Rumah Literasi Indonesia, dari Mimpi Besar, Langkah Kecil, hingga Jambore Literasi
LokalKarya.id – Kata literasi kini makin akrab terdengar di telinga bahkan mata, saking banyaknya bertebaran istilah literasi di berbagai ranah. Pernah dengar istilah literasi digital, literasi hukum, literasi keuangan dan gabungan frase lain yang melengkapi setelah kata literasi? Makhluk apa sih sebenarnya literasi ini?
Kalau menurut asal katanya, literasi berasal dari kata literate yang berarti melek informasi tentang sesuatu. Makanya, literasi sering diterjemahkan sebagai antonim dari buta huruf. Sehingga, ranah minat baca, budaya baca, serta aktivitas merekam bacaan seperti menulis sering diasumsikan sebagai aktivitas yang erat kaitannya dengan literasi. Dan, sejak beberapa tahun terakhir ini, literasi memang sedang ‘naik daun’, banyak para pegiat literasi yang merasa diberi ‘panggung’ dalam berbagai bentuk apresiasi. Seperti misalnya, penetapan pengiriman buku gratis oleh masyarakat setiap bulannya di tanggal 17 yang diperuntukkan bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di seluruh Indonesia melalui PT. POS Indonesia.
Namun ternyata, kebijakan seperti itu tentu bukan satu-satunya solusi praktis untuk menggeliatkan literasi di tengah-tengah masyarakat yang memang membutuhkannya. Di Banyuwangi misalnya, daerah paling ujung di Pulau Jawa yang langsung berbatasan dengan Pulau Bali ini, tercatat memiliki sebaran area yang sangat luas, dan tak semuanya tersentuh dengan program-program literasi.
Adalah Nurul Hikmah dan Nurul Hidayat, adik kakak penggagas keberadaan Rumah Literasi Banyuwangi yang bertransformasi dengan memperkenalkan naming Rumah Literasi Indonesia dengan mimpi besarnya. Bertempat di kediamannya di Desa Ketapang, mereka memulai melakukan apa yang mereka bisa dengan langkah sederhana, memberikan akses informasi dan pengetahuan lewat interest activity yang seru bagi anak-anak, remaja, dan juga masyarakat yang ada di sekitarnya.

Komunitas ini telah memulainya sejak 3 tahun yang lalu, dan saat ini telah tercatat puluhan relawan yang bergabung mendukung gerakan literasi lokal ini hingga menjadi masif seperti sekarang. Dalam peta sebaran rumah bacanya, tercatat 51 rumah baca yang akan terus berkembang yang terdapat di 14 kecamatan dan 20 sekolah. Dengan begitu, sekitar 56 % wilayah Banyuwangi telah memiliki rumah baca.
Di setiap daerah itu, terdapat simpul relawan literasi yang menjadi inisiator di daerahnya masing-masing. Sedangkan para inisiator itu bisa saling sharing dan bertukar informasi, termasuk meng-upgrade pengetahuannya di dunia literasi dalam jaringan Rumah Literasi Indonesia.
Jambore Literasi, Banyuwangi, 28-29 Oktober 2017
“Kegiatan ini adalah potongan kecil dari puzzle besar. Kalau mengutip dari Najeela Shihab, sukses itu punya skala. Kebahagiaannya sama, skalanya yang beda.”, ini kata-kata yang saya rekam saat saya sebagai wakil dari Lokal Karya menyempatkan diri memenuhi undangan ke desa yang memiliki Pelabuhan bernama Ketapang itu.
Pembuka ini disampaikan Nurul Hidayat yang juga seorang praktisi pendidikan di FISIP Universitas Jember saat membuka rangkaian Jambore Literasi yang dilaksanakan selama dua hari, Sabtu (28/10) hingga Minggu (29/10). Tapi pembukaan yang saya maksud adalah saat di hari kedua di ruang yang diberi nama Kelas Relawan di markas Rumah Literasi Indonesia di Banyuwangi.

