Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Komunitas

Peduli pendidikan, Relawan Turun Tangan Jember Lakukan Bimbingan Keaksaraan di Lapas

LokalKarya.id“Tidak ada kata terlambat untuk belajar”. Begitulah bunyi sebuah ungkapan, yang kemudian menjadi penyemangat untuk bapak-bapak bahkan kakek-kakek yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Jember. Di usia yang sudah tergolong tidak muda lagi, yaitu berkisar antara 40-60 tahun, mereka rela menghabiskan waktu sehari-hari di dalam lapas untuk belajar membaca, menulis, berhitung, dan berbagai ketrampilan lainnya.

Hari Sabtu,14 Oktober 2017, relawan Turun Tangan Jember, sebuah gerakan kerelawanan yang didirikan oleh Anies Baswedan pada tahun 2013 lalu, melaksanakan salah satu project sektor pendidikannya di Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Jember yaitu pendampingan keaksaraan membaca dan menulis bagi para warga binaan.

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerelawanan yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk peduli dan ikut terlibat aktif dalam berbagai permasalahan di sekitar mereka. Dan sektor pendidikan merupakan “pekerjaan rumah” yang tak akan pernah bisa selesai jika tidak diatasi secara komunal, baik dari pemerintah maupun pihak swasta, termasuk komunitas peduli pendidikan.

Apalagi, Kabupaten Jember tercatat sebagai salah satu daerah dengan angka buta aksara yang cukup tinggi. Tercatat hingga saat ini lebih dari 40 ribu masyarakat di Kabupaten Jember belum bisa membaca dan menulis. Hal ini jugalah yang menggerakkan para relawan Turun Tangan Jember untuk ikut ambil bagian dan berkontribusi nyata menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat.

Kali ini para relawan yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi ini memilih Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Mungkin, arek lokal bertanya-tanya, kenapa di lapas? Salah satu relawan yang saat ini berprofesi sebagai dosen pengajar di IKIP PGRI Jember yang akrab dipanggil Chika menjelaskan bahwa di lapas banyak warga binaan atau tahanan yang belum bisa membaca dan menulis. Hal ini dikarenakan faktor pendidikan mereka yang rendah, bahkan banyak yang tidak sekolah, sehingga rata-rata belum mengenal huruf sama sekali. “Lapas kan juga jarang ya dapat sentuhan kegiatan seperti ini, karena tempatnya eksklusif dan protektif. Belum stigma di sebagian besar masyarakat kalau lapas itu tempat yang menakutkan.”, tambah Chika.

Agenda ini merupakan agenda rutin relawan Turun Tangan Jember di sektor pendidikan yang dilaksanakan 2 hari dalam seminggu. Saya sendiri sebagai koordinator Turun Tangan Jember merasakan tantangan yang juga tak mudah. Di awal, kami sempat kesulitan menentukan waktu untuk melaksanakan project ini, karena melihat kesibukan teman-teman semua. Apalagi relawan yang tergabung juga berasal dari multi latar belakang, mulai dari kalangan mahasiswa, dosen, guru, wiraswasta, dan profesi lainnya.

Namun dalam berbagai kesempatan, Turun Tangan selalu memberikan sharing dan insight bahwa tugas kerelawanan tak mengenal waktu. Jadi, bukan memanfaatkan waktu luang tapi kita harus meluangkan waktu. Apalagi, saat mengingat salah satu pesan dari insiator gerakan Turun Tangan, Pak Anies Baswedan, “Mari kita turun tangan sama-sama, karena kebanyakan dari kita ketika melihat masalah, mendiskusikannya, mengharapkan ada perubahan, dan sambil berasumsi bahwa ada orang lain yang berbuat, kalau tidak ada, maka kita terus memproduksi keluhan. Itu namanya urun angan! Republik tidak akan berubah dengan urun angan, tapi kita harus turun tangan !”

Selama kegiatan berlangsung, terlihat warga binaan yang mengikuti kegiatan keaksaraan senang dan begitu antusias. “Mbak, besok kesini lagi, kan? Jangan cuma sekali ya”, kata seorang bapak berusia 50 tahun penuh harap.

Lapas yang selama ini dipersepsikan sebagai sebuah tempat yang menyeramkan dan menakutkan, pada hari itu sirna seketika di benak para relawan. Hal ini tak lain tak bukan karena melihat antusiasme warga binaan yang begitu bersemangat. Semoga program pembinaan keaksaraan dapat mewarnai aktivitas warga binaan lapas selain program kerohanian, ketrampilan, dan olahraga yang sudah lebih dulu ada.

Mengenal Turun Tangan Jember

Turun Tangan Jember sebagai sebuah gerakan kerelawanan mengajak semua masyarakat dari berbagai kalangan, khususnya para pemuda untuk bersama-sama terlibat aktif dalam membantu masyarakat menghadapi berbagai masalah sosial di lingkungan sekitar. Ada beberapa sektor yang mejadi fokus project kerelawanan Turun Tangan yaitu pendidikan, lingkungan, politik, dan HAM. Gerakan kerelawanan yang tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia dengan jumlah relawan lebih dari 50.000 orang ini mempunyai visi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Setiap daerah di seluruh Indonesia mempunyai permasalahan yang berbeda-beda, ada yang di sektor pendidikan, lingkungan, dan sebagainya. Sehingga Turun Tangan tiap daerah mempunyai fokus yang berbeda-beda dalam project kerelawanannya.

Beberapa tahun lalu, Ditjen Pendidikan Non formal dan Informal (PNFI) berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mensinyalir Jember sebagai daerah dengan jumlah buta aksara tertinggi di Indonesia. Bagaimana arek lokal sebagai bagian dari Jember tercinta menyikapi ini? Tak cukup hanya dengan miris, bergabung dengan gerakan-gerakan relawan yang membantu menciptakan ruang-ruang pendidikan untuk mengikis “cap” Jember dengan angka illiterate yang rendah tadi, diperlukan suatu usaha yang nyata. Waktunya untuk turun tangan. Bagi arek lokal yang ingin bergabung menjadi bagian dari Turun Tangan Jember, silahkan langsung menuju official Fanpage Turun Tangan Jembernya : .

“Relawan tak dibayar bukan karena tidak bernilai, tapi karena tak ternilai “

Foto : Prasetyo Y.

nurdin

IG : nurdien_isme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *