Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Events

Festival Egrang di Tanoker Ledokombo, Bangkitkan Kejayaan Permainan Tradisional

LokalKarya.id – Tidak dipungkiri bahwa kini permainan tradisional semakin tergerus oleh berkembangnya zaman. Umumnya anak-anak lebih suka bermain permainan digital yang ukurannya hanya segenggaman saja dan dapat dibawa kemana-mana. Pun kalau bosan dengan permainan yang sering dimainkan, anak-anak bisa langsung beralih ke permainan yang lainnya hanya dengan satu sentuhan. Permainan digital yang dinikmati anak-anak generasi milenial ini benar-benar memanjakan fisik ya…

Padahal permainan tradisional yang sering dimainkan oleh kakek nenek, orang tua, atau para remaja dewasa yang sempat mencicipi nuansa 90an, tentu lebih sering bermain permainan yang mengandalkan fisik, yang mengandalkan waktu luang untuk bertemu dan bermain bersama. Ah, indahnya masa-masa membahagiakan itu.

Ada beragam permainan tradisional yang terkenal kala itu, misalnya dakon, ular naga, petak umpet, egrang, dan lainnya. Kesemuanya itu, sudah dipastikan akan punah seiring berjalannya waktu. Masih sedikit orang yang peduli dengan kelestarian permainan tradisional.

Lain halnya dengan Pak Suporaharjo dan Farha Ciciek, sepasang suami istri yang kini telah berhasil mengembalikan kejayaan permainan egrang. Mereka tak sendiri, bersama tetangga-tetangga rasa saudara dan para relawan yang gegap gempita, mereka menghidupkan egrang lagi yang dinikmati oleh seluruh anak-anak di kecamatan Ledokombo.

Kala itu, delapan tahun yang lalu, Ledokombo sedang sibuk-sibuknya dengan para warganya yang menjadi buruh migran di luar negeri. Hal itu terpaksa dilakukan untuk menyambung hidup diri sendiri dan keluarga. Tak hanya kaum bapak-bapak yang menjadi tenaga kerja di luar negeri, ibu-ibu pun turut serta mencari nafkah di negeri orang. Lalu, tinggallah sang anak yang hidup bersama kakek neneknya yang sering disebut mbah.

Ibarat kata, anak-anak di kecamatan Ledokombo bisa disebut yatim sosial. Punya ayah dan ibu, tapi keduanya tak ada di rumah karena harus mencari nafkah di luar negeri. Mereka minim sarana dalam bersosial, berkomunikasi, dan menentukan siapakah yang akan menjadi panutannya. Tak jarang, anak-anak hanya nonton tv di rumahnya, nongkrong dengan teman-temannya, atau juga bermain dengan gawai yang sengaja dibelikan oleh orang tuanya sebagai ganti dirinya yang tidak bisa menemaninya selama mereka merantau.

Aktivitas semacam itu sungguh memprihatinkan. Anak-anak cenderung susah beradaptasi, susah bersosialisasi, dan juga beberapa problematika sosial lainnya. Hal seperti ini, tak bisa dibiarkan terus menerus. Harus ada agen perubahan yang mampu mendekati mereka secara perlahan, mampu menyelami dunia anak-anak yang seluruh isinya adalah tentang bermain.

Ternyata, egrang menjadi perantaranya. Suatu ketika, buah hati Suporaharjo atau yang akrab dipanggil Lek Hang bertanya, “saat kecil Ayah main apa?”. Dijawablah: egrang. Tak perlu banyak bicara, Suporaharjo membuat 3 pasang egrang yang langsung dimainkan oleh anaknya. Tak hanya anaknya saja yang menikmati egrang, melainkan juga teman-temannya yang bermain ke rumahnya. Mata mereka berbinar-binar saat melihat egrang. Padahal saat awal-awal memainkannya, mereka harus tertatih-tatih dan terjatuh-jatuh karena masih belum menguasai permainan egrang.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak sering main ke rumah Suporaharjo dan Farha Cicik, tujuannya untuk bermain egrang. Ah, tentulah tak baik jika anak-anak datang hanya untuk bermain egrang, maka perlulah diadakan kegiatan-kegiatan positif yang mengasah softskill dan hardskill mereka. Hal ini sejalan dengan permasalahan bahwa anak-anak minim panutan dan teladan dari orang tua mereka yang mencari nafkah di luar negeri.

