Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

UMKM

The Power of Kepepet, Cikal Bakal Kelahiran Yey Pouch

LokalKarya.id“Bisnis itu DO bukan Plan”, ujar perempuan berusia 20 tahun yang akrab disapa Luluk ini. Ia sudah mulai berbisnis sejak masih duduk di bangku kelas 3 SMA.

Usaha tote bag yang telah dia geluti selama dua tahun ini punya kisah menarik. Awalnya, Luluk hanya sebagai reseller usaha totebag temannya. Tak beruntungnya, tiba-tiba pesenan dengan jumlah besar itu dibatalkan sang supplier. Menghindari kekecewaan pelanggan, mau tidak mau dia harus memproduksi puluhan tas yang telah dipesan. Disinilah titik awal Yey Pouch bermula.

Nama Yey Pouch, terinspirasi dari kata “yey” yang sering anak muda gunakan untuk mengekspresikan perasaan puas atau exicted Nama ini lebih familiar dan mudah diingat untuk branding sebuah produk.

Dengan modal Rp. 300.000, kini Luluk Rojabiyah memiliki omset sekitar Rp. 1.250.000 dengan patokan harga Rp. 65.000 untuk tote bag custom. Di Yey Pouch, semua barang made by order.

 

Eits, arek lokal ga perlu khawatir. Tote bag custom bukan hanya bisa custom desain gambar sablon loh. Disini, juga bisa request model tali yang diinginkan. Tidak ada minimal order. Jadi pas lah buat arek lokal yang ingin memiliki tote bag anti-mainstream hasil desain sendiri.

Untuk sablon, owner Yey Pouch pernah membeli sendiri alat-alatnya untuk meminimalisir biaya produksi. Karena hasil yang ternyata tidak sesuai ekspektasi, akhirnya Luluk kembali memutuskan menggunakan jasa sablon yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Sekarang ini, Luluk tidak hanya memproduksi tas saja. Ada bantal yang juga bisa dipesan custom dengan harga Rp. 80.000. Ada juga topi bordir dan sablon, yang juga bisa dipesan sesuai selera, harganya berkisar Rp. 30.000-35.000. Bukan hanya itu, Luluk juga menjual garskin dan hardcase, yang juga made by order.

Tetapi produk di atas bukan termasuk dalam brand Yey Pouch, Luluk juga memiliki online shop satu lagi yang bernama lolshop dari kata Lol (Lot of Luck).

Saat ditanya apa yang menjadi tantangan Yey Pouch saat ini, Luluk mengungkapkan tentang tantangan pemasaran barang secara offline. Pemasaran yang dilakukan masih berupa pemasaran digital di Instagram dan broadcast melalui Whatsapp. Meskipun begitu, usaha yang ditekuni mahasiswi Ekonomi STIE Mandala Jember ini telah memiliki 10 reseller, termasuk dari titik terjauh seperti Papua dan Kalimantan.

“Rata-rata anak muda di daerah lebih memilih untuk membangun usaha kuliner, belum banyak yang merambah di dunia fashion”, tutur gadis berhijab ini. Menurutnya, ini juga menjadi kesempatan besar, karena untuk totebag desain masih langka ditemui.

Harapan ke depan, Yey Pouch dapat lebih dikenal seperti brand tote bag bergengsi yang sudah ada sebelumnya. Semangat terus Yey Pouch, maju terus pantang mundur seperti motto yang selalu dipegang teguh owner nya.

Buat arek lokal yang penasaran tote bag produksi Yey Pouch, bisa langsung cek Instagramnya di @yey_pouch dan untuk produk lainnya, bisa ke Instagram @lolshop_Jember.

 

Zevikurniasari Dewi

A travel blogger from www.ciwitraveling.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *