CV. JAWA DWIPA CUMEDAK : PADI TUMBUH TAK BERISIK
LokalKarya.id – Padi tumbuh tak berisik, begitu kata Tan Malaka. Ia mengingatkan saya pada para petani di negeri ini. Mereka berjuang demi menghidupi diri dan keluarganya serta kehidupan orang lain, namun tak pernah berisik. Mereka mencangkul, nandur, merawat dan memperlakukan tanamannya sebaik mungkin hingga musim panen tiba, tanpa pernah berkoar-koar bahwa dirinya adalah seorang pahlawan.
Di keseharian, saya tak asing dengan petani. Sebagian masa kecil yang terlewati, saya habiskan dengan bermain di pematang sawah. Bila ingin melihat sawah yang membentang, kami sekeluarga cukup membuka pintu belakang rumah. Kini, sawah yang membentang di belakang rumah kami telah menjadi perumahan.
Menjadi menyenangkan ketika saya mengenal seorang pengusaha muda asal desa Cumedak kecamatan Sumberjambe, Jember, yang bergerak di bidang beras. Namanya Yohahes Suwarno. Seorang teman bernama Ifan Arifianto memperkenalkan saya padanya. Saya biasa memanggil Yohahes Suwarno dengan sebutan Mas Anes. Sebagai pengusaha muda di bidang beras, tentu ia mengenal dengan baik kehidupan para petani, terlebih para petani yang tinggal di desanya.
Yohanes beserta istri serta keempat buah hatinya, mereka tinggal di desa Cumedak. Di sinilah pula Yohanes memulai usahanya di bidang beras, sama seperti usaha yang pernah dirintis oleh Ayahnya.
“Perusahaan saya bernama CV. Jawa Dwipa,” katanya.
Suatu hari, saya dan istri berkesempatan untuk singgah di rumah Yohanes di Cumedak. Rupanya rumah induk yang ia bangun menyatu dengan pabrik giling beras miliknya, pengemasan, dan lantai jemur padi. Iya benar, rumahnya terhitung sangat luas. Dari gerbang pabrik hingga mentok ke belakang, ke penggilingan padi, ada beberapa tiang listrik dan kabel-kabel. Sayang waktu itu listrik padam, kegiatan penggilingan dan pengemasan berhenti, para karyawan banyak yang menganggur. Mereka menanti listrik menyala. Yohanes terlihat resah dengan kondisi itu. Kesimpulan saya, pengusaha seperti dirinya bakal pusing bila kondisi listrik tak stabil.
Bagi saya, suasana mati lampu tersebut ada hikmahnya juga. Ketika itu, saya jadi punya banyak waktu untuk bicara dengan beberapa karyawan CV. Jawa Dwipa. Mereka rata-rata berbahasa Madura, murah senyum, dan suka difoto.
“Karyawan saya ada sekitar seratus orang Mas. Itu sudah termasuk sopir, yang urus pembukuan di dalam kantor, dan bagian pemasaran.”
Kata Yohanes, sebagian besar karyawan CV. Jawa Dwipa adalah orang-orang desa Cumedak sendiri. Ada juga yang bernama Jun, rumahnya dekat dengan rumah Yohanes. Ia pun masih terhitung teman masa kecil Yohanes. Satu lagi, lelaki berbadan kekar yang oleh orang-orang dipanggil sebagai Pak Wahyu. Dia berotot, sanggup memanggul berkarung-karung beras.
Sebagai distributor beras di Jember, CV. Jawa Dwipa memiliki beberapa merek dagang. Paling populer di masyarakat Jember adalah Padi Mas dan Padi Udang. Selain dua merek tersebut, beras kemasan hasil produksi CV. Jawa Dwipa ada juga yang dikirim ke luar Jember bahkan ke luar pulau Jawa, seperti beras kemasan dengan merek Putri Padi, Anak Ikan, Buah Pinang, dan Buah Matoa.
Kiranya menjadi pengusaha di bidang beras dengan skala menengah tak semudah yang saya bayangkan. Setidaknya, kita akan dipusingkan dengan pengeluaran tiap bulan, mulai dari listrik, gaji karyawan, bahan bakar transportasi, dan sebagainya. Menjadi wajar bila di waktu senggangnya, Yohanes akan merayakan hidup sesuai hobinya, trail dan naik gunung.
Menjalani hari-hari penuh kesibukan tak menjadikan Yohanes bertumbuh menjadi sosok yang tak peduli. Ia justru peka, suka membantu mereka yang butuh uluran tangannya. Namun seringkali ia melakukannya dengan diam-diam. Ibarat kalimat sakti, padi tumbuh tak berisik.
Ia pun memikirkan nasib para karyawan yang sering disepikan hiburan, sebab mereka hidup di tepian Jember, berjarak lumayan jauh dari pusat kota.
Sekali waktu, di saat-saat istimewa Yohanes akan membuatkan mereka hiburan musik. Tak hanya para karyawan dan keluarganya saja yang datang, Muspika Sumberjambe pun diundangnya juga. Saya beberapa kali turut hadir di acara tersebut. Di malam pergantian tahun 2015-2016, saya dan istri juga turut hadir di sana. Ada acara musik, Yohanes mendatangkan seorang DJ. Ketika itu Bapak Camat Sumberjambe hadir, beserta para pihak Muspika. Ada terlihat juga tamu yang berpakaian TNI dan Polri. Namun anehnya, semakin malam para karyawan CV. Jawa Dwipa semakin menyusut. Mereka banyak yang kembali pulang ke rumah masing-masing. Saya menebak, mereka terbiasa bangun pagi dan tak terbiasa begadang.
Untuk urusan tunjangan kesehatan, semua karyawan CV. Jawa Dwipa diikutkan dalam program BPJS.
Ada satu hal yang mengganjal hati saya manakala mengetahui bahwa tak ada hari libur bagi karyawan CV. Jawa Dwipa. Namun menurut Ifan Arifanto kepada saya, karyawan CV. Jawa Dwipa boleh izin libur kapan saja bila mereka ada keperluan, tinggal bilang.
ANANDA FIRMAN JAUHARI, BAGIAN PEMASARAN BERAS
Suatu hari di bulan Agustus 2014, seorang teman pulang dari Jambi. Ananda Firman Jauhari namanya. Ia menghabiskan waktu selama dua tahun di sana, untuk menjadi seorang pembelajar dan pengajar di bawah naungan Sokola Rimba. Benar, Ananda hidup bersama orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas. Saya biasa memanggil Ananda dengan Kernet, sesuai nama lapangnya di dunia pencinta alam. Rupanya selama hidup bersama teman-teman di Rimba, ia juga dipanggil Kernet. Tepatnya, Pak Guru Kernet.
Pulang ke Jember, Ananda segera menerima tawaran teman-teman Kalisat untuk mendaki puncak Raung, dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Di waktu itulah mula Ananda mengenal dekat Yohanes yang juga turut mendaki.
Turun dari Raung, Ananda punya niat baru. Dia hendak belajar bisnis dengan mencoba memasarkan beras kemasan hasil produksi CV. Jawa Dwipa. Yohanes sendiri yang menawarinya.
“Mas Anes orang baik, dengan senang hati saya akan membantu memasarkan beras produksinya. Niat saya adalah membantu sekaligus belajar. Ini bukan semata tentang uang,” ujarnya kepada saya, suatu hari ketika kami sedang nongkrong di Patrang.
Dalam pertemanan, Ananda dikenal sebagai figur yang tak pernah berkhianat. Masa remaja hingga bertumbuh dewasa ia habiskan untuk mempelajari dan menerapkan filosofi Punk. Pemikirannya lurus, maka menjadi wajar bila kadang-kadang dia terlihat kaku. Sebenarnya tidak, dia seorang muslim yang ramah. Oleh orang-orang yang mengenalnya, ia dikatakan berotak encer. Jenius. Tapi Tuhan Maha Adil, sebab sekali tempo ia adalah juga figur yang pelupa.
Saya masih ingat bagaimana kinerja Ananda dalam memasarkan produk beras milik CV. Jawa Dwipa. Dia terlihat hebat, tapi kadang ada lucu-lucunya juga. Suatu hari ada Ibu-ibu pemilik toko bertanya kepada Ananda, “Berasnya enak, Mas?” Ananda mulanya hanya melongo. Kemudian ia segera menjawab, “Saya tidak tahu, Bu. Saya karyawan baru, belum sempat mencobanya.” Aneh, jawaban itu justru membuat si Ibu memutuskan untuk pesan beras pada Ananda.
