JICC 2017, Menggaungkan Kopi Rakyat untuk Kemakmuran Sosial
LokalKarya.id – Coffee is not only a taste, coffee is healthy drink, coffee is awesome. Kopi memang bukan berarti sebuah sajian minuman biasa bagi banyak kalangan. Kopi itu soal cita rasa, ‘kelas’, gengsi, kehidupan, ritual, hingga sesuatu yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Namun, persoalan kopi ternyata memang tak terbatas pada segelas cangkir yang terseduh apik di atas meja warung, angkringan, kedai, cafe, ataupun restoran. Lebih dari itu, dibalik nikmatnya sebuah kopi, ada cerita panjang yang melatarbelakanginya.
Tentang dari mana kopi berasal. Tentu berasal dari Sang Pencipta yang kemudian ‘mempercayakan’ kopi untuk dikelola di tangan-tangan petani rakyat dan lambat laun membentuk masyarakat yang dekat dengan kehidupan kopi.
Bila merunut lebih jauh lagi, kopi pun ternyata tak hanya sampai pada persoalan pertanian secara teknis atau perekonomian bagaimana kopi tersebut dipasarkan, tetapi juga pada ranah yang lebih luas semacam riset unggulan hingga kesejahteraan. Inilah kemudian yang melatar belakangi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember melalui Grup Riset Kopi (CfW) untuk menyelenggarakan Jember International Coffee Conference (JICC) pada Kamis hingga Sabtu, 9-11 November 2017 yang lalu.

Bertempat di Ruang Ahmad, Gedung Rektorat Lantai 3 Universitas Jember, rangkaian acara konferensi digelar dengan lancar. Pembicaranya berasal dari berbagai unsur. Saat Lokal Karya hadir di hari pertama sesaat setelah pembukaan acara, tampak Mohammad Erfan, perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso sedang memaparkan materinya. Ya, memang acara ini juga terselenggara berkat kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang baru-baru ini dikenal dengan branding ‘Republik Kopi’ nya.
Salah satu alasan kuat kerjasama ini juga karena Universitas Jember baru saja membuka kampus di Bondowoso yang nantinya juga akan berfokus pada riset unggulan tentang kopi demi goal besar untuk mensejahterakan masyarakat kopi yang ada di Bondowoso, Jember, dan sekitarnya. Ini sesuai dengan tajuk konferensi internasional yang berbasis scientific kali pertama ini, “Coffee for Social Welfare”.

Sedangkan sub temanya terdiri dari berbagai topik menarik, seperti : 1) Coffee for Biotechnology and Agriculture; 2) Coffee for Technology; 3) Coffee for Health; 4) Coffee for Social-Politic and Law; 5) Coffee for Culture and Humanities; 6) Coffee for Education; dan 7) Coffee for Economy, Creative Economy and Tourism.
Selain dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso, juga hadir pembicara yang lain di hari pertama konferensi. Sebut saja, Dr. Peeyush Soni, associate professor di School of Environment, Resources and Development (SERD) AIT; Maizirwan Mel, associate professor di Department of Biotechnology Engineering, Faculty of Engineering, International Islamic University Malaysia (IIUM); Dr. Jonas Giuliani dari Italy dan berkantor di Singapore Gas, serta perwakilan dari Asosiasi Kopi Bandung (Kopi Speciality Indonesia), Dr Setra Yuhana.

Diselingi dengan coffee break, konferensi internasional yang dihadiri kurang lebih 250 peserta dan berhasil mengumpulkan 90 paper dari Jepang, India, Malaysia, Thailand, dan Indonesia ini banyak mengkaji kopi dari sisi-sisi yang berbeda, yaitu dari sisi budidaya, kesehatan, budaya hingga sosial.

Ditemani kopi arabica dan luwak dari Kelompok Tani Sejahtera Kayumas dengan branding Waroeng Kopi Kayumas yang merupakan Juara 1 Nasional Festival Kopi Indonesia asal Situbondo, para peserta pun larut dalam diskusi tentang kopi dari berbagai sisi. Dan, salah satu yang menjadi perbincangan hangat di kalangan para researcher adalah menyoal limbah kopi rakyat yang sampai saat ini masih menjadi masalah. Limbah kopi yang mencapai 56 persen dari total produksi, saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hanya sekitar 35 persen dari total limbah solid kopi berupa kulit yang digunakan sebagai pupuk organik yang memerlukan waktu 6 bulan proses dekomposisi.