Hari kedua sengaja dibuka dengan sederhana untuk lebih merefleksikan 3 tahun perjalanan Rumah Literasi Indonesia yang dimulai dari Banyuwangi ini. Setelahnya, ada rangkaian kelas-kelas kreatif yang bisa diikuti secara gratis oleh para relawan literasi yang tersebar di seluruh wilayah Banyuwangi dan juga masyarakat umum.
Kelas pertama, diisi oleh saya sendiri dengan tajuk Workshop Menulis Kreatif. Diikuti oleh sekitar 20 lebih peserta, kelas menulis pagi hingga masuk waktu dzuhur itu berlangsung seru dan disambut antusias oleh seluruh peserta dengan berbagai latar belakang, mulai dari pelajar SMA dan SMK, mahasiswa, pengelola rumah baca, ibu rumah tangga, penulis cerita anak, hingga mantan buruh migran.Di saat yang bersamaan, juga tengah berlangsung Kelas Kreatif : Tuangkan Ide Melalui Film yang diisi oleh sineas film lokal, Vicky Hendri Kurniawan di tempat yang berbeda.

Dilanjutkan dengan kelas kedua yang diampu Nurul Hidayat dengan tajuk Merancang Masa Depan Melalui Rumah Baca. Sesi ini juga dilalui dengan diskusi yang menggigit dan saling berbagi inspirasi untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi rumah baca yang dikembangkan di daerahnya masing-masing.
Sedangkan sehari sebelumnya, pada 28 Oktober 2017, rangkaian kegiatan bukan dilakukan di markas komunitas, melainkan di Pantai Cacalan Banyuwangi, dan melibatkan 1000 Rider Peduli Literasi, bekerjasama dengan Yamaha NMAX Club Indonesia (YNCI) Chapter Banyuwangi yang kebetulan juga sedang merayakan 1st anniversary nya.
Book buster adalah nama yang dipilih untuk program bersama dengan para rider ini. Dalam program ini, paea rider akan menjadi mediator bagi siklus buku yang dibutuhkan masyarakat umum melalui rumah-rumah baca yang tersedia. Selain itu, ini juga untuk menampik stigma yang melekat pada rider yang sering diasumsikan urakan. Siapa bilang kan rider tak peduli dengan literasi?

Ditemani deburan suara ombak Pantai Cacalan, Sabtu siang itu dibacakan juga Deklarasi Sumpah Pemuda dan Deklarasi 1000 Rider Peduli Literasi. Dilengkapi pula stan Rumah Literasi Indonesia dan juga stan komunitas rider serta pendukung acara lainnya.
Penutupan Jambore Literasi 2017 ditandai dengan Panggung Literasi di teras terbuka Rumah Baca Sahabat Kecil yang juga markas komunitas dengan tagline “Pantang Tanya Sebelum Baca” ini. Ada berbagai penampilan kreatif yang memukau lewat perpaduan kesederhanaan dan kesungguhan, seperti tari gandrung asli Banyuwangi oleh anak-anak Teras Baca Glenmore, musikalisasi puisi oleh Laci Kecil, stand up comedy, pantomim, musik, dan juga penampilan puisi untuk mengenang saat-saat terakhir Agus, seorang sahabat kecil yang telah lebih dulu berpulang beberapa hari sebelum kegiatan ini berlangsung.



Saya merasakan ada kesyahduan dan esensi yang dalam pada perayaan sederhana ini. Semoga pesan Nurul Hidayat yang akrab dipanggil Mas Nuhi saat membuka acara di Minggu pagi menjadi sebuah harapan, juga doa, “Harapannya festival bukan sekedar estival, tapi festival yang diteruskan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari”.
Maju terus literasi Indonesia. Buat arek lokal yang ingin mengenal lebih jauh Rumah Literasi Indonesia, langsung meluncur saja ke www.rumahliterasiindonesia.org.
