Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

UMKM

Kayu Bakar Disulap Menjadi Bunga Replika Yang Bernilai Jual Tinggi

LokalKarya.id – Sepintas bunga replika itu seperti produk pabrikan. Tampilannya yang indah mampu meyamarkan bahwa bunga repika itu hanya dibuat para pria pencari kayu bakar di Tempurejo. Meski tak memiliki skill khusus, para pencari kayu bakar itu mampu membuktikan karya terbaiknya.

Yang membuat takjub, bahan baku bunga replika itu ternyata hanya terbuat dari limbah ranting kayu. kayu bunga, didapat gratis di kebun kopi sekitar rumahnya.

“Kami hanya membeli daunnya. Karena daun plastik seperti ini sulit kami buat,” kata Achmad Baihaki, pemilik tempat pembuatan bunga replika di Desa/Kecamatan Tempurejo.

Membuat bunga replika, kata pria bergelar sarjana sosial itu tak begitu sulit. Kayu yang dijadikan batang bunga cukup direndam di air selama 5 hari. Setelah kulit kayu pisah dengan rantingnya, barulah dia jemur hingga kering. Setelah kering, kemudian dicat menyerupai warna kayu sebelumnya.

Ranting kayu yang sudah diwarnai, dirapikan sesuai model bunga yang hendak dirangkai. Setelah itu, beberapa titik dilubangi dengan bor kayu.

“Kemudian, daun bunga plastik kami tempelkan dengan lem,” jelasnya.

Proses pengeleman sangat sederhana. Namun tetap memperhatikan daya rekat agar daun tak cepat copot dari batang kayu. Setelah batang dan daun bunga terangkai dengan baik, baru kemudian diletakkan bunga replika di atas pot bunga plastik. Bunganya diposisikan berdiri lantas pot plastik diisi pasir dan semen yang sudah berbentuk cor-coran.

“Jika sudah demikian, kami tinggal menjualnya,” kata bapak 2 orang anak itu.

Mudahnya membuat bunga repika ini kemudian ia tularkan ke sejumlah warga di sekitar rumahnya. Dia memilih mencari kayu karena prihatin melihat kondisi ekonomi mereka. Parahnya, ranting kayu bakar yang biasanya di jualnya murah bisa laku dengan harga yang tinggi.

“Kalau dijual kayu bakarnya pasti tetap murah tapi kalau di jual dengan bentuk bunga seperti ini harganya pasti berbeda,” jelasnya sambil tersenyum.

Satu bunga replika yang di rangkai para pencari kayu binaanya, bisa terjual dengan harga sekitar Rp. 250 ribu. Padahal biaya operasional pembutan satu bunga replika hanya Rp 150 ribu.

“Satu hari dibuat santai satu orang bisa buat satu bunga. Jika mereka rajin, minimal uang Rp. 100 ribu bisa dikantongi setiap harinya,” tuturnya.

Meski mudah membuat bunga semacam itu, namun kata Baihaki, dirinya masih terendala modal dan pemasaran. Dia membayangkan jika ada pasar yang pasti apalagi di tunjang modal yang cukup, dia tak ragu lagi tak hanya 5 orang yang mampu dia berdayakan.

Saat ini, pola pemasaran yang dilakukan hanya dari mulut ke mulut orang yang dikenalinya. Terkadang juga dia tawarkan di media online. Sementara persoalan modal dia harus patungan dengan sistem tanggung renteng.

Sumber: jemberonline.com

Bayu Arganata

Editor & Content Writer at lokalkarya.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *