Jember Rasa Ponorogo
LokalKarya.id – Artikel sebelumnya telah mengupas tentang sejarah kedatangan masyarakat Kerajaan Majapahit di Ambulu yang menyebabkan aura Jawa di sana cukup kentara. Akan tetapi, beberapa tahun yang lalu bila melihat kesenian reog yang notabene berasal dari Ponorogo tumbuh subur disana. Bahkan, jumlah paguyuban reog di Ambulu dan sekitarnya sudah tidak bisa lagi dihitung dengan jari. Padahal menurut sejarah, masyarakat Ponorogo —yang dulunya disebut Kerajaan Wengker— berkoalisi dengan Kerajaan Demak untuk menyerang Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Wengker yang mencakup wilayah Ponorogo dan sekitarnya memang dulunya merupakan Kerajaan dengan basic ajaran hindu. Akan tetapi, semenjak kedatangan Bathoro Kathong, kerajaan tersebut beralih menjadi kerajaan bernafaskan Islam. Kecerdikan Raden Patah teruji saat itu. Beliau mengajak kerajaan-kerajaan sekitarnya yang memiliki basic ajaran Islam untuk menyerang Kerajaan Majapahit yang saat itu masih menganut ajaran Hindu. Tak lain dan tak bukan, Islamisasi menjadi dasar gerakan tersebut.
Jadi, masyarakat Ponorogo merupakan salah satu aktor yang ikut berkotribusi menghancurkan Kerajaan Majapahit. Lantas, jika nenek-buyut masyarakat Ambulu benar dari Kerajaan Majapahit, mengapa banyak masyarakat Ponorogo di Ambulu? Bukankah itu merupakan hal yang kontradiksi?

Jawaban dari polemik diatas dapat kita telisik saat G30S/PKI. Kita telah mengetahui bahwa daerah plat ‘AE’, merupakan basic PKI di Jawa Timur. Semenjak terbunuhnya tujuh Jenderal di Lubang Buaya, pemerintah memberikan mandat untuk membumi-hanguskan PKI beserta anggotanya dari NKRI. Oleh karena itu, masyarakat anggota dari PKI berbondong-bondong menyelamatkan diri. Mereka mencari tempat yang aman dari pantauan pemerintah kala itu. Lagi-lagi, Ambulu menjadi pilihan mereka.

Mereka bersembunyi disana, seraya mencari penghidupan pada Perkebunan milik Belanda untuk menyambung hidup. Ambulu dengan ribuan pohon milik PTPN itu memang menjadi tempat yang menjanjikan untuk sebuah persembunyian. Itulah dasar mengapa banyak masyarakat Ambulu yang memiliki nenek-buyut dari daerah Ponorogo, Madiun, Magetan, Pacitan dan sekitarnya. Ketika kalian berkunjung ke Ambulu, kalian akan menemukan suasana yang sangat berbeda dengan Jember bagian utara. Setelah memasuki pintu masuk daerah Ambulu, kalian seakan-akan disambut dengan kode alam yang ketika diamati lebih dalam, telinga kalian akan mendengarkan kata “Welcome to Ponorogo!”. (yuniansyah surya)
