More
    HomeKreasi PemudaKelola Limbah, Puluhan Mahasiswa Jember Ini Bentuk Bank Sampah

    Kelola Limbah, Puluhan Mahasiswa Jember Ini Bentuk Bank Sampah

    Published on

    spot_img

    lokalkarya.id – Semboyan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” memang bisa dijumpai di mana-mana. Namun masalah mengenai penanganan sampah masih saja melimpah. Tak hanya sampai di situ, pengelolaan lebih lanjut terhadap limbah sebenarnya harus digencarkan dan dilakukan oleh siapa saja. Bukan instansi pemerintah yang terkait dengan masalah tersebut.

    Mengelola sampah untuk kepentingan ekonomis di masa kini harusnya sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Selain turut menjaga keasrian alam, melakukan aktifitas demikian mampu meningkatkan perekonomian keluarga. Dua misi yang menunjang berjalannya suatu visi yaitu, kesejahteraan masyarakat.

    Hal inilah yang disampaikan oleh salah seorang mahasiswa di Kabupaten Jember, Muhammad Masnif, pemuda berperawakan kurus itu adalah salah seorang anggota komunitas yang mendirikan BANK SAMBER PAHALA (SAMPAH). Komunitas ini mengelola limbah non organik yang anggotanya berasal dari tiga Perguruan Tinggi, baik swasta maupun negeri di wilayah kampus Tegalboto Jember.

    “Awalnya, kami merasa prihatin dengan kondisi lingkungan kampus Jember. Banyak limbah yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis dibuang begitu saja tanpa ada yang mau mengelola,” terang Masnif.

    Bersama dengan teman teman mahasiswa lainnya, dia pun membentuk komunitas pecinta lingkungan pada tahun 2015 lalu. Sampai saat ini sudah ada sekitar 50 anggota yang terdiri mahasiswa, dosen, pengepul sampah dan pengrajin.

    “Untuk mahasiswa yang tergabung berasal dari Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mandala Jember,” sebut mahasiswa Fakultas Hukum UNEJ tersebut.

    Secara teknis, anggota komunitas ini mencari, menerima dan mengelola limbah, mulai dari kertas HVS, koran bekas, gelas plastik, kardus, kaleng bekas, bungkus kopi sachet bekas hingga kain perca.

    “Limbah itu akan kami kumpulkan dan kami hargai. Untuk kertas HVS, botol plastik, dan kardus dihargai Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kilogram, koran bekas Rp 2.000 – Rp 2.500 per kilogram dan kaleng bekas Rp 10.000 per kilogram,” papar Masnif.

    “Sedangkan untuk kain perca dan bungkus kopi instant tidak ada nilai belinya. Karena sangat mudah kami temukan di lapangan. Khusus untuk limbah kopi sachet, kami bekerjasama dengan pemilik kantin kampus,” imbuhnya.

    Setelah limbah tersebut terkumpul, pihaknya membaginya menjadi dua kategori, yakni limbah untuk dibuat kerajinan dan limbah yang dijual ke pengepul sampah. “Untuk kerajinan, selain dibuat oleh mahasiswa, kita juga memberdayakan warga sekitar kampus. Kini sudah ada tujuh pengrajin yang kami berdayakan di wilayah kampus dan satu pengrajin di Desa Mrawan, Kecamatan Mayang,” terangnya.

    Sedangkan limbah yang tidak bisa dikelola menjadi beberapa kerajinan, maka dijual kepada pengepul sampah. Hasil penjualan kerajinan dan juga penjualan limbah itu dikumpulkan dan disalurkan kepada lembaga yang bergerak dalam kegiatan sosial, seperti pembelian buku pelajaran bagi anak-anak dhuafa di Jember

    “Hasil kerajinan tangan yang kami buat antara lain, gantungan kunci dengan harga jual Rp 4.000 – Rp 7.000 per buah, tempat pensil Rp 10.000, lampu hias Rp 20.000 – Rp 50.000, Figura foto Rp 10.000 – Rp 100.000, Asbak Rp 10.000 – Rp 20.000 dan Keset (Pengesat Kaki) Rp 5.000 – Rp 10.000,” paparnya.

    Masnif menambahkan, nasabah bank Sampah ini memiliki dua pilihan atas pengiriman sampah kepada komunitas. Pertama, kiriman limbah itu dicatat dan sengaja ditabung oleh nasabah. Sedangkan opsi kedua yakni nasabah sengaja mendonaturkan atau menyumbangkan kiriman limbah itu untuk komunitas. Untuk penjualan, pihaknya belum memiliki galery khusus. Sementara ini pemasaran lewat promosi internal kampus dan juga lewat event pameran produk yang digelar di Jember.

    “Untuk yang mau menabung, kami sediakan buku tabungan. Nasabah bisa mengambil hasil penjualan itu mengirim limbah mengirim rutin selama tiga bulan. Tapi mayoritas memilih untuk menjadi donatur sampah. Kami berharap, seluruh pihak di Jember bisa lebih perhatian terhadap kondisi lingkungan. Bukan hanya tertib terhadap cara membuang sampah, tetapi juga mengelola sampah untuk menjadi produk yang lebih memiliki nilai ekonomis,” tukasnya. (Awi).

    Latest articles

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...

    5 Alasan Kamu Harus Nonton Film Dilan 1990

    LokalKarya.id - "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Nggak asing...

    More like this

    5 Tempat Seru untuk Kamu yang Mau Melewatkan Malam Tahun Baru di Kota Jember Saja

    LokalKarya.id - Apa kabar arek lokal di penghujung tahun 2017 ini? Sudahkah membuat resolusi...

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Mengisi Hari Libur Sekolah, ini Kegiatan Menarik yang dilakukan Pemoeda Pemoedi Condro

    Komunitas Pena Hitam : Wadah Anak Muda Berkumpul, Berbagi, serta Bebas Berkarya Seni

    LokalKarya.id - Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman now, Jember tumbuh dan berkembang...