LokalKarya.id – Imam Al Ghazali pernah berkata : “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Tentu seberapa banyak anak-anak raja dan ulama besar tidak akan lebih banyak dari mereka yang bukan siapa-siapa, lagipula tidak semua anak raja dan ulama besar akan mau dan bisa menulis.
Sebagian pemuda dan pemudi yang berkumpul di NOG Resto, Perum Gunung Batu C2 Jember ini pun menyadari bahwa menulis adalah sesuatu yang penting untuk hidup mereka. Mereka adalah sebagian orang yang sadar bahwa ketika seseorang mati, maka karyalah yang tidak akan ikut mati.
Tepatnya pada hari Minggu, 1 Oktober 2017, di bawah payung The Jannah Institute terlaksana Workshop Freelance Writing oleh sang founder, Prita HW yang membahas bagaimana cara terjun ke dunia freelance writing atau disebut juga kepenulisan lepas, termasuk juga bagaimana menjadi seorang blogger profesional seperti yang dilakoninya, termasuk membuat tulisan dengan kriteria layak publish dan potensi-potensi bagi seorang yang menekuni fulltime job atau part time job sebagai freelance writer.

Acara yang fun dan penuh dengan interaksi hidup ini dimulai dengan ungkapan pemikiran para peserta tentang freelance writer atau penulis lepas. Macam-macam opini mereka sampaikan, ada yang mengatakan hobi, fun, penulis bayaran, menyalurkan kreativitas, pekerjaan impian, dan sebagainya. Setelah semua menyampaikan opininya, Prita pun menyampaikan bahwa inti dari kepenulisan lepas adalah pekerjaan yang tidak terikat ruang dan waktu, seperti tempat kerja dan jam kerja yang sering disebut-sebut dengan jam eight to five ala pekerja kantoran.
Apakah menjadi seorang freelance writer adalah sesuatu yang sulit dan bagaimana peluangnya?
Modal utama menjadi penulis memang harus bisa menulis, untuk bisa menulis, lebih utama bukan karena bakat, tapi karena kebiasaan, kalau kata fasilitator yang juga trainer acara pagi hingga siang itu, Prita HW, yang paling sulit adalah ketika menjadikan menulis sebuah kebiasaan (writing is habit) bahkan bagi penulis yang sudah memiliki jam terbang tinggi pun ada kalanya lepas dari kebiasaan menulis karena pasti ada yang namanya stuck. Tapi, untuk penulis yang sudah memiliki jam terbang, hal itu relatif bisa diatasi, karena seringnya latihan atau terbiasa.
Pada intinya, semua orang bisa menulis, minimal mereka menulis ketika update status di media sosial. Kalau yang seperti ini bisa dilakukan berkali-kali dalam sehari karena mereka menganggap ini menyenangkan hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Berkaca dari fenomena ini, maka menulis pun sebenarnya adalah hal mudah, semudah melakukan update status. Menjadi berbeda adalah mengenai apa yang kita tulis, apakah bisa menjadi inspirasi bagi diri sendiri dan orang lain atau justru dianggap lebay bagi yang membacanya.

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, berbunyi “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” Bagi penulis, maka yang diharapkan bisa memberikan manfaat adalah melalui karya atau tulisannya. Maka hendaklah yang arek lokal tulis adalah yang bisa menambah pengetahuan pembaca, membuat pembaca bisa introspeksi diri, lebih-lebih bisa menambah keimanan bagi yang membacanya. Kalau kata Steve Jobs “QUALITY is more important than QUANTITY”.
Peluang menjadi freelance writer pun tidak bisa dibilang main-main, ini juga merupakan daerah yang boleh dibilang mirip “lahan” basah. Freelance writer bisa menjadi book writer, ghost writer (penulis buku, artikel, cerita, laporan, atau teks untuk diakui oleh orang lain), content writer, travel wrtiter, copy writer, professional blogger (penulis blog) dan masih banyak lainnya yang bisa di-explore.

Dalam era teknologi informasi saat ini, dimana media sosial merupakan alat komunikasi yang penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, maka freelance writer bisa menjadi hal yang mudah dan nyaman ditawarkan untuk digunakan jasanya. Terutama dalam industri komersil, mereka bisa berperan dalam menaikkan opini publik dalam rangka brand awareness maupun sebagai content marketer.
Ada beberapa cara atau tips untuk ‘mengenalkan’ atau mengembangkan diri yang bisa arek lokal adaptasi jika ingin berkecimpung di dunia kepenulisan lepas atau freelance writing. Ini yang bisa disarikan dari workshop bersama Prita HW :
1. Membangun personal branding
Hal ini bisa dilakukan dengan menyamakan nama di semua media sosial kita (twitter, instagram, facebook, dan lain-lain). Bila memiliki blog segera ubah URL blog menjadi self domain. Tingkatkan followers di media sosial terutama twitter dan instagram minimal 1000 followers.
2. Membangun relasi
Banyak ikut kegiatan atau komunitas yang menunjang seperti komunitas blogger, kepenulisan, dan yang berhubungan dengan passion menulis, dan aktiflah di forum online maupun offline dengan memberikan ide, opini, dan pemikiran supaya orang lain tahu eksistensi kita dan terbuka peluang berkolaborasi.
3. Sering ikut kompetisi menulis
Ini untuk menambah jam terbang, bukan tujuan utama untuk menang. Dari seringnya menulis, tulisan akan menjadi semakin baik dan matang. Kemudian, kemenangan akan menjadi bonus setelahnya.

4. Banyak membaca buku, artikel, dan mengikuti fenomena yang up to date
Dari menulis fenomena yang up to date, orang lain akan tahu sudut pandang pemikiran penulis dan akan ada feedback. Tetap menulis dengan cerdas dan smooth untuk fenomena yang mengundang pro kontra. Jangan hanya mengejar viral semata.
5. Ciptakan ciri khas sendiri
Tentukan minimal tiga tema besar tulisan dari hal-hal yang arek lokal kuasai, banyak membaca akan memberi banyak insight, tinggal ATM (amati, tiru dan modifikasi) sesuai dengan gaya atau ciri khas diri sendiri.

Semoga tips-tips di atas bisa membantu ya arek lokal. Dan harapannya, dari acara-acara semacam ini tumbuh generasi kritis yang berkarya dan memiliki peran penting dalam membangun bangsa dan peradaban. Akan ada banyak pena-pena tajam penulis yang mampu membuat perubahan untuk tujuan yang lebih baik. Seperti semangat yang diusung dalam acara yang dihadiri mahasiswa, dosen, relawan literasi, serta pengusaha UMKM, sampai pelajar SMA ini, write for change.