Tanoker, komunitas belajar yang didirikan oleh Lek Hang dan Bu Cicik, menjadi sebuah wadah besar untuk menampung mimpi anak-anak Ledokombo.  Egrang menjadi alat penggerak semangat anak-anak untuk terus bermimpi. Dengan egrang, anak-anak bebas mengaktualisasi diri untuk bebas berkespresi. Karena adanya kebebasan berekspresi itulah, lahirlah festival egrang.

Festival egrang ini, menjadi panggung jalanan anak-anak untuk menunjukkan kegembiraannya bermain bersama egrang. Anak-anak akan pawai bersama egrang menyusuri jalanan Ledokombo sambil menari-nari sedemikian rupa untuk menghibur para keluarga, kerabat, sanak saudara, bahkan orang-orang tak dikenalinya yang sengaja menontonnya sedang berkoreo menggunakan egrang.

Sudah sewindu festival egrang berjalan. Gegap gempita dan antusiasme para penikmat egrang menjadi pemicu semangat anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia untuk menunjukkan performa mereka yang sudah ahli banget menggunakan egrang. Ada yang menggunakan egrang bambu, egrang batok, bahkan egrang besi yang menjadikannya tinggi serupa menyentuh langit.

Festival egrang ke 8 ini telah diadakan tanggal 21-23 september 2017. Namun jauh sebelum itu, pada tanggal 20 Agustus 2017 telah diadakan launching Festival Egrang 8 yang diramaikan dengan kegiatan jalan sehat bernuansa egrang yang. Seminggu kemudian, pada tanggal 27 Agustus 2017, diadakanlah lomba mewarnai untuk tingkat TK/RA dan lomba menggambar untuk tingkat SD/MI se-kabupaten Jember yang berlokasi di area pasar lumpur Tanoker.

Tak hanya anak-anak saja yang meramaikan kegiatan Festival Egrang dengan mewarna dan menggambar, melainkan juga ada para remaja dan dewasa yang mengeskpresikan bakat seninya dengan menggambar di dinding, atau yang lazim disebut mural. Mural ini dilombakan dan diikuti oleh banyak kawan-kawan dari penjuru daerah. Hasil lukisan mural bertema Bhinneka Tunggal Ika ini dapat ditemukan di sudut-sudut kecamatan Ledokombo.

Pada tanggal 22-23 September 2017, juga diadakan kegiatan Jambore Anak. Tentunya diikuti oleh anak-anak untuk mengasah kemampuan anak-anak, baik hardskill dan softskill. Pada akhir kegiatan, anak-anak mengasah kreatifitasnya dengan melukis capil atau topi pak tani. Capil-capil itu dipamerkan di sudut depan Tanoker yang akan menghiasi langit Tanoker sehingga menjadikannya semakin semarak.

Acaranya tak hanya bersenang-senang saja, melainkan ada juga kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk merefleksikan akar perubahan di tingkat anak, keluarga dan komunitas. Untuk itu, Tanoker bersama LPKP merancang kegiatan pembelajaran silang (cross learning) mengenai pengasuhan berbasis komunitas.

Tujuan diadakannya cross learning yang mewarnai egrang ini adalah untuk menemu kenali modal sosial dalam komunitas yang menjadi sumber tenaga dan inspirasi untuk menggerakkan perlindungan anak berbasis komunitas. Hal ini terdiri dari beberapa aspek pokok, antara lain: cara membangun relasi yang ramah anak, menciptakan tempat-tempat yang nyaman dan adanya rasa aman bagi anak, serta adanya dukungan layanan publik yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Ada dua alasan penting bagi program Peduli untuk mendukung refleksi atas pengasuhan anak berbasis komunitas. Pertama, program Peduli melalui TAF sudah menjalin “Perjanjian Kerja Sama Teknis dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Salah satu di antaranya untuk mengembangkan pengasuhan anak berbasis komunitas bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Pada serangkaian kegiatan Festival Egrang ini, juga diundang para pejuang pengasuhan berbasis komunitas dari wilayah lain yang akan berdiskusi bersama. Ada sekelompok pejuang dari Garut dan Bandung yang bekerja untuk mencegah dan mengintegrasikan pengasuhan anak bagi anak-anak yang dipaksa menjadi pekerja seks komersial.

Ada pula para pejuang pengasuhan berbasis komunitas dari Jakarta yang bekerja untuk proses reintegrasi bagi anak yang menjalani masa pidana penjara. Selain itu ada juga dari Sumba Barat Daya yang bekerja untuk anak-anak di komunitas kepercayaan Marapu. Tak ketinggalan pula para pejuang pengasuhan anak berbasis komunitas yang berasal dari Lombok Timur dan Jember yang merupakan anak-anak dari para buruh migran.

Adanya refleksi ini juga akan berfokus pada potensi anak serta memperkuat posisi anak sebagai tokoh yang menginspirasi perubahan. Kegiatan cross learning yang diadakan pada tanggal 22 september 2017 ini tak hanya melibatkan orang dewasa saja, melainkan juga dilakukan oleh anak-anak dari berbagai daerah. Hal ini memiliki tujuan yang mulia, yaitu menemu kenali anak sebagai agen perubahan melalui praktik sehari-hari.

Puncak acara Festival Egrang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 September 2017. Bu Yohana selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau yang akrab disapa Mama Yo, menghadiri kegiatan Festival Egrang. Beliau bertemu dan bersapa ramah dengan anak-anak Tanoker. Anak-anak tampak senang sekali saat bertemu Mama Yo, karena beliau juga menghibur anak-anak melalui band Simfoni yang menyanyikan lagu-lagu bertema kebangsaan dengan gegap gempita. Hal ini membuat anak-anak semangat 45.

Pawai egrang adalah kegiatan yang dinanti-nanti oleh masyarakat. Melihat orang-orang dari usia TK, SD, SMP, SMA, dewasa bahkan lansia, turut memeriahkan pawai egrang. Pawai egrang ini diikuti oleh 24 kelompok dengan total 700 peserta. Pesertanya adalah warga Ledokombo sendiri, yang berdandan heboh dan menarik untuk menghibur para penonton pawai egrang.

Pawai egrang ini bertema Bhinneka Tunggal Ika. Ada kelompok yang menggunakan kostum ala suku Asmat sambil menari-nari dengan irama lagu sajojo. Ada pula kelompok pawai egrang yang bertemakan adat Sunda, adat Dayak, dan lainnya. Subtema yang paling banyak mewarnai Pawai Egrang adalah Madura, tentu saja. Banyak sekali orang-orang yang berpakaian seperti Pak Sakerah, sosok kebanggaan reng medureh.

Arek Lokal menonton pawai egrang kah kemarin? Eh kalau belum sempat menonton, yuk siap-siap jadwalkan diri untuk hadir di Pawai Egrang ke-9 tahun depan. Kalau Arek Lokal ngebet banget ingin menonton orang-orang menari egrang, langsung aja datang ke Tanoker. Ajak kerabat, saudara, kekasih  dan teman-teman untuk meramaikan Festival Egrang selanjutnya yaaaa

 

Rhoshandhayani KT

Seorang blogger yang sedang memperjuangkan cita-citanya untuk menjadi perempuan yang istriable dan ibuable. Kalau mau kepo, silahkan kepoin sepuasnya di halokakros.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *