KOMIKISME, Komik Di Instagram Yang Berani Menertawakan Bangsa
Komik adalah cerita bergambar yang sangat menarik dinikmati ketika masa kecil. Berbentuk buku cerita, dan karakter-karakter yang diciptakan oleh kreatornya memiliki daya tarik tersendiri bagi pembaca. Apalagi didukung dengan adanya gambar ilustrasi yang mewakili sketsa yang sedang diceritakan. Namun dewasa ini komik sudah mulai berkurang eksistensinya. Sudah mulai ditinggalkan keberadaannya di jaman teknologi yang semakin hari semakin berkembang.
Komikus adalah sebutan bagi seorang kreator/pembuat komik. Tak hanya dengan modal memiliki keterampilan menggambar, seorang komikus juga harus pintar membuat cerita. Cerita dan gambar mampu dikolaborasikan sebagai suatu karya yang menarik untuk dinikmati banyak orang. Dengan demikian, seorang komikus memang harus peka dengan banyak kejadian di kehidupan. Sehingga mampu memiliki banyak ide untuk kemudian dituangkan sebagai karya komik.
Hilman Thonthowi, pemuda kelahiran Banyuwangi yang kini bertempat tinggal di Jember adalah salah satu dari sedikit komikus indie Indonesia yang tersisa. Dia mulai membuat komiknya sendiri sejak tiga tahun belakangan ini. Menjadi seorang komikus memang cita-cita masa kecilnya. Sejak kecil ia sangat hobi menggambar. Hal tersebut dibuktikan dengan keterlibatannya dalam kegiatan ekstrakulikuler melukis di setiap jenjang sekolahnya. Ketertarikannya pada komik sangat besar sekali, hingga akhirnya dia membuat “KOMIKISME”, sebuah komik garapannya dengan media digital yang ia kembangkan hingga saat ini.

KOMIKISME dibuat oleh Itok –sapaan akrab Hilman Thonthowi– setelah ia memberanikan diri berinteraksi via media sosial dengan para komikus senior yang sudah berkembang di kota-kota besar seperti Jogja, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Pemuda 22 tahun ini juga mampu membaca peluang ramainya pengguna Instagram sebagai media publikasi komiknya. Sehingga saat awal ia memulai membuat komik, ia sudah tidak bingung lagi untuk menempatkan hasil karyanya. Komikus satu ini juga sangat sederhana sekali dalam berkarya. Dia hanya memanfaatkan keberadaan aplikasi-aplikasi menggambar di dalam smartphone.

Aplikasi-aplikasi menggambar di smartphone memiliki akses dan cara operasional yang mudah, hal itu menjadi alasan yang diungkapkan Itok ketika diwawancarai oleh lokalkarya.id. Selain itu, Itok juga memiliki pendapat bahwa keterbatasan tools yang dimiliki jangan dijadikan sebagai hambatan untuk menyalurkan hobi.
“Mengoperasionalkan aplikasi di HP lebih mudah dan sederhana daripada di Komputer. Apalagi masih belum ada dana juga untuk mengembangkan karya untuk lebih besar. Jadi sementara pakai saja apa yang ada. Nggak punya alat bukan berarti terhambat untuk menyalurkan hobi, dong…”, kata mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Jember ini.
Nama KOMIKISME tak memiliki arti yang tak begitu mendalam baginya. Nama itu bagi dia hanya sebuah susunan antara KOMIK, IS, dan ME. Dia menyebutkan Komik is me, Komik adalah aku, katanya. Itok menyusun KOMIKISME sebagai model komik yang memiliki karakter peka terhadap isu-isu sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Karakter tetap dalam komiknya adalah “Mpus”, seorang mahasiswa semester akhir yang memiliki kepekaan berlebihan dalam menanggapi isu sosial di masyarakat. Sementara karakter-karakter lainnya adalah karakter tambahan yang ia ciptakan sendiri untuk keberlangsungan tiap cerita yang ia bangun.
Tagline KOMIKISME juga cukup sarkastik, yaitu “Menertawakan Bangsa”. Menurut sang kreator, Bangsa ini sudah sangat sensitif dalam menanggapi setiap isu sosial. Dari kesensitifan itu maka muncul banyak judgement tanpa aturan, argumen ngawur, bahkan hingga konflik kekerasan. Sehingga komikus muda ini ingin menyeimbangkan keadaan itu lewat karya-karyanya.
“Mencerdaskan bangsa dengan cara-cara seperti itu sudah sensitif banget. Jatuhnya malah nggak cerdas, tapi ngawur. Jadi, menanggapi isu dengan bercanda tapi tetap serius itu lebih masuk akal sekarang ini. Kita ini juga butuh waktu untuk menertawakan diri sendiri dulu sebelum menertawakan orang-orang lain.”, imbuh Itok sambil tertawa.


Sebagai seorang komikus, Itok juga menyayangkan kehadiran komik-komik lain yang Cuma asal-asalan. Kebanyakan komik-komik baru yang muncul baginya masih memiliki konten dengan sumber info yang tidak kuat sama sekali. Atas hal itu, ia memang berniat serius membuat KOMIKISME untuk terus hadir dengan konten dan konsep yang berbeda. Dan hal itulah yang sedang terus ia cari untuk mengembangkan karyanya itu. Konsistensi juga menjadi hal penting yang ia perhitungkan selama ini.
Itok berharap, dengan KOMIKISME ia mampu berturut serta memajukan komik Indonesia dengan muatan berbobot dan inovatif. Selain itu lewat karya-karya komiknya, ia mampu didengar kritiknya terhadap isu yang berkembang di masyarakat. Sebuah harapan yang besar sekali bagi dia untuk terus mengembangkan karyanya untuk lebih serius baik dari tool yang digunakan, maupun karakter cerita yang lebih inofatif. Serta menantikan kerjasama para komikus-komikus Jember untuk turut bersatu memajukan lagi komik yang sempat laris di era 90-an lalu. (bayuarganata)
Quote:
“Nggak punya alat bukan berarti terhambat untuk menyalurkan hobi. Berkarya selalu bisa dimulai dari apa saja yang kita punya dulu!” –Hilman Thonthowi, Komikus (Kreator KOMIKISME)
Instagram: KOMIKISME
CP: komikisme@gmail.com
