Secuil Harapan Dari Bagian Selatan Jember
LokalKarya.id – Jika kita bertanya, apakah kita masih bisa menemukan kesenian tradisi di tengah masyarakat modern ini? Mungkin akan sangat jarang Kota ataupun Kabupaten yang besar untuk menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi, kalian akan menemukan jawaban yang berbeda ketika berada di Jember. Beberapa masyarakat Jember nampaknya sadar akan pelestarian budaya tradisi. Hal tersebut terlihat dari menjamurnya grup-grup kesenian reog di daerah Ambulu.

Paguyuban-paguyuban reog dapat kita temui hampir di setiap desa di Kecamatan Ambulu. Seperti Desa Pontang, Blater, Sidodadi, bahkan Kesilir. Hampir semua desa tersebut memiliki lebih dari satu paguyuban reog. Fantastis bukan! Lebih kerennya lagi, pegiat seni reog disana tidak hanya orang-orang yang sudah berumur, akan tetapi kalangan muda yang juga masih turut melestarikan kesenian tradisi tersebut.

Kemunculan banyak paguyuban reog di Ambulu bukan berarti kesenian reog ‘laris-manis’ disana. Mereka terkadang harus tampil sendiri, dengan biaya serta perkakas seadanya, guna memenuhi keinginan anggotanya untuk pentas. Terkadang juga intensitas latihan yang padat tak berarti jika tidak ditampilkan, apalagi dalam ranah kesenian. Memang tidak mudah bagi kalangan minoritas untuk survive dan bersaing dengan mayoritas. Alhasil, sinar eksistensi mereka pun kian meredup di Jember
Entah kita harus merasa bangga atau miris dengan fenomena di atas. Untungya masih ada segelintir pihak yang cerdas membaca fenomena tersebut. Unit Kegiatan Mahasiswa PSRM Sardulo Anorogo milik Universitas Jember akhirnya menggelar sebuah festival reog guna memenuhi kehausan seniman tradisi untuk pentas. Festival tersebut dinamai dengan “Festival Reog Se-Tapal Kuda”. Digelar secara rutinan di Universitas Jember sejak tahun 2014 hingga sekarang. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan sebelum bulan Suro. Akan tetapi, hal tersebut menjadi bersifat kondisional mengingat agenda mereka yang begitu padat. Setidaknya mereka telah sedikit mengobati kehausan seniman tradisi akan sebuah pentas.

Semoga hal ini bisa menjadi contoh, bahwa kalangan intelektual tidak harus segan dan malu untuk melestarikan tradisi nenek moyang. Jika tidak kita para pemuda, maka siapa lagi yang akan melakukannya. Tentulah kita tidak ingin jika suatu saat anak cucu kita lebih mengenal budaya negara lain dibanding budaya kita sendiri. Semoga kita para pemuda lebih giat dalam menjaga eksistensi kearifan budaya lokal di tengah masyarakat modern ini. (yuniansyah surya)