Padahal diversifikasi produk dari limbah kopi dapat dijadikan potensi lain pengembangan kopi rakyat ke depannya. Limbah yang 65 persen lagi seharusnya dapat digunakan sumber energi terbarukan berupa briket dan pellet. Limbah cair pengolahan kopi dapat dijadikan sebagai bahan bakar berupa bio-etanol. Dengan pemanfaatan limbah kopi ini diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar perkebunan kopi dan memanfatkan sebagai sumber energi terbarukan.
Konferensi berlangsung di dalam ruangan diakhiri pada pukul 14.00 dan kemudian para peserta diajak untuk melakukan farm trip ke kawasan Ijen. Farm trip tersebut juga bertujuan mengajak peserta menilik kebun kopi rakyat di Bondowoso, selain berpelesir menikmati keindahan alam di sekitarnya, seperti kebun stroberi dan melhat blue fire. Peserta akan kembali ke Jember untuk mengikuti rangkaian acara pada hari kedua dan ketiga yang amsih akan terus berlangsung.
Hari Kedua dan Ketiga JICC 2017, dari Deklarasi, Poster Session, dan Pameran
Jumat, 10 November 2017, bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan, rangkaian JICC 2017 kembali berlangsung. Kali ini mengambil tempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember di Jalan Kalimantan.

Selepas shalat Jumat, keynote speaker yang dijadwalkan menghadirkan Menteri Pertanian RI, kali ini diwakili oleh perwakilannya, Bambang, Dirjen Perkebunan Kementan RI. Dilanjutkan oleh Santoso Yudo Warsono, Direktur Inovasi Industri Kemenristekdikti yang merupakan perwakilan dari Menteri Perindustrian RI.
Ada pula keynote speaker dari Universitas Jember sendiri, yaitu Dr. Soni Sisbudi Harsono, associate professor, dosen Fakultas Teknik Pertanian di Universitas Jember yang membawakan tentang “Pemanfaatan Biopellet dari Kulit Kopi sebagai Energi Terbarukan pada Kompor Biomassa Emisi Rendah Berbasis Magic Roaster”; Dr. I Dewa Ayu Susilawati, dosen Fakultas Kedokteran Gigi dan peneliti dari Universitas Jember yang concern pada penelitian kopi untuk kesehatan membawakan tentang “Manfaat Kopi untuk Kesehatan Jantung”; serta Dr. Agus Trihartono, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember yang lulusan Kyoto Universty Jepang membawakan tentang “Kopi sebagai Alat Diplomasi Internasional”.

Hari itu juga, ditanda tangani deklarasi yang merupakan dukungan untuk Universitas Jember yang bertekad mewujudkan kopi untuk kesejahteraan nasional oleh Bambang, Dirjen Perkebunan Kementan RI; Santoso Yudo Warsono, Direktur Inovasi Industri Kemenristekdikti; HM. Nur Purnamasidi, anggota Komisi XI DPR RI; Sigit Edi Maryanto, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia di Jember; dan Achmad Bunyamin, Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Jember.

Acara hari kedua dan ketiga dibuka untuk umum, sehingga pengunjung pun bisa ikut menyimak paparan keynote speaker, poster session, serta pameran desain batik kopi. Khusus pameran batik kopi menampilkan 25 karya yang dipamerkan dari hasil 167 peserta dari berbagai kalangan dan berbagai kota yang masuk ke panitia. Juara 1, 2, 3 dan juara harapan 1,2, dan 3 telah diumumkan pada konferensi di Gedung Rektorat sehari sebelumnya. “Penilaian terletak pada desain dan filosofinya, dan akumulaasi dari hasil kesepakatan tiga juri, yaitu Hari Kresno dan Yeni Sukma yang merupakan lulusan ISI Solo yang saat ini dosen Prodi Televisi dan Film, serta Adi Kurniawan, owner Sisik Melik jember”, jelas Dah Purwita, penanggungjawab lomba desain batik kopi JICC 2017.
Yang membanggakan, Jember juga meraih juara 3 dan juara harapan, serta masuk nominasi 10 besar yang salah satunya merupakan siswa SMA. Sedangkan Juara 1 berasal dari Sukoharjo dan Juara 2 dari Tamanan, Bondowoso.

Rangkaian acara di hari ketiga pada Sabtu, 11 November 2017 ditutup dengan pameran karya dan Robusta Fiesta yang diikuti komunitas kopi dan komunitas sosial lainnya.

Semoga acara seperti ini akan terus berlangsung mengingat tujuan mulia yang telah dicanangkan dibalik penyelenggaraannya. Selain, menambah khasanah kopi berbasis scientific seperti yang diungkapkan Ketua Panitia, Dr. I Dewa Ayu Susilawati, “Rencananya JICC ini diselenggarakan dua tahun sekali, dan hasil konferensi bisa jadi bekal riset Unej ke depan. Satu lagi, pastinya supaya nanti terbit proceedingnya juga, sehingga hasilnya bisa terpublikasi lebih luas.”, ungkapnya optimis.
