LokalKarya.id – Sanggar Tari Langlang Buana memang dikenal terus berkreasi dalam menciptakan tari-tarian yang berakar dari seni tradisi. Sabar Hariyanto dan asistennya, Dwi Agus sebagai guru sekaligus koreografer, terus berinovasi menciptakan tari seperti Tari Pret Kampretan, Sabuk Mangir, Kembang, Goyang, dan masih banyak lagi. Namun tidak hanya bertindak sebagai kreator searah, Sabar juga sering mengakomodasi ide-ide tari yang datang dari eksplorasi anak-anak sendiri.
Sanggar tari ini berdiri sejak tahun 1991 dan telah mendidik banyak murid, guru, bahkan pembina seni tari. Setiap pembelajaran melalui berbagai tahapan yang terus berlanjut seiring perkembangan keahlian murid. Pada level pertama, anak-anak belajar teknik dasar beberapa tari termasuk Tari Gandrung Banyuwangi. Menginjak remaja mereka sudah mulai mahir.
Ketika kemampuan terus meningkat, Sabar dan para asistennya terus membimbing para murid untuk juga bisa menjadi guru, sehingga bisa membimbing orang lain belajar menari. Setelah menjadi guru yang berpengalaman, pembelajaran selanjutnya adalah menjadi pembina bagi para guru tari. Dengan demikian, regenerasi terus berjalan dengan sehat dan dinamis.

Sabar menceritakan tentang salah satu asistennya sekaligus keponakannya, Dwi Agus yang dulu belajar tari dari nol sejak masih kanak-kanak. Setelah belajar bertahun-tahun, Dwi kini menjadi penari yang sangat terampil. Selain itu, ia juga pemain musik dalam ansambel iringan Gandrung. Melalui kepiawaiannya, Dwi mewakili Indonesia untuk pentas Gandrung Banyuwangi di Kota Darwin, Australia.
Selain cerita Tari ‘Pret Kampretan’ sebagai Juara Nasional dan cerita Dwi ke Australia, masih banyak cerita membanggakan yang lahir dari Sanggar Tari Langlang Buana. Tentu ini semua dibangun bukan dalam waktu singkat. Butuh ketekunan, kerja keras, dan kedisiplinan bertahun-tahun.
Salah satu contoh aspek adalah kedisiplinan. Saat latihan tari dimulai pukul 14.30, Sabar Hariyanto memberi arahan agar anak-anak membentuk tiga barisan yang rapi. Anak-anak yang sudah siap mengenakan sampur langsung menempatkan diri mereka dengan tertib. Canda tawa beganti menjadi semangat keseriusan berlatih tari.

Hariyanto memegang kluncing (triangle) sambil bertindak sebagai juru alem. Ia memberi aba untuk memulai dengan gaya khas tukang ngalem Banyuwangi:
Hei, hurmatono dik tamu seko Jogja yo dik yo
Yo, Berangkaaat!
Musik iringan yang rancak pun dimulai. Pengendang sangat bersemangat memberi denyut dalam musik. Anak-anak menari Gandrung dengan lincah, sungguh sebuah pemandangan yang menawan hati.
Sanggar Tari Langlang Buana yang pada siang hari terasa sepi berubah menjadi semarak. Dari sinilah banyak cerita dimulai. Hampir setiap sore denyut tari dan musik menghiasi sanggar ini dan turut melestarikan denyut kesenian tradisi Banyuwangi.
Sumber: tembi.net
