JFC Conference 2017, Dari JFC untuk Dunia
LokalKarya.id – Sudah tahu kan kalau setiap bulan Agustus, di Jember ada perhelatan akbar bernama Jember Fashion Carnaval (JFC) ? Iyap, JFC 2017 kali ini sudah memasuki tahun ke-16. Tentunya bukan perjalanan yang singkat untuk sebuah pagelaran.
Yang membuat bangga adalah naiknya tingkat kunjungan dan antusiasme wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berbondong-bondong datang ke Jember. Kota kecil sebelah timur Jawa yang mungkin sebelum eksistensi JFC namanya tak banyak dikenal di luaran sana.

Untuk lebih meningkatkan awareness tentang esensi penyelenggaraan JFC, Sabtu, 12 Agustus 2017 digelarlah JFC Conference bertajuk “Dari JFC untuk Dunia”. Konferensi yang juga sudah diselenggarakan tahunan sebagai secondary event ini berlangsung di Sapphire Ballroom, Aston Hotel & Conference Center.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, menurut penitia, tahun ini adalah konferensi yang dihadiri oleh peserta yang lebih beragam, mulai dari kalangan pelaku industri pariwisata seperti pelaku kuliner, travel, transportasi online, blogger, siswa berprestasi dari sekolah menengah atas, hingga multi komunitas.
“JFC dirintis dari tahun 2000, hanya dua tahun dari proses reformasi. Saat itu semua turun ke jalan. Tapi, JFC mengubah parlemen jalanan menjadi parlemen budaya. Dan itu tidak terjadi dimana-mana di dunia”, ungkap Taufik Rahzen, staf khusus Bidang Budaya Kementerian Pariwisata saat memberikan sambutan.

Dari pernyataan Taufik tadi, apa yang arek lokal dapatkan? Ternyata JFC punya esensi lebih dalam dari apa yang arek lokal lihat secara kasat mata. JFC diciptakan oleh creative minority yaitu skala keluarga, kemudian meluas, menjadi kiblat daerah-daerah lain, dan diekspor ke seluruh dunia.

Yang menarik, saat sambutan oleh Dynand Fariz, ada special performance para talent JFC yang khusus membawakan kostum-kostum terbaik, seperti best national costumes saat ajang Miss Universe 2014 yang bertema Borobudur, dan juga saat ajang Miss Tourism International 2016 yang bertema Betawi.


Setelah dibuka secara resmi oleh serangkaian orang-orang penting seperti Taufik Rahzen (staf khusus Bidang Budaya Kementerian Pariwisata), Silvia Hilda (Ketua DPD Asosiasi Karnaval Indonesia Prov Kep. Riau), Monalisa (praktisi MICE yang juga asli Jember), Nurdin Al Fahmi (Manajer Pengembangan Bisnis Majalah Venue), serta tak ketinggalan, Dynand Fariz (Presiden JFC), JFC Conference 2017 melanjutkan talkshow yang terdiri dari dua sesi.

Talkshow I bertema Pengembangan Potensi Wisata Nusantara. Pembicara I, Silvia Hilda yang juga Ketua AKARI (Asosiasi Karnaval Indonesia) DPD Provinsi Kepri sangat antusias menyambut JFC ini. Tujuannya mengikuti karnaval ini adalah untuk memperkenalkan Provinsi Kepulauan Riau dengan ibukota Batam ke masyarakat dalam negeri. Karena, masih sangat mimnim orang yang tahu tentang perbedaan penyebutan Riau saja, dengan Kepri.
Ia juga mengenang masa-masa awal ketika ingin sekali belajar tentang bagaimana memproduksi sendiri kostum-kostum indah itu, hingga akhirnya difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Prov. Kepri.
Sedangkan Taufik Rahzen yang juga seorang budayawan menyampaikan bahwa untuk menjadi sebuah destinasi wisata, kita harus banyak mencontoh pada Bali yang berhasil meraih predikat destinasi terbaik di dunia baru-baru ini. Karena apa? Aktivitas sehari-harinya persis layaknya sebuah teater hidup.
“Dynand Fariz ingin membangun kebudayaan Jember tidak pada masa lampaunya, tapi pada masa depannya. Seharusnya Pemda harus melihat ini sebagai aset penting, bukan komplemen.”, tambahnya lagi.
Talkshow II mengusung tema How to Make A Carnaval City. Hadir Yuswo Hady, penulis dan praktisi pemasaran yang mengungkapkan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menuju kota karnaval, seperti customer strategy, product strategy, dan marketing strategy.

Sementara Monalisa yang merupakan putra daerah Jember yang saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti dan Universitas Bina Nusantara Jakarta menggaris bawahi pentingnya konferensi semacam ini.
“Masyarakat Jember perlu untuk membuka hati, jiwa, dan pikiran bahwa ada banyak yang harusnya bisa dimunculkan untuk mengiringi penyelenggaraan JFC ini. Misal membuka pintu rumah lebar-lebar untuk dijadikan homestay, membuat paket perjalanan yang di dalamnya ada menonton JFC, atau membuka peluang usaha travel, dan lain-lain. Supaya multiplayer effect nya terasa.”, katanya tegas.

Sementara pembicara terakhir, Esthy Reko Astuty, Deputi Bidang pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara juga menambahkan tentang kriteria layak disebut kota karnaval dan masukan lainnya.

Peserta yang hadir dan mengikuti penuh acara yang berlangsung dari pukul 8 pagi hingga 4 sore itu cukup antusias dengan mengajukan beberapa pernyataan sekaligus pertanyaan kritis. Rata-rata menginginkan adanya social impact yang dapat mendukung ekonomi kreatif dari kalangan masyarakat ikut terdongkrak dengan adanya JFC. Sehingga penyelenggaraan JFC dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat Jember.
Tentang SK Menteri Pariwisata tentang penetapan Jember sebagai kota karnaval, menurut peserta perlu peninjauan ulang, sudah pantaskah Jember dinobatkan sebagai kota karnaval ketika hanya pagelaran JFC yang setahun sekali saja yang menjadi ikonnya. Gimana menurut arek lokal?
Kontributor foto : Nana Warsita