“Ternyata saya dibayar,” kata Ananda suatu hari saat singgah di rumah saya. Dia bercerita jika Yohanes membayarnya dengan jumlah yang menurutnya besar. Lebih satu juta. Saya tertawa mendengarnya. Tentu saya paham, Ananda bukan tipe laki-laki yang mendewakan uang. Dia lebih pada seorang pengagung kehidupan.
Hari-hari berlalu. Ananda tak kuasa menolak kebaikan-kebaikan Yohanes. Semua kebutuhannya disediakan, mulai dari motor hingga hunian.
Semakin hari ia semakin cerdas dan efektif dalam memasarkan beras kemasan CV. Jawa Dwipa. Teman-temannya percaya, dia akan melakukannya dengan baik, bahkan meskipun teman-temannya tak tahu bagaimana sepak terjangnya di lapangan. Mereka hanya mempercayainya.
Di pemula bulan September ini, Ananda memberi penawaran unik untuk Yohanes. Dia ingin tidak dibayar perbulan. Hanya komisi saja. Bila laku mendapatkan komisi, bila tak laku tak perlu diberi gaji tetap. Penawaran yang berani, sebab perbandingan penghasilannya bakal jauh. Yohanes mula-mula menolak, ia kasihan bila Ananda hanya mendapatkan penghasilan dari komisi saja. Apalagi penawaran itu diungkapkan tepat dua tahun masa kerja Ananda. Tapi Ananda memberikan alasan yang mantap untuk Yohanes. Dia bilang, “Mas Anes lihat saja nanti. Saya akan berusaha membuatnya menjadi lebih baik lagi.”
Sejak bulan September hingga enam bulan ke depan, Ananda akan sibuk mengajar di Sokola Kaki Gunung di dusun Sumbercandik, desa Panduman, Jelbuk. Sudah saya tuliskan di atas, Ananda adalah pengagung kehidupan, hidupnya untuk hal-hal seperti itu. Inilah alasan dasar mengapa ia cukup berani memberikan sebuah tawaran yang terbilang unik dalam sebuah pekerjaan.
Pada 2 September 2016 lalu, Ananda bikin catatan di akun Facebook miliknya. Berikut penggalan catatan darinya;
Saya bekerja menjualkan beras milik CV. Jawa Dwipa bermerek Padi Mas dan Padi Udang. Karena ini bukan perusahaan fiktif, maka ada alamat dan website. Silahkan lihat:
www.djawadwipa.com
Saya bisa mendatangi calon konsumen untuk melakukan penawaran dan memberi tahu contoh produk kapan saja. Namun karena saya mengajar di Sokola Kaki Gunung di dusun Sumber Candik, ada waktu dimana saya tak bisa mendatangi Anda, yaitu sedari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 dan pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Selain itu, kapan saja saya bisa.
Sekali tempo, ada saya dengar pengalaman-pengalamannya ketika berada di lapangan, di sudut-sudut wilayah yang jauh dari pusat kota, demi memasarkan beras kemasan hasil produksi CV. Jawa Dwipa. Dia karyawan bagian pemasaran yang unik tapi terpercaya. Atas perannya, dia tak hanya dekat dengan para pemilik toko, namun juga dekat dengan petani. Barangkali Ananda hanya sedang belajar pada serangkai kata itu, padi tumbuh tak berisik.
Teman-teman, bila Anda berkebutuhan niaga dengan beras kemasan produksi CV. Jawa Dwipa, silakan menghubungi Fanpage Facebook CV. Jawa dwipa, dan atau menghubungi bagian pemasaran CV. Jawa Dwipa atas nama Ananda Firman Jauhari a.k.a Kernet, di kontak telepon/SMS/WA di 082131967433.
Kepada bagian pemasaran, Anda juga bisa menanyakan harga beras untuk pasar grosir wilayah Jember untuk merek Padi Mas IR 64 medium dan Padi Udang IR 64 kristal kepala.
*Dokumentasi foto oleh Ifan Arifianto
Salam saya, RZ Hakim
