupakan percampuran budaya antara Jawa dan Madura.

    Sebagai upaya pengenalan identitas budaya Jember, lahirlah dukungan para pelaku kultural yang diwadahi dalam komunitas Rumah Budaya Pendalungan. Masyarakat di kabupaten Jember, sekarang ini patut bersyukur dengan berdirinya Rumah Budaya sebagai wujud dari aplikasi atas perpaduan budaya Jawa Mataraman dengan budaya Jawa yang sering disebut dengan pendalungan.

    Nama yang berakar dari asal usul budaya yang disebut pendalungan ini dinilai bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar yang secara khusus datang ke Jember. Bisa dikatakan, istilah ini juga bisa menjadi ikon wisata bagi Jember. Hal ini juga mendorong adanya produk kerajinan atau kuliner dengan nama pendalungan. Seorang pengrajin di Balung misalnya, menciptakan tas berbahan kulit buah maja yang tidak dimanfaatkan oleh warga yang dinamai dengan tas maja pendalungan dengan harapan akan menjadi oleh-oleh khas.

    Rumah Budaya Pendalungan yang secara resmi launching pada Senin, 2 Mei 2016 di Warung Kembang, Desa Pancakarya oleh Wakil Bupati Jember KH. Muchit Arif merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari kumpulan para pelaku seni dan budaya dan di Jember yang memiliki visi dan perjuangan yang sama dalam sisi seni budaya.

    Dicetuskan oleh Djoko Supriyatno, Dandik, dan Enis serta dukungan dari para pelaku seni dan budaya lainnya dengan pembagian beberapa rumpun, diantaranya ada rumpun Rumah Budaya, rumpun Litbang, Syiar Media, Kriya Wisata dan Kerajinan, serta kuliner. Visi komunitas pendalungan ini ialah mengembangkan seni budaya, wisata, dan kuliner. Sedangkan misinya ialah komitmen, kreativitas, dan komunitas yang bertempat di Warung Kembang, Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung.

    Menurut Djoko Supriatno, hal ini bertujuan sebagai wadah pengembangan potensi dan aset budaya, untuk para pecinta seni, pendidikan seni budaya, ruang pada karya seni, mengangkat bakat yang terpendam serta memberikan informasi.

    Wakil Bupati Jember sendiri mengaku sangat bersyukur dengan adanya Rumah Budaya Pendalungan yang sekaligus dapat menjadi wadah informasi akulturasi budaya Jawa dan Madura sebagai sebuah perpaduan yang harmonis. Mengingat juga, banyak nilai-nilai positif di dalamnya, seperti meningkatkan upayan ketahanan terhadap masuknya budaya asing yang tidak sesuai norma dan kaidah bangsa Indonesia.

    Sedangkan Dandik selaku pengelola Rumah Budaya Pendalungan menuturkan bahwa keberadaan Warung Kembang dan Rumah Budaya Pendalungan ini sebenarnya berangkat dari upaya untuk menjadi rumah seni dengan mementaskan beragam seni pendalungan secara terjadwal agar tidak punah. “Disini nanti, secara reguler akan menampilkan beragam seni budaya pendalungan mulai dari janger, ludruk, wayang kulit, ataupun seni tradisional lain seperti musik patrol dan seni tari.”, ungkapnya.

    Bahkan pihaknya juga memberikan kesempatan kepada semua pelajar ataupun masyarakat untuk belajar tentang seni tari, lukis, dan seni lainnya secara terjadwal dan terbuka termasuk sebagai wahana wisata budaya.

    Lantas apa hubungannya Warung Kembang dengan Rumah Budaya Pendalungan (RBP)?

    Djoko Supriatno menambahkan lagi bahwa Warung Kembang berkontribusi terhadap RBP karena mewakafkan tanahnya sebagai tempat untuk pergerakan Komunitas RBP. Sehingga Warung Kembang bisa dikatakan sebagai bagian dari RBP namun beda dari segi fungsionalnya, karena Warung Kembang merupakan sebuah usaha di bidang kuliner. Selain itu, di RBP, tidak hanya terdiri dari seniman murni saja, tapi juga ada dosen, wartawan, kepala sekolah, owner rumah makan, dan beragam latar profesi lainnya. “Disinilah kami saling bahu membahu untuk melestarikan seni”, tambah Dandik lagi.

    Nah, itu artinya kesempatan terbuka lebar bagi semua pihak yang ingin menjadi bagian dari Rumah Budaya Pendalungan serta mempertahankan eksistensi seni budaya yaitu memperkenalkan budaya pendalungan lebih luas lagi. Ke depan, Djoko Supriatno berharap bisa mengangkat kembali budaya yang selama ini seakan terpendam dan dapat menjadikannya identitas yang kuat bagi Jember. Sehingga ke depan, penerimaan masyarakat makin masif dan juga bsia berkolaborasi dengan pemerintah daerah.

    Masih ingat dengan pepatah “Tak kenal, maka tak sayang” ? Bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikannya jika kita tidak mengenalnya. Sudah saatnya kita ubah kalimatnya menjadi, “Tak kenal, maka kenalan”.

    Yuk arek lokal, kita bersama-sama melestarikan budaya daerah Jember pendalungan dengan mengenalnya lebih dekat. Main-main dan berkunjunglah ke Rumah Budaya Pendalungan sekaligus mengunjungi Warung kembang yang juga termasuk salah satu tujuan destinasi wisata Jember ini. Salam Budaya !

    Latest articles

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...

    5 Alasan Kamu Harus Nonton Film Dilan 1990

    LokalKarya.id - "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Nggak asing...

    More like this

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...