Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

UMKM

Sun Resist, Geliat Perlawanan dari Bisnis Clothing Indie

LokalKarya.id – Jember merupakan salah satu daerah yang berkembang menuju industri kreatif dengan banyaknya kreativitas anak muda yang saling unjuk gigi dalam hal berkarya. Tercatat banyak sekali mahasiswa yang masih aktif di dunia kampus, dan tak jarang sebagian juga merupakan aktivis, tak segan untuk menjajal kemampuannya di dunia bisnis. Salah satunya adalah Fathurrohman, Amd.

Pemuda yang saat ini sedang menempuh studi alih jenjangnya di Program Studi Manajemen Agroindustri Politeknik Jember ini mengembangkan gagasan di industri clothing indie yang dinamakannya Sun Resist. Resist berarti perlawanan, sedangkan sun, ia artikan ke makna yang lebih luas, yang berarti cahaya. “Bisa jadi Sun Resist ini semacam perpaduan antara jiwa aktivis dan jiwa kreatif saya.”, ungkapnya mencoba berefleksi.

Sun Resist memang bukan usaha pertama Fathur, sampai saat ini pun, ia masih menekuni order sablon yang ia lakukan sendiri. Dari skill nya di bidang persablonan inilah, lahir cikal bakal Sun Resist. Suatu kali ia sempat berpikir, jika hanya mengandalkan order sablon yang datangnya tak pasti, maka pendapatannya pun juga seirama dengan itu. Lalu, ia mulai melirik bisnis yang bisa dijalankan setiap hari sebagai bagian dari upayanya menjemput bola. Selain motivasi saat melihat orang lain punya brand, ia pun berkeinginan suatu saat harus memiliki brand sendiri.

Berbekal modal awal yang ia kumpulkan dari usaha sablonnya sejumlah 3 juta rupiah, pemuda asal Bangsalsari ini pun memberanikan diri membangun brand Sun Resist yang memiliki tagline “Revolutionwear”.

Ia mulai menyicil segala kebutuhan perlahan-lahan, mulai dari memesan label, kemasan packing, mencari informasi bahan kaos (vendor) dengan kualitas bagus dan harga bersaing, serta mulai membuat merchandise seperti stiker dan alat display lainnya untuk kebutuhan berjualan offline seperti tawaran stand di suatu event.

Aktivis GMNI ini juga mengaku brand yang diusungnya spesialis mengangkat tokoh-tokoh pergerakan yang menginspirasi banyak kalangan. Tokoh-tokoh seperti Karl Max, Tan Malaka, Soekarno, Gus Dur, dan menyusul yang lainnya sukses menarik hati para anak muda kekinian yang juga menyukai model streetwear atau dijadikan sebagai outfit harian. Selain motif-motif general seperti modifikasi batik, dan limited edition momen tertentu seperti momen kemerdekaan, dan sebagainya. Sst, kabarnya tokoh Soekarno merupakan sosok tokoh yang paling laris dibarengi label Sun Resist ini. Sehingga, Fathur pun menambahkan varian produk berupa tote bag dengan tokoh yang sama.

Yang patut dijadikan catatan, meski ia mengambil bahan dasar clothing nya dari berbagai vendor di Yogyakarta, Bandung, hingga Jember sendiri, satu yang ia pertahankan adalah kualitas. Termasuk kualitas dari sablon yang digarapnya sendiri, dan sebagian lain dipesan. Khusus sablon yang dipesan karena keterbatasan alat yang dimiliki seperti sablon dengan teknik discharge yang memang masih jarang sekali diaplikasikan para pemain clothing  indie di Jember.

Usaha yang sudah dirintis pada Oktober 2016 ini memang masih mengandalkan pemasaran online untuk produknya. Mulai dari penggunaan website, social media, hingga menggunakan marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee. Kini setiap bulannya ia bisa menjual 15 hingga 20 pcs produk dengan harga berkisar antara 130-150 ribu rupiah. Itu belum termasuk yang bekerjasama dengan menempatkan beberapa produk di sebuah distro lokal di Kencong bernama Moveline milik seorang temannya.

“Ada yang unik dari customer Sun Resist, ternyata ga hanya untuk konsumsi temen-temen aktivis karena ada tokoh-tokoh tadi, tapi karena suka sama modelnya yang streetwear. Jadi ada customer yang dari anak SMA, anak band juga.”, ungkapnya lagi saat bercerita tentang suka duka bisnis yang dirintisnya. Fathur yang saat ini tergabung di Jember Graphic Designer Community juga mengaku dalam 1 tahun ini dirinya memang lebih berfokus pada brand awareness Sun Resist sambil terus mengenalkan pada pasar yang sesuai segmennya.

Tantangan ke depan, laki-laki kelahiran 20 Maret 1994 ini ingin menembus pasar yang lebih luas, ditambah ia berharap desain clothing yang ia ciptakan sendiri ini juga menjadi tren tersendiri di kalangan anak muda.

Dalam waktu dekat, Fathur dan teman-teman pelaku clothing indie yang tergabung di Asosiasi Clothing Tapal Kuda sedang bersiap diri untuk berpartisipasi dalam event Jember Indie Clothing yang akan berlangsung November nanti.

Jadi, siap-siap dari sekarang ya arek lokal. Dukung clothing indie lokal Jember berjaya di kota sendiri, dan bonusnya, penampilan kamu jadi lebih keren dengan outfit yang anti mainstream sambil memberikan inspirasi lewat tokoh-tokoh yang tercetak di dalamnya. O iya, buat kepoin koleksi kece Sun Resist, langsung aja ke web www.sunresist.co.id atau Facebook Sun Resist dan Instagramnya @sunresist , juga Line dan Whats App nya di +62 896-1143-9987

Foto : Nana Warsita

Prita Hw

Pecandu aktivitas membaca, menulis, sharing, dan traveling. Sedang asik mengelola personal & lifestyle blog selain merintis menjadi knowledgepreneur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *