Seperti Inilah Cara Warga Ledokombo Memaknai Hari Buruh Migran Internasional
lokalkarya.id – Spiderman, Power Ranger, Superman, Gatotkaca, mereka semua adalah pahlawan dalam versi masing-masing. Tapi tentunya, sebutan pahlawan tidak selalu diberikan pada mereka yang telah berperang angkat senjata. Bukan juga hanya bagi mereka yang berjasa menyelamatkan nyawa. Sebutan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ diberikan pada guru. ‘Pahlawan Devisa Negara’ diberikan pada para buruh migran atau tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negara lain.
Perhatian terhadap para pekerja migran di setiap negara diperingati pada tanggal 18 Desember. Hari yang ditetapkan sebagai Hari Buruh Migran Internasional. Penetapan ini berawal dari Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran Dan Anggota Keluarganya pada 18 Desember 1990 di New York, Amerika Serikat.

Masihkah Tahun Ini Lapangan Pekerjaan Dalam Negeri Susah Didapat?
Tim lokalkarya.id mendapatkan fakta bahwa sebagian besar warga di Ledokombo, Jember, Jawa Timur adalah buruh migran. Tidak ada yang salah dalam keputusan memilih pekerjaan tersebut. Namun, alangkah baiknya bila memiliki mata pencaharian dengan keadaan masih dekat bersama keluarga, dan tetap bisa membesarkan anak-anak dengan kasih sayang setiap hari. Bukankah anak-anak adalah harapan kesejahteraan keluarga di masa depan?
Kepedulian terhadap para pekerja migran bisa diutarakan kepada keluarganya, bukan hanya pada pelaku. Memang, bukan perkara mudah mengalihkan kebiasaan masyarakat, pemikiran masyarakat dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Namun, di tempat ini nampak aksi kepedulian terhadap pekerja migran dan keluarganya tertuang. Hal ini diterapkan oleh komunitas belajar Ledokombo dengan nama Tanoker (bahasa madura, yang artinya kepompong). Di tempat ini banyak kegiatan positif yang memberdayakan anak-anak dan masyarakat sekitar. Inilah upaya melakukan perlindungan terhadap Buruh Migran Indonesia dan keluarganya yang dikemas menggunakan pendekatan budaya.

Diciptakan beragam kegembiraan anak-anak melalui bermain, khusunya bermain Egrang. Siapa yang menyangka, hal ini justru membawa kebanggaan bagi diri setiap anak, keluarga, desa dan bahkan negara. Kecakapan dalam bermain Egrang mengantarkan mereka tampil di depan ribuan pasang mata, bahkan sampai tersebarnya momentum ini di kancah internasional. Prestasi dan perkembangan positif pada kegiatan anak-anak ini membuat para orang tua dan seluruh warga Ledokombo berbangga diri.

Egrang mengantarkan mereka tampil di depan ribuan pasang mata, bahkan sampai tersebarnya momentum ini di kancah internasional…
Kegembiraan pada anak-anak tentunya berbeda dengan kadar kegembiraan pada orang dewasa. Tanoker pun memiliki program pendampingan. Mulai dari sinilah diharapkan nantinya mereka bisa percaya diri dengan kemampuan/keahlian yang dimilikinya sekaligus senang dengan kegiatan barunya. Hingga membuat Buruh Migran Indonesia bisa mendapatkan, bahkan menciptakan pekerjaan tanpa harus bermigrasi ke kota lain atau ke luar negeri.
Buruh Migran Indonesia atau dalam sebutan lain TKI Purna, mempunyai modal sosial yang luar biasa. Pengalaman-pengalaman mereka yang didapatkan dari tinggal di luar negeri, seperti kecakapan hidup maupun keahlian memasak aneka kuliner. Juga kemampuan berbagai bahasa internasional yang siap dimanfaatkan untuk memajukan Indonesia, dari desa untuk dunia.

Bagaimana Kepedulian Pemerintah Kabupaten Jember?
Kreasi keterampilan binaan Tanoker nampak pula pada acara Lomba Inovasi Handycraft yang masuk pada serangkaian acara Festival Egrang 7. Puluhan kreasi barang-barang unik, hasil kreatifitas para peserta lomba inovasi handycraft ini ditata rapi lengkap dengan keterangan dana dan pembuatnya, untuk dipamerkan ke masyarakat luas. Ada kreasi souvenir dari limbah kayu dan kulit jagung kering, bantal dan tas dari kain perca, kreasi boneka-boneka kain flanel, pajangan dinding, dan lampu unik dari lilitan benang. Di luar acara ini, siapapun yang berkunjung ke Tanoker juga bisa melihat dan membeli beragam kerajinan karya masyarakat Ledombo di gerai Tanoker.

Kegiatan ini mendapat perhatian dari Dinas Ketenagakerjaan juga Bupati Kabupaten Jember. “Kita ada program 1 desa 1 produk, satu desa satu unggulan, khusus untuk Ledokombo nantinya bisa dibina dalam kelompok-kelompok UMKM. Sehingga kita bisa memberi akses lebih dari sebelumnya. Kita mendukung ekonomi kreatif di Ledokombo dan bupati akan menjadi kepala pemasar langsung Ledokombo,” ujar dr. Hj. Faida, MMR – Bupati Jember.
