LokalKarya.id – Anjloknya harga singkong di tingkat petani di bondowoso menimbulkan satu tanda tanya besar, bagaimana bisa kota yang dikenal sebagai produsen tape tersebut tidak mampu mengangkat kesejahteraan petani singkong yang merupakan bahan dasarnya.
Tim media mencoba menemui salah seorang pelaku usaha tape di daerah Poler. Mulyadi, demikian pria tersebut akrab disapa, menuturkan kondisi yang dialami dirinya dan para perajin tape lainnya di Bondowoso.
“Kita tidak bisa membeli singkong dari petani dengan harga bagus, karena produksi tape saat ini juga sedang menurun. Hal ini karena banyaknya pengusaha tape dari kota lain, yang juga memproduksi tape dengan nama ‘Tape Bondowoso’. Kita bisa menemukan banyak tape bermerk tape bondowoso di pasaran, yang sebenarnya diproduksi oleh pengusaha tape di kota lain, bukan bondowoso,” demikian penjelasan Mulyadi yang juga anggota Asosiasi Perajin Tape Bondowoso.

Mengenai kabar tentang asosiasi petani singkong, dia menjelaskan bahwa sepengetahuannya belum pernah dibentuk di bondowoso, atau setidaknya di daerah sekitarnya.
“Tapi tidak tahu lagi, kalau mungkin di desa atau kecamatan lain telah dibentuk, tapi saya belum mengetahuinya,” demikian ia menegaskan.

Hal ini merupakan suatu ironi tersendiri bagi Bondowoso, Kota Tape yang terancam tidak lagi memproduksi tape. Padahal sebagaimana dilansir media suara jatim post, Bupati Bondowoso, H. Amin Said Husni, menyatakan bahwa Pemkab bondowoso akan melindungi lahan dan tanaman singkong demi keberlajutan industri tape di kota yang berada di tengah-tengah wilayah tapal kuda tersebut.
Sumber: kabarsenja.com
