LokalKarya.id – Bila Anda pecinta mie ayam, pasti punya tempat berlangganan khusus, bisa kedai mie ayam permanen atau mie ayam gerobak dorong. Nah, kali ini ada cerita penjual mie ayam yang tidak biasa. Namanya Imam Safari, penjual miee ayam yang biasa keliling menjajakan dagangan menggunakan sepeda motor roda tiga merek Tossa di Banyuwangi, Jawa Timur.
Imam memang punya ciri khas bagi para pelanggannya. Dia miesalnya, saat berjualan sambil naik Tossa selalu memutar lagu-lagu daerah Using. Pria paruh baya ini biasa menjajakan dagangannya keliling dari kampung ke kampung di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa itu. Keunikan mie ayam milik Imam ini tidak semata-mata pada rasanya, melainkan pada caranya mengemas dan memasarkan dagangan juga.
Imam memang punya ciri khas bagi para pelanggannya. Dia miesalnya, saat berjualan sambil naik Tossa selalu memutar lagu-lagu daerah Using. Lagu diputar keras-keras untuk menarik perhatian orang-orang, sekaligus sebagai isyarat bahwa dia telah datang.

Kenapa musik Using? Imam menjawab sederhana. “Karena bangga dengan kebudayaan suku Using yang harus tetap dilestarikan,” terang Imam.
Imam melabeli dagangannya dengan ‘Mie Ayam Mantap Rasa’. Kelebihan mie ini dibuat sendiri oleh Imam, lalu diracik dengan resep sendiri pula tanpa bahan pengawet maupun pewarna. Maka dari itu rasanya gurih di lidah. Untuk harga seporsi mie ayam juga sangat terjangkau, hanya Rp 3.500 seporsi.
Kurang lebih sudah 16 tahun (2001-2017) Imam menjual mie ayam. Biasanya, dalam sekali jualan Imam sanggup menjual 12,5 kilogram miee sehari. Itu pun tidak berjualan full selama 24 jam. Dia biasa menjajakan dagangan mulai sore sampai malam hari saja.
Sementara untuk pelanggan juga beragam, mulai dari anak-anak muda sampai orang tua. Jangkauan wilayah jualan juga cukup luas di wilayah barat Banyuwangi, seperti wilayah Desa Kelir, Licin, Kemieren dan Kalibendo. “Kalau malam Mienggu biasanya mangkal di Desa Kemieren,” ujarnya sembari tersenyum bangga.

Imam mengimbuhkan, saban pelanggan rata-rata mienimal membeli lima bungkus. “Kadung isun enteni nong omah kari jarang teko, nong Pakis, Karanganyar (Sudah saya tunggu-tunggu di rumah kok tidak pernah datang, di Pakis Karanganyar sana),” celetuk seorang ibu, pelanggan Imam.
Dari hal sesederhana demiekian lah proses komunikasi antara penjual dan pembeli terlihat sangat akrab. Ditambah pula dengan miesi seorang penjual mie ayam yang ingin terus melestarikan budayanya, lagu Using.
Sumber: merdeka.com
