Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Alam & Wisata

Museum Kereta Api Bondowoso, Napak Tilas Kisah Pilu Para Pejuang Gerbong Maut

LokalKarya.id – Jika teringat kisah para pejuang kemerdekaan Indonesia jaman dulu, pastilah amat membekas dan menimbulkan lara. Apalagi ketika menemukan bingkai-bingkai kebengisan para penjajah yang masih tersimpan rapi dalam museum. Salah satu museum yang masih menjaga memori-memori kelam nan heroik kala itu adalah Museum Kereta Api yang ada di Bondowoso.

Dulunya, kawasan ini adalah Stasiun Bondowoso yang merupakan stasiun kereta api kelas I. Lokasinya berada di daerah Kademangan, Kabupaten Bondowoso. Stasiun ini dulu melayani kereta api lokal tujuan Jember dan Panarukan.

Pada tahun 2004, kereta api tersebut dinonaktifkan karena prasarana yang sudah sangat tua. Atas inisiatif pemerintah dan masyarakat, supaya stasiun ini tetap ada dan tetap dikunjungi, juga tersedianya banyak properti dan perkakas bersejarah, maka dijadikanlah stasiun ini sebagai Museum Kereta Api Bondowoso yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2016.

Lokasi museum ini tidak jauh dari terminal bus Bondowoso. Lebih tepatnya di sebelah timur Alun-Alun Bondowoso. Sampai saat ini, tidak ada karcis atau tiket membayar untuk masuk ke museum. Cukup membayar dengan ucapan terima kasih kepada para pejuang tanah Indonesia yang merelakan dirinya untuk bertumpah darah dan bertaruh nyawa.

Ketika memasuki Muesum Kereta Api Bondowoso, terasa sekali suasana yang masih sangat kental. Suasananya masih khas stasiun kereta api, hanya ada sekali pemugaran yang dilakukan oleh PT Kereta Api untuk menjadikannya tetap ciamik.

Bangunan  ini merupakan produk arsitektur Belanda yang mulai dibangun pada 23 Juni 1893. Stasiun ini berlanggam Indische Empire Style, suatu gaya arsitektur Barat yang berkembang pada abad ke-18 dan 19. Bangunan ini juga telah disesuaikan dengan iklim, teknologi, dan bahan bangunan setempat yang berkualitas.

Ketika masuk ke Museum Kereta Api Bondowoso, pengunjung akan disuguhi dengan beberapa lukisan besar yang membentang di dinding. Lukisan itu menceritakan tentang betapa pilunya masa lalu Indonesia.

Sajian utama pada hall adalah bacaan kilas balik tentang sejarah perkereta apian di Indonesia dan khususnya di Bondowoso. Bacaan yang tersaji, juga disematkan foto-foto yang akan menguatkan imajinasi para pengunjung tentang wujud Indonesia tempo dulu dengan kereta api sebagai sarana transportasinya.

Jalur kereta api ini dioperasikan sejak 1 Oktober 1897 untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian seperti tembakau, kopi, beras, dan lainnya. Hasil perkebunan tersebut didapatkan dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso, serta Situbondo menuju Pelabuhan Panarukan untuk diekspor ke luar negeri.

Pada tahun 2004, PT Kereta Api memutuskan untuk menutup jalur Panarukan – Kalisat karena penumpangnya sepi sedangkan biaya operasional cukup besar. Maka dari itu, kini tinggallah barang-barang berharga yang sering digunakan dalam pengoperasian kereta api.

Seiring berjalan menyusuri tiap jengkal bangunan Museum Kereta Api Bondowoso, maka tak jarang pengunjung teringat kisah pilu para pejuang yang berjuang supaya tetap bisa bernafas di Gerbong Maut.

Kala itu, 70 tahun silam, tepatnya pada tanggal 23 November 1947, terjadi kisah memilukan menyayat hati. Pada pukul 3 dini hari, sebanyak 100 tawanan pribumi dipindahkan secara rahasia oleh penjajah, dari penjara menuju stasiun Bondowoso. Alasannya sepele, hanya karena penjara di Bondowoso sudah penuh dan tak mampu lagi menampung para tahanan. Itupun, para tahanan adalah orang-orang yang dibenci Belanda, yaitu para Tentara Republik Indonesia (TRI), laskar gerakan bawah tanah, dan masih banyak lainnya.

Di stasiun, para tawanan digiring ke dalam tiga gerbong barang yang telah menunggu. Gerbong pertama seri GR 10152 berisi 38 tawanan, gerbong kedua seri GR 4416 berisi 29 tawanan, dan gerbong ketiga seri GR 5769 berisi 38 orang. Gerbong tanpa ventilasi itu ditutup rapat. Bahkan lubang-lubang kecil pada sudut dan pintu gerbong disumpal oleh seorang mata-mata Belanda.

Setelah menunggu empat jam, baru sekitar pukul 7 pagi kereta api diberangkatkan dari Bondowoso menuju Wonokromo. Di stasiun Kalisat, kereta api berhenti untuk menunggu rangkaian gerbong kereta dari Banyuwangi untuk digandengkan.

Posisi gerbong berada di emplasemen luar di bawah terik matahari. Udara dalam gerbong semakin pengap. Para tawanan mulai gelisah dan kepanasan. Sepanjang perjalanan Kalisat-Jember, para tawanan mulai berteriak panik. Beberapa mulai jatuh pingsan.

Pukul 10.30 WIB, kereta api diberangkatkan dari Jember. Perjalanan Jember-Pasuruan merupakan puncak penderitaan para tawanan di dalam gerbong. Di dalam gerbong yang sempit dan penuh sesak, para tawanan sangat kehausan. Beberapa nekat meminum air kencing teman sendiri. Yang lainnya mencoba membuat lubang angin sebisanya. Ada pula yang histeris sampai mencakar-cakar lantai dengan ujung jari sampai berdarah.

Antara Pasuruan-Bangil, turun hujan deras mengguyur gerbong-gerbong tersebut. Hujan menyebabkan udara di dalam gerbong menjadi lebih sejuk. Namun nasib nahas menimpa tawanan di GR 101152 karena gerbongnya masih baru, sehingga udara dan air hujan di luar tidak dapat masuk. Antara Bangil-Sidoarjo, suara tawanan sudah tidak terdengar lagi.

Pada pukul 19.30, rangkaian gerbong tiba di Wonokromo. Ketika pintu-pintu gerbong dibuka, didapati 40 orang telah meninggal dunia dan 50 orang dalam keadaan pingsan. Hanya 10 orang yang masih bergerak. Itupun, para tawanan yang masih selamat dipaksa untuk mengangkut teman-temannya yang tewas. Mereka harus berhati-hati karena bisa saja kulit tahanan akan terkelupas akibat kepanasan dan tepanggang dalam gerbong baja kereta api.

Semenjak itu, Bondowoso dikenal dengan kisah gerbong mautnya. Untuk mengingat perjuangan para pahlawan yang tak ternilai, maka dibuatlah monumen Gerbong Maut.  Monumen ini dapat dijumpai di sebelah selatan Alun-Alun Bondowoso.

Gerbong maut yang ada di Alun-Alun Bondowoso, tentulah hanya replika saja. Sedangkan Gerbong Maut yang asli disimpan di Museum Brawijaya, Malang.

Kini, kenangan tinggallah menjadi kenangan, pengingat di kala lupa. Biarkan setiap inci perjalanannya menjadi saksi bisu dari teriakan-teriakan parau nan pedih menyayat hati. Biarkan setiap benda di sudut stasiun menjadi saksi sejarah yang tidak akan pernah berhenti mengingat lara nestapa para pahlawan tanpa nama.

Arek Lokal, kalau ke Bondowoso jangan lupa untuk singgah ke Museum Kereta Api Bondowoso ya… Sesampainya di sini, jangan lupa untuk turut serta mendoakan para pahlawan yang telah gugur demi kita, anak cucu mereka.

Rhoshandhayani KT

Seorang blogger yang sedang memperjuangkan cita-citanya untuk menjadi perempuan yang istriable dan ibuable. Kalau mau kepo, silahkan kepoin sepuasnya di halokakros.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *