
Bagi anda para pecinta aksesoris etnik, jika berkunjung ke Jember barangkali harus menyenggangkan waktu untuk berkunjung ke Desa Balung Tutul. Sebuah desa di Jember wilayah selatan yang sudah terkenal dengan pengrajin aksesoris etnik, tasbih, dan manik-manik. Anda, akan disuguhi beragam karya tangan aksesoris etnik langsung dari pengrajinya.
Kala itu pagi dengan condong matahari yang masih 30 derajat tim lokalkarya.id mengunjungi Desa Balung Tutul. Lokasinya sekira 32 kilometer dari pusat kota Jember. Sebuah desa dengan label desa pengrajin yang sudah lama dikenal masyarakat Jember dan sekitarnya.
Mulai memasuki kawasan Desa Balung Tutul, nuansa pedesaan begitu kental terasa. Persawahan yang masih panjang kali lebar, rumah-rumah dengan desain sederhana khas pedesaan, dan masyarakat yang tampak lalu lalang dengan alat bertani jadi menambah nuansa asri khas pedesaaan.

Tepat setelah perempatan jalan di Desa Balung Tutul, Dusun Kebon. Lokasinya terbilang mudah di akses, tak jauh dari jalan utama desa Balung Tutul. Sebuah rumah tak terlalu besar dengan dinding rumah bambu, bercat putih terlihat orang duduk dan sibuk mengoperasikan mesin gerinda.
Bising suara mesin gerinda membuat tim lokalkarya.id penasaran. Mendekat kemudian berencana melihat secara langsung apa yang sebenarnya dikerjakan salah seorang pengrajin dirumah tersebut.
Moch. Ihwan (34) namanya, pria asli Balung ini adalah salah satu dari sederet orang kreatif di Balung Tutul. Ia adalah pengrajin aksesoris etnik dan tasbih sejak sepuluh tahun silam. Produk kreatifnya berupa aksesoris berupa gelang dan kalung berbahan kayu, tulang, dan viberglass. Juga tasbih dengan ukuran yang beragam dan warna-warna menarik.

Mengawali debut pertamanya dalam membuat kerajinan aksesoris dan tasbih, Moch, Ihwan berbekal ketrampilan yang memang sudah dipunyainya sejak usianya masih muda. Membuat produk kerajinan yang sudah diterima dipasar hingga saat ini merupakan upayanya dalam menciptakan ruang kreatif dan memapah ekonominya untuk menjadi lebih berdaya. “Awalnya saya bisa membuat kerajinan karena ikut orang, kemudian saya memberanikan diri pada tahun 2006 untuk membuat sendiri,” kenang Moch. Ihwan.
Dengan gaya komunikasi yang terbilang supel dan apa adanya, Ihwan mulai bercerita tentang proses pengerjaan produk-produknya. Dari bahan baku yang dipilih hingga caranya memasarkan.
Kalung, gelang, dan tasbih yang diproduksinya berbahan baku kayu kopi, tulang sapi atau kambing, tanduk sapi, dan viberglass. Mendapatkanya tak susah, beberapa kolega Moch Ihwan sudah biasa menyediakan.

Soal tahap-tahap pemprosesanya, menurut Ihwan ada proses pemotongan, pengamplasan,pengeboran, dan pewarnaan. Kemudian finishingnya adalah proses pengeringan.
Terbilang tak sulit dalam memproses kerajinan yang sudah digawangi satu dekade ini. Namun saat ditanya soal pemasaran, mulanya dalam memasarkan produknya, Moch Ihwan merasa tak semudah membuatnya. Harus ada pemetaan pasar dan tujuan pasar yang harus dengan jeli dibaca. Bali dan Jogja adalah pasarnya, mulai dari awal dibuka usaha kerajinanya sampai sekarang. Terkadang juga Sulawesi dan Kalimantan. Sesekali pasar luar negeri juga dijajalnya, Malaysia dan Vietnam adalah dua negara tujuanya.
Dipasar domestik, Moch Ihwan bekerjasama dengan sejumlah koleganya yang berada didaerah tujuan pasarnya. Sedangkan kalau dipasar luar negeri Moch Ihwan memasarkanya lewat media sosial, Facebook.

Produk hasil kerja kreatifnya ini tentu sudah diterima dipasar. Ruang berkarya dan ruang ekonomi berjalan seiring pengalamanya memproduksi kerajinan sejak sepuluh tahunan belakangan. Namun, Moch Ihwan merasa ada sedikit PR yang harusnya juga segera diselesaikan. Adalah soal keberlanjutan yang lebih dinamis dari usaha kerajinanya.
Modal dan kepedulian pemerintah pada UMKM adalah hal yang sedikit menggelisahkan baginya. Sejauh usahanya berjalan, dalam inovasi usaha yang lebih maju dan dinamis, modal dan perhatian pemerintah dalam pikiran Moch Ihwan adalah jawaban. “UMKM ini adalah ujung tombak perkonomian, jadi harusnya pemerintah lebih detail dan memperhatikan,” katanya.
Moch. Ihwan; +62 82 240 689 081.
