HI! FOLK, Wadahi Band Folk Indie Lokal dan Orang Muda Kretif Jember
LokalKarya.id – Musik folk, salah satu genre musik yang kini makin digandrungi oleh muda-mudi Indonesia. Folk secara harfiah berarti rakyat, sehingga folk dapat diartikan sebagai musik rakyat yang bercerita tentang kesederhanaan dan kehidupan sehari-hari. Biasanya musik ini diselipi oleh unsur-unsur tradisi atau kebudayaan, namun ada pula yang lebih menekankan pada unsur kesederhanaannya saja.
Musik folk tidak memiliki aturan atau acuan tertentu. Musik folk adalah jenis musik yang bebas. Instrumen musik digital lebih dikurangi atau lebih mengentalkan instrumen musik analognya. Sehingga folk kadang diidentikkan dengan alat musik berupa gitar akustik, ukulele, harmonika, dan sebagainya.
Musik folk di Indonesia sudah dikenal sejak era 60-an. Iwan Fals dan Ebiet G. Ade adalah contoh musisi-musisi Indonesia bergenre folk. Kini, musik folk semakin digandrungi masyarakat Indonesia dengan munculnya band-band indie yang saat ini semakin diakui, dikenal, dan digemari. Contoh band-band indie bergenre folk di Indonesia yaitu Payung Teduh, Banda Neira, Float, Dialog Dini Hari, Sore, Nadafiksi, Tigapagi, Sisir Tanah, Nosstress, dan masih banyak lagi. Nama-nama band indie folk tersebut tidak asing lagi di telinga, kan?

Lalu bagaimana dengan musik folk di Jember? Band atau musisi indie bergenre folk di Jember juga banyak loh, arek lokal. Bahkan, hari Sabtu, 23 September 2017 lalu, ada sebuah event bernama Hi! Folk, sebuah event musik bergenre folk yang diadakan oleh Hihi Café and Eatery.
Acara ini diadakan dengan tujuan utamanya mendukung karya-karya lokal Jember, baik berupa karya musik, drawing, painting, makanan, dan produk-produk kreatif lainnya. “Terus tujuan keduanya itu aku ingin mempererat tali silaturrahmi sesama temen-temen kreatif Jember. Biar makin kenal, makin intens, makin sering punya gagasan-gagasan: mau bikin apa lagi kita nih?”, ujar Priscillia Christe Dewi, pemilik Hihi Café and Eatery. Perempuan yang akrab disapa Sisil ini juga menuturkan, dengan adanya Hi! Folk tersebut, ia ingin mewadahi band-band folk indie lokal. “Aku sangat terbuka kalau ada temen-temen yang mau perform.”, tambahnya lagi.

Beberapa musisi atau band indie tampil dalam event ini, yaitu Samstigabelas, Tone Library, The July, Lingkar Merimbun, dan Ismamsaurus. Event ini pun sifatnya non-komersil, alias tidak ada tiket berbayar dan siapa saja boleh datang. “Bagus (acaranya), karena yang aku tahu itu masih perdana juga katanya. Yang ngisi beberapa teman-teman indie juga, seperti Mas Jofan, Mas Sam, Mas Ismam yang dateng jauh-jauh dari Lumajang,” ujar Fahmy, salah satu personel Lingkar Merimbun. “Selama masih bisa membahagiakan orang lain, kita mah main,” tambahnya.
Tak hanya penampilan musik dan pembagian hadiah, dalam acara tersebut, Lingkar Merimbun juga diberi kesempatan untuk melakukan penggalangan dana dengan melelang kaktus-kaktus. Hasil penjualan kaktus tersebut akan digunakan sebagai dana mereka untuk ‘Nang-Ning-Nung Puisi’, acara musikalisasi puisi yang ingin mereka adakan untuk kedua kalinya. “Terimakasih banget ke Mbak Sisil. Disamping kita ngisi, timbal balik dari temen-temen Hihi atau panitia yang menyelenggarakan: ‘Ya nggak papa sekalin lelang’ katanya,” ujar Fahmy.

Acara yang diadakan oleh Hihi Café and Eatery ini tak hanya Hi!Folk, sebelumnya mereka telah mengadakan Hi-Market, sebuah grand-opening Hihi Café and Eatery yang diisi dengan kegiatan workshop, live painting, dan live music. Bahkan ada pula stand brand produk lokal yang menjual aksesoris, kerajinan tangan, dan sebagainya.

Setelah diadakannya acara Hi-Folk, Sisil berharap teman-teman penggagas kreatif di Jember lebih intens untuk berkumpul, sehingga akan banyak ide-ide untuk membuat acara lain yang lebih seru dan edukatif, buat kita sendiri dan orang lain. Selain itu, Sisil juga ingin bisa mengadakan acara musik yang reguler, tidak hanya Hi! Folk. “Sebisa mungkin, aku pengen bener-bener support dan aku sangat welcome buat temen-temen yang mau perform atau yang mau ngadain acara,” ujar perempuan lulusan Universitas Pendidikan Tata Boga Bandung ini.
