Pembarong: Magis Atau Logis?
LokalKarya.id – Banyak di kalangan masyarakat yang bertanya-tanya tentang, “Bagaimana bisa manusia kuat mengangkat dadak merak yang begitu besar? Apakah dia sedang kesurupan?”

Dadak merak adalah sebutan untuk topeng raksasa dalam pertunjukan reog. Terkadang, orang salah mengartikan dan menyebut topeng berkepala harimau tersebut denga sebutan reog. Padahal, reog sendiri adalah sebutan untuk satu kesatuan dalam pertunjukan yang didalamnya terdiri dari Warok, Jathilan, Bujang Ganong, Klono Sewandono, serta dadak merak itu sendiri. Sementara itu, orang yang mengangkat dadak merak disebut dengan ‘Pembarong’. Lalu, bagaimana mereka bisa kuat mengangkat beban dadak merak yang begitu besar? Mari kita lihat penjelasan dari salah satu pembarong milik Universitas Jember ini.

Pembarong tersebut bernama Ardi Sugiarto. Menurutnya, mengangkat dadak merak bukanlah suatu hal yang sulit, bukan pula harus kesurpan.
“Semua orang pasti bisa asalkan sering berlatih,” ucapnya.

Dadak merak dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepalanya yang biasa disebut cekathakan, serta bagian atasnya yang biasa disebut rengkek. Dia juga mejelaskan bahwa asumsi banyak orang tentang mengangkat dadak merak dengan gigi yang ternyata tidak sepenuhnya benar.
“Gigi hanya untuk menjaga keseimbangan. Penyangga beban utama adalah bahu,” jelas lelaki tersebut.

Dia juga menjelaskan tentang struktur cekathakan yang memang didesain sedemikian rupa untuk memudahkan dalam menyangga beban.
“Kayu yang panjang disekitar tempat kepala itu adalah kuncinya. Itu akan membuat beban dadak merak penuh bertumpu pada bahu kita,” terang Ardi.
Ditanya tentang berapa berat cekathakan tersebut, dia memberikan penjelasan yang begitu masuk akal.
“Beratnya cuma sekitar 20 killogram. Setiap orang bisa mengangkat satu sak semen dengan beban 50 kilogram, masak Cuma 20 kilogram saja gak bisa,” ucapnya sambil melepas tawa.
Sementara itu, rengkek sendiri memiliki beban yang tak lebih dari 5 kilogram. Hal tersebut karena rengkek terdiri dari potongan bambu yang sangat tipis, yang diberi bulu merak serta dibentuk semenarik mungkin. Rengkek tidaklah berat, hanya saja bentuknya yang besar membuatnya terkesan berat. Ketika kita mengangkatnya, mungkin rasanya sama dengan mengangkat lembaran triplek.
“Jadi, pembarong jauh dari asumsi masyarakat yang sarat akan mistis. Semuanya murni fisik kita. Ini adalah olahraga. Semua orang bisa mengangkatnya, asalkan sering berlatih. Tak ada hasil yang mengkhianati usaha,” pungkasnya. (yuniansyah surya)
