Produk Industri Kreatif Banyuwangi Diekspor Sampai ke Hawaii
LokalKarya.id – Produk ekonomi kreatif di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, telah menembus pasar ekspor. Beberapa pasarnya adalah Jepang, Tiongkok, Maladewa, sampai Hawaii.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan, memacu berkembangnya industri kreatif sangat penting karena merupakan salah satu penggerak roda perekonomian negara.
“Ternyata beberapa di antaranya sudah ekspor. Gerak industri kreatif ini penting untuk memacu ekonomi daerah. Industri kreatif adalah sektor yang paling tahan krisis,” ujar Mari saat berkunjung ke Banyuwangi.
Mari mengatakan, kegiatan ekonomi kreatif oleh para perajin di Banyuwangi akan saling menunjang dengan pengembangan pariwisata.
“Kemajuan sektor pariwisata daerah akan pararel dengan pengembangan industri kreatif, termasuk kerajinan. Demikian pula sebaliknya. Beberapa kiriman ekspor kerajinan didapat dari wisatawan mancanegara yang datang. Saya dukung terus, akan saya bantu fasilitasi promosi,” paparnya.

Menurut Mari, industri kreatif yang terdiri dari beragam subsektor, mulai dari kerajinan, arsitektur, desain, film, televisi, fesyen, hingga seni pertunjukan menyerap banyak tenaga kerja. Kontribusi industri kreatif di seluruh Indonesia mencapai Rp 641,8 triliun atau sekitar 7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ada total 5,42 juta unit usaha di seluruh Indonesia yang termasuk industri kreatif. Saya dukung yang ada di Banyuwangi bisa terus berkembang. Saya kagum dan salut dengan perajin Banyuwangi, ada yang mengolah limbah kayu lalu dijadikan produk dan ekspor ke Jepang,” kata Mari.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kebanyakan produk yang asal daerahnya dibuat terbatas dan buatan tangan. Produk-produk ini lebih menyasar kelas menengah-atas.
“Mayoritas produk hand-made. Eksklusif dan tidak massal, karena mengincar pasar high-end alias menengah ke atas. Ini yang masuk kategori industri kreatif dan terus kami dorong melalui dukungan promosi, pelatihan manajemen bisnis modern, dan peningkatan standar kualitas,” terang Azwar.

Sejumlah perajin di Banyuwangi memang kebanjiran pesanan ekspor. Oesing Craft, misalnya, baru saja mendapat pesanan alat-alat makan dari Mitsubishi Corporation Fashion Co.Ltd (MCF) Jepang senilai US$ 189.000. Beberapa perajin lain mendapatkan pesanan funitur dari beberapa hotel dan perusahaan ternama di Maladewa, Tiongkok, dan Timur Tengah.
“Kerajinan rakyat dari tekstil, kerajinan berbasis kayu dan rotan, barang kulit dan alas kaki di Banyuwangi mampu membukukan nilai tambah hingga sekitar Rp 24 miliar pada 2012, tumbuh dari tahun sebelumnya Rp 13,9 miliar,” jelas Azwar.
Subsektor industri kreatif lain di Banyuwangi juga meningkat. Sektor kertas dan barang cetakan naik dari Rp 155,2 miliar pada 2011 menjadi Rp 175,1 miliar pada 2012. Ini mencerminkan industri desain dan percetakan tumbuh dengan baik.

Sektor kuliner yang terwakili dari restoran mampu meningkatkan nilai tambah dari Rp 560,5 miliar (2011) menjadi Rp 654,4 miliar (2012). Adapun sektor perhotelan tumbuh dari Rp 286,6 miliar menjadi Rp 341,8 miliar.
Sektor jasa hiburan kebudayaan naik dari Rp 22,3 miliar (2011) menjadi Rp 26,2 miliar (2012). “Ini menunjukkan seniman banyak tampil di pentas wisata. Jadi wisata seni-budaya cukup berkembang,” sebut Azwar.
Sumber: finance.detik.com
