Kopi Organik Kayumas Situbondo diminati Pasar Internasional
LokalKarya.id – Hasil pertanian organik memiliki pangsa pasar yang bagus dan harganya relatif lebih mahal. Konsumen middle up, terutama di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan Amerika Serikat sangat menghargai hasil pertanian organik, tak terkecuali komoditi kopi organik. Hal ini yang mendorong para petani di Kayumas semakin serius lagi mengembangkan pertanian kopi Arabica organik.
Saat ini di Desa Kayumas terdapat 72 orang yang menjadi anggota Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kopi Arabica Organik “Sumber Kayu Putih” dengan luas lahan mencapai 132,25 Ha. Hanya petani yang memiliki lahan di atas 1 Ha saja yang tercatat di keanggotaan Gapoktan. Sementara, yang memiliki lahan kurang dari 1 Ha tersebar di 6 Sub Kelompok Tani. Bila ditotal seluruh lahan pertanian kopi yang ada di Kayumas, yakni mencapai + 341,25 Ha.

Mayoritas petani kopi di Kayumas menanam jenis Arabica, namun 10% dari luas lahan itu ditanami jenis kopi Robusta. Kopi Robusta ini terutama ditanam di lahan yang berada di dekat jalan utama daerah tersebut, dengan kemiringan di atas 45 derajat. Hal ini karena batang pohon kopi Robusta lebih kuat, dan akarnya menancap ke tanah dan relatif tahan terhadap dampak asap kendaraan. Tanaman ini juga difungsikan sebagai tanaman penguat dan menghindarkan tanah dari erosi. Sama seperti kopi Arabica, tanaman kopi Robusta ini juga dirawat dengan sistem organik.
Menurut Ketua Gapoktan “Sumber Kayu Putih”, H. Sukarwi, para petani sudah menjalankan pertanian kopi Arabica organik secara turun-temurun sejak jaman Belanda. Maka tak perlu heran, mayoritas petani kopi di Kayumas tetap bertahan dengan konsep pertanian organik, dimana mereka menghindari penggunaan berbagai bahan kimia dan pestisida dalam mengelola perkebunan kopinya, baik saat pemupukan maupun memberantas hama dan penyakit. Serta saat pengolahan biji kopi menjadi HS (ada cangkang lunak) atau ose (biji kopi kering).

Keunggulan penanaman kopi Arabica organik di Kayumas ini juga mendapat perhatian berbagai pihak, yang ingin belajar tentang standar pertanian organik. Selain staf dari Pengembangan Tanaman Kopi asal Papua Nugini, juga ada Deputy Director Research dari Centra Agriculture Bioscience International Afrika (CABI Afrika), Dr. George I. Oduor.
Oduor mengakui, kualitas kopi Arabica di Indonesia, khususnya dari Kayumas cukup bagus. Aroma dan rasa kopi Arabica organik Kayumas juga diakui bakal mudah diterima pasar internasional, meski belum sebagus kopi Arabica di Kenya. Namun dengan konsistensi mengembangkan kopi Arabica organik sesuai standar internasional, ia yakin Kopi Kayumas akan semakin diperhitungkan di level internasional dan mampu bersaing dengan kopi-kopi Arabica dari hasil pertanian negara lain yang sudah lebih dulu mengukir reputasi di pasar kopi internasional.
Saat ini Indonesia dikenal sebagai negara eksportir kopi terbesar keempat di dunia, di bawah Brazil, Colombia dan Vietnam. Ironisnya, Vietnam yang mulai tahun 2002 menyodok di urutan ketiga, sebelumnya bukan penghasil kopi yang diperhitungkan. Mereka tahu dan banyak belajar tentang pertanian kopi justru dari Indonesia. Kini Indonesia harus berbenah agar ‘sang guru’ tak selalu kalah oleh ‘murid’, seperti halnya dengan Malaysia dalam soal kelapa sawit.
