Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

UMKM

Uniknya Citarasa Kopi Dari Biji Salak

lokalkarya.id – Ada sekitar 20 sampai 30 spesies salak di Indonesia. Dan selama ini sebagian besar masyarakat hanya mengkonsumsi daging buahnya saja, seperti keripik atau dodol. Jarang orang yang memanfaatkan bagian lain dari buah salak, seperti bijinya.

Namun, berbeda dengan Bustomi. Warga usun Semboro Lor, Desa/Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Dari tangan kreatifnya, dia mampu merubah biji salak menjadi olahan minuman yang disebut ‘Koplak’ alias kopi salak. Bersama keluarganya, Bustomi merubah limbah biji salak menjadi bubuk mirip kopi.

Usaha kopi biji salak alias ‘Koplak’ ini didirikannya secara resmi sejak awal Januari 2015 lalu. Namun, Bustomi mulai mencoba-coba sekitar bulan November 2015. Bustomi sengaja mamilih kata ‘Koplak’ sebagai merek. Karena, selain menjadi akronim kopi salak, kata itu juga mudah diingat oleh konsumen.

Menurut Bustomi, dalam satu bulan dirinya mampu menjual sekitar 150 kotak karton. Setiap karton isinya 150 gram.

“Untuk pemasarannya, biasanya melalui Outlet oleh-oleh khas Jember, yang banyak berdiri di kota kabupaten,” ujarnya.

Selain itu, eterpreneur muda ini juga memasarkan lewat media sosial dan online. Meski diakuinya jumlah permintaannya tidak sebanyak yang dijual melalui Outlet.

“Untuk online biasanya konsumen yang jauh, kemarin ada yang dari Jakarta dan Nusa Tenggara Barat. Saya menggunakan jasa titipan barang untuk mengantarkan pesanan itu,” terang Bustomi.

Dikatakannya, proses pembuatan ‘Koplak’ tergolong mudah. Karena semua alat yang digunakan masih manual dan tradisonal. Pertaman, biji salak dibersihkan dahulu, baru kemudian dipotong kecil-kecil menggunakan pisau besar yang telah dimodifikasi mirip alat pemotong kertas.

Irisan biji salak itu kemudian dijemur dibawah terik matahari hingga satu minggu atau telah kering.

“Pernah saya menggunakan oven untuk mengeringkan biji salak, tapi ternyata merubah aroma dan cita rasanya,” tuturnya.

Selanjutnya, setelah dinyatakan kering, biji salak itu disangrai selama 15 menit menggunakan kuali tanah yang oleh masyarakat setempat disebut ‘kendil’. Setiap kali sangrai Bustomi menakarnya sebanyak 7 ons. “Sebab jika lebih dari 7 ons, matangnya lama. Meski tak mempengaruhi aroma dan rasa,” ujar dia.

Setelah dicicipi, ‘Koplak’ memang cukup unik. Ada aroma jambu muda saat dihirup. Selain itu, rasanya juga berbeda dengan kopi biasa, ada rasa seperti usai memakan salak muda setelah ‘koplak’ melewati tenggorokan. Biasanya bubuk kopi salak dicampur gula aren, bukan gula putih.

“Koplak akan lebih nikmat bila dicampur madu,” papar Bustomi.

Selain di Jember, bubuk kopi dari biji salak ini ditemukan di daerah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, juga di daerah Sleman Jogjakarta. Bagi para penikmatnya, kopi salak dipercaya meringankan hipertensi, asam urat dan diare.

Bayu Arganata

Editor & Content Writer at lokalkarya.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *