Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Kreasi Pemuda

5 Band Asal Jember Yang Pernah Merasakan Recording Major Label

Bagi setiap band yang berasal dari daerah di Indonesia, menjalani recording di major label, adalah sebuah mimpi besar. Hal itu yang membuat mereka berbondong-bondong menciptakan karya-karyanya untuk didemokan kepada pihak label. Semakin banyak yang muncul, maka persaingan semakin ketat bukan?

Ketatnya persaingan tersebut membuat kegagalan untuk berproses di major label menjadi momok tersendiri bagi para musisi daerah. Tak heran, banyak juga dari mereka yang bertahan di jalur independent untuk tetap berkarir. Mengandalkan jaringan, komunitas, dan kalangan sendiri untuk eksistensi karyanya.

Namun tahukah kalian bahwa ternyata Jember memiliki band-band yang sudah mampu menembus major label di Indonesia. Mereka sudah pernah merasakan bagaimana menjadi band yang dinaungi sebuah perusahaan musik skala nasional. Siapa sajakah mereka? Berikut lokalkarya.id memberikan informasinya untuk kalian:

TATO

Secara resmi TATO berdiri pada tahun 1994, embrio awalnya di kota Jember, sempat bergabung dengan Anang Hermansyah dalam group Morganster. Setelah ditinggal Anang ke Jakarta, mereka berevolusi dari JRS (Jember Rock Section) dan kemudian menjadi TATO. Jajaran televisi nasional dan radio-radio di seluruh Nusantara pada saat itu, semuanya memutar lagu yang konon sangat fenomenal, karena dari kalangan anak – anak, remaja, maupun dewasa hafal dengan lagu dari TATO yang berjudul ”Satu Senyum Saja” yang terjadi pada tahun 1996. Angka 350.000 copy adalah sangat fantastis bagi band baru apalagi dari daerah, untuk penjualan album pertama. Dan TATO telah membuktikannya. Setelah terjadi krisis ekonomi global, dan krisis politik pada tahum 1998, rencana TATO merilis album ketiganya berantakan. Masing-masing personel kembali ke kampung halaman di kota Jember.

TWINBEE

Hasan dan Husen –dua kembar bersaudara– adalah dua orang dibalik berdirinya TWINBEE. Karena kembar itu jugalah, latar belakang nama band itu terjadi. Format meracau ala MC, mereka pilih juga bukan karena tidak ada pertimbangan. Biasanya dalam membuat karya, mereka selalu memotret realitas yang ada disekitarnya. Band yang digawangi Xanz & Xeins (vokal, rap), R0 (DJ), Pucha (drum), Nyal (bass) dan Adhie (gitar) itu ingin membidik pasar menengah ke bawah. Selama ini musik rap dan hip-hop selalu diidentikkan bagi kalangan menengah ke atas. Hal tersebut yang ingin dipatahkan Twinbee. Selain musik mereka yang unik, personelnyapun tidak kalah seru. Vokalisnya adalah saudara kembar. Keduanya memang sudah kompak sejak lahir. Kekompakan mereka pun bisa terlihat dari busana, perilaku juga kesukaan bermusik keduanya. Hal itu yang membuat karya-karya mereka pernah dirilis via label sekelas MI2 Production.

SEVEN DREAM

Seven Dream lahir di tanggal 6 Mei 2005, adalah sebuah interpretasi baru tentang musik pop modern. Di jamannya, belum banyak band yang berani melawan arus. Sekaligus menghidupkan lagi gairah di dunia musik Indonesia. Kebanyakan hanya berani bermain aman dan mengikuti arus yang ada. Lalu dengan pola pikir musik itu terus berputar dan melihat gaya bermusik di tahun tahun lampau kembali disenangi remaja sekarang ini, ada yang menanggapinya dengan me-recycle lagu-lagu lama. Tapi 5 anak muda yang hijrah ke Jakarta ini menanggapinya dengan cara yang berbeda. Aruna (drum), Vega (keyboard), Hedex (guitar), Vebian (bass) dan U’dho (vocal) membentuk band bernama Seven Dream dengan basic musik yang tidak asing, pop alternatif. Sentuhan yang mereka berikan dalam lagu-lagu mereka, akan merubah pandangan kita seratus delapan puluh derajat. Di album pertama yang mereka beri judul 7 Mimpi, kita dengar deretan lagu-lagu yang bisa memberi kita sebuah interpretasi baru tentang musik pop alternatif.

BLAST

Blast, adalah band yang mewakili kota Jember yang menjuarai A Mild Live Wanted 2008 Regional Jawa Timur. Saat itu Blast berhasil mengalahkan dua grup band terbaik tuan rumah Surabaya yaitu Yellow dan Embun dihadapan 15 ribu penonton yang memadati Stadion Tambak Sari, dalam konser A Mild Live Rising Stars 2008. Blast memiliki kemampuan bermusik yang tinggi dan juga memiliki kemampuan menciptakan lagu yang komersil. Atas hal itu, Blast akhirnya menerima hadiah kompetisi tersebut berupa uang tunai, fasilitas, dan juga proses recording di major label untuk satu albumnya. Padahal, di tahun 2000-2007 Blast berkali-kali mengirim demo ke Musica Studio’s, tapi tak kunjung berhasil. Mereka pun sempat terpaksa tidur di emperan jalan saat ke Jakarta. Tapi, dengan semangat membara, mereka mencoba peruntungan lain lewat ajang ini.

NIGHT TO REMEMBER

Akhir tahun 2009 sentuhan tangan dingin Piyu (guitarist Padi) hadir kembali lewat grup band asal Jember bernama “Night To Remember” (NTR). Mereka ditemukan Piyu lewat sebuah audisi yang di laksanakan di Surabaya bernama “Piyu Padi Search The Next Surabaya Superband (L.A Light Community Star Up 2009).  Night To Remember (NTR) terbentuk di Jember pada tanggal 11 Maret 2007 bermula dari project Solo sang gitaris mereka, Arbill San yang kemudian berkembang menjadi sebuah group band setelah turut terlibat dalam project tersebut Dema (vokal) dan berikutnya Kandar (Gitar), Waski (Bass) dan Kiki (Drum). Sebuah kejadian pada suatu malam yang cukup mengejutkan dan sekaligus menyeramkan bagi mereka, yaitu di malam itu terdengar Suara Gaib yang muncul menyapa mereka disaat latihan di basecamp. Kejadian ini justru mengilhami mereka untuk menjadikannya sebuah nama NTR yang berarti malam yang akan selalu diingat atau malam yang tak akan pernah terlupakan. Saang Vokalis Dema meninggal dunia setelah melawan sakit yang diderita tubuhnya selama 1,5 bulan. Kondisi Dema sempat membaik, namun penyakitnya kambuh lagi dan menyebar di seluruh tubuhnya. Belum diketahui sakit apa yang diderita oleh pelantun tembang Sorry itu.

Bayu Arganata

Editor & Content Writer at lokalkarya.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *