lokalkarya.id – Puluhan siswa-siswi dari berbagai negara menggelar pementasan Kisah Ramayana pada Jum’at (28/4) malam di Rumah Budaya Pandhalungan, Ajung-Jember. Mereka adalah murid dari Green School Bali yang berasal dari 16 negara dalam 4 benua yaitu, Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Sebanyak 25 siswa-siswi asing dan 10 guru menampilkan kemampuan akting mereka yang memukau masyarakat Jember yang menyaksikannya.
Acara ini digelar oleh Sekolah Alam Raya Jember yang bekerja sama dengan Rumah Pintar, Kelas Inspirasi Jember, sekaligus Pemoeda Condro. Pihak penyelenggara menjelaskan bahwa kedatangan Green School Bali ke Jember atas inisiatif mereka sendiri untuk membawa misi pengenalan sekaligus pertukaran budaya.
“Kebetulan kami (Sekolah Alam Raya) connect dengan mereka (Green School Bali) sejak lama. Mereka datang ke sini juga bukan dengan undangan khusus, tapi mereka ingin bermain ke Jember untuk bertukar sekaligus berkenalan langsung dengan Sekolah Alam Raya Jember,” jelas Samsul Hadi selaku event manager di acara tersebut.

Pementasan Kisah Ramayana oleh murid Green School Bali ini berlangsung kurang lebih sekitar satu setengah jam. 25 murid menampilkan secara maksimal kemampuan akting mereka di hadapan penonton. Dialog yang digunakan adalah dialog dalam bahasa Inggris. Hanya narator yang menggunakan bahasa Indonesia, dan sesekali juga bahasa Indonesia diselipkan dalam dialog.
Walaupun mereka berasal dari berbagai negara di dunia, tapi keseluruhan penampilan mereka sungguh harmonis. Satu per satu dari mereka sudah dibekali mengenai sejarah dan kebudayaan mengenai Kisah Ramayana di Green School Bali. Sehingga mereka mampu menampilkan Kisah Ramayana dengan begitu dalam penghayatan.

Sementara dari Sekolah Alam Raya sendiri menunjuk Egrang Tanoker untuk ditampilkan dalam pertunjukkan ini. Hal ini bertujuan agar Green School Bali melihat budaya kreatifitas yang dibangun oleh masyarakat Jember. Egrang Tanoker Ledokombo menjadi pembuka pertunjukan semalam.
Bagi Green School Bali sendiri, ini adalah kali pertama mereka mementaskan Ramayana di luar Bali. Jember adalah tempat yang mereka pilih untuk menjadi tempat berlangsungnya pementasan Kisah Ramayana mereka. Mereka begitu menguasai secara matang pementasan tersebut, dan membawakan secara menarik.
“I love acting anyway and I wanna do that in Ramayana. Talk about Ramayana, I interested the story and history of Ramayana. I hope all the audience liked what we show,” ucap Ella, siswi Green School Bali asal Amerika Serikat pada sesi wawancara bersama lokalkarya.id.

Selain menampilkan Teatrikal Ramayana di bidang kebudayaan, pihak Green School Bali sendiri juga mempresentasikan hasil tenaga alternatif yang sudah mereka ciptakan. Bio-sulin adalah tenaga alternatif bahan bakar solar yang mereka ciptakan dari minyak jelantah. Minyak jelantah tersebut dihimpun para siswa-siswi Green School Bali dari wali murid masing-masing. Kemudian hasil pengumpulan minyak jelantahnya mereka suling lagi menjadi solar.
Acara ini menjadi pertama dan satu-satunya hingga saat ini di Jember bahkan Jawa Timur. Acara yang menjadi saksi bahwa model sekolah tematik, seperti Sekolah Alam Raya dan Green School Bali telah bertukar pikiran untuk membawa kebudayaan bangsa bisa berbicara lebih banyak di mata dunia. Kebudayaan Nusantara yang bisa menjadi identitas sekaligus membanggakan Indonesia di mata dunia.
