Peace Leader Jember Aktif Kampanyekan Isu Perdamaian
LokalKarya.id – Keberagaman adalah isu “seksi” yang sering dibahas akhir-akhir ini. Sadar atau nggak, meningkatnya arus informasi melalui media teknologi informasi memicu orang untuk saling “mencari perhatian” lewat eksistensi konten yang mereka ciptakan. Tak jarang banyak juga arek lokal temui berita-berita HOAX atau “kabar burung” yang berhembus begitu saja. Terutama menyangkut hal-hal berbau SARA (suku, agama, dan ras) yang sensitif bila tak paham cara menyampaikannya.
Melihat isu ini, sejak 2013 lalu, Search for Common Ground (SFCG) Indonesia dan Asian Muslim Action Network (AMAN) berkolaborasi menggelar Peace Leaders Camp yang bertujuan untuk membangun kapasitas anak muda dalam mempromosikan kerjasama dan toleransi lintas iman. Dari sinilah, cikal bakal bermunculan komunitas dengan naming sama, yaitu Peace Leader di beberapa kota di Indonesia, termasuk di Jember tercinta.

Berawal dari 10 pemuda Jember, termasuk Redy Saputro, Peace Leader Jember hadir pada 2014. Meski kini inisiator yang berjumlah 10 orang tadi hanya tersisa 4 orang karena prioritas dan kesibukan masing-masing, namun Peace Leader Jember terus bergerak dan saat ini telah memiliki leader-leader baru sekitar 20 orang dan anggota sekitar 30 orang. Mereka yang bergabung menjadi leader pun tidak bisa hanya asal bergabung saja.
Redy yang saat ini menjadi pionir utama Peace Leader Jember mengungkapkan ada sejumlah interview sederhana untuk mengetahui latar belakang bergabungnya seseorang. Seperti tentang pengalaman bertoleransi terhadap orang lain, diberi semacam study case dan ditantang bagaimana pemecahannya. “Syaratnya hanya pemuda WNI yang berusia kurang lebih 18-35 tahun”, tambah pemuda 25 tahun ini.
Komunitas yang memiliki tagline “Walau Beda tapi Setara” ini juga aktif mengampanyekan persoalan pluralisme, gender, HAM, selain isu utama, yaitu perdamaian. Ini terlihat dari beragam kegiatan yang menjadi fokus program-programnya. Ada Peace Goes to Campus yang mengunjungi 2 kampus dalam setahun untuk mengadakan roadshow kebhinnekaan dengan tujuan menjalin keakraban antar mahasiswa multi kampus.

Ada pula Peace Goes to School yang dalam 1 tahun bisa mengunjungi sekitar 150 sekolah, mulai dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/MA. Biasanya diadakan ragam aktivitas seperti talkshow, seminar, atau outbound dengan kemasan Sekolah Perdamaian.
Masing-masing sekolah atau kampus yang telah dikunjungi tersebut juga diperkenankan untuk menggelar Sekolah Perdamaian serupa untuk komunitasnya sendiri yang kemudian akan difasilitasi dan dimonitor oleh Peace Leader Jember.
Dua program utama itulah yang juga menarik minat Yurike Ina (22) yang kemudian menginisiasi terselenggaranya Sekolah Perdamaian di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi, Desa Curah Lele, Balung. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember ini bercerita bahwa tiap leader yang tergabung di Peace Leader memang ditantang untuk memiliki inisiasi-inisiasi yang akan dilakukan terkait project nya sebagai seorang leader.
Selain dua program utama tadi, program utama lainnya adalah Peace Service berupa layanan sukarela ke rumah-rumah ibadah maupun komunitas yang berbeda untuk saling mengenal, merasakan, dan mengalami indahnya perbedaan, seperti misalnya berkunjung ke masjid, gereja, sekolah, pesantren, komunitas, ataupun makam lintas agama.
Sedangkan program pendukung lainnya yang bersifat insidentil juga kerap dilakukan. Diantaranya Peace Campaign yang dilakukan lewat media sosial, Say It Repost It yang bertujuan menghapus konten-konten negatif di media sosial, Peace Safari yang merupakan dialog para pemuda dengan tokoh lintas agama, serta Ngo-Peace atau ngopi perdamaian dengan awak media.

Redy sendiri menekankan bahwa kekuatan Peace Leader Jember adalah membangun jaringan bersama. Karenanya, ia tak hanya memiliki dinamika aktivtas diantara para leader dan anggotanya saja, tetapi juga ada beberapa supporter yang tergabung dalam Whats App group Jaringan Perdamaian yang jumlahnya mencapai 60-an orang. Selain bergabung di komunitas yang sevisi seperti Save NKRI.
Di akhir obrolan dengan Lokal Karya, Yurike yang mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dengan bergabung di Peace Leader Jember memberikan pesan untuk arek lokal semua, “Jangan terpengaruh hal-hal yang negatif, seperti ujar kebencian, HOAX, dan lain-lain. Kalau bisa ikut gabung di Peace Leader. Ga hanya tentang toleransi yang ternyata banyak ragamnya yang didapat disini, tapi juga hal lain seperti menghormati difabel”, ungkapnya sambil tersenyum.

Sedangkan Redy yang saat ini juga sedang menempuh studi Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka ini juga menyampaikan harapannya untuk komunitas yang saat ini menempati basecamp Rumah Kelar Kelir di Jalan Imam Bonjol 32 A Jember, “Ke depan, para leader harus mampu menjadi fasilitator-fasilitator perdamaian, mereka harus bergerak, dan membuat inisiasi.”, ungkapnya lugas.
Ah, semoga isu-isu perdamaian yang terus dikampanyekan Peace Leader Jember juga bisa menginspirasi arek lokal untuk terus membangun inisiasi positif yang berdampak panjang ya. Untuk tahu info-info terkini tentang Peace Leader Jember, langsung saja menuju Facebook : Peace Leader Jember, juga Instagram : @peaceleaderjember.
