Omah Sinau, Maksimalkan Energi Anak Muda untuk Membangun Lumajang
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
LokalKarya.id – Itulah kata-kata menggelegar dari Bung Karno, presiden pertama Indonesia yang sangat meyakini bahwa para pemudalah tonggak negeri ini. Rasa optimis founding fathers itu tentunya harus terwarisi sampai kini, sampai nanti. Apalagi di era milenial seperti sekarang ini, yang segalanya berubah jadi lebih mudah namun seringkali dapat membuat lupa bila masih terlena dengan hingar bingar dunia.
Siti Murniasih (36) atau yang akrab dipanggil Asih ini, merasakan keresahan tersebut. Kini semakin banyak muda-mudi yang terlalu menikmati hebohnya dunia sehingga cenderung kurang produktif di daerah tempat tinggalnya. Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa masih sedikit orang-orang yang bergerak untuk membangun desanya, mereka lebih senang terlibat dalam pembangunan kota sehingga terjadi ketimpangan pembangunan di desa dan di kota.

Maka dari itu, Asih yang telah melanglang buana bersama international NGO (Non Government Organization) memutuskan pulang kampung setelah belasan tahun lamanya bekerja di Sorong, Papua Barat, Bali, NTT, dan Sulawesi. Bersama suaminya yang dulu bekerja di perusahaan swasta, kini harus banting setir menjadi pedagang sembako dan baju di kampung halaman suaminya, yaitu di Desa Gesang, kecamatan Tempeh, kabupaten Lumajang.
Namun pengorbanan profesi itu sepadan dengan kepuasan yang didapatkan berupa kesempatan untuk mendarmabaktikan pengalaman dan kemampuan diri untuk memajukan desanya yang berada di kaki gunung Semeru. Atas dasar ingin memajukan desa yang kini diabdinya, maka ia mendirikan Omah Sinau. Omah Sinau merupakan wadah untuk mendorong semangat membangun desa yang ditujukan kepada anak-anak maupun para remaja.
Untuk anak-anak, Omah Sinau memfasilitasi beragam kegiatan menarik dan menyenangkan yang bertujuan untuk mengasah softskill dan hardskill anak-anak di Desa Gesang dan sekitarnya. Setiap hari Kamis, diselenggarakan sinau menari atau kelas menari. Tari-tarian yang diajarkan beragam, seperti tari kancil, tari semut, tari dongklak, tari tradisional, dan tari kontemporer. Anak-anak biasa sinau nari di teras rumah berbentuk joglo yang ada di rumahnya.

Selain itu, Omah Sinau juga mengasah kecakapan komunikasi bahasa inggris anak-anak. Untuk teori bahasa inggris, tentu sudah didapatkan selama di sekolah, namun prakteknya masih sedikit yang bisa mengucapkan atau melafalkan kata-kata bahasa inggris. Terkadang Asih mendatangkan rekan-rekannya dari luar negeri untuk bersapa ramah dengan anak-anak sekaligus membuat anak-anak terlatih berbahasa inggris.
Tak hanya itu, Omah Sinau juga mengadakan kegiatan menyenangkan lainnya seperti sinau nandur alias bercocok tanam. Di kebun yang luas itu, Asih mengajak anak-anak untuk bercocok tanam strawberry, sawi putih, dan masih banyak lainnya. Bibit tanaman tersebut merupakan pemberian dari teman-teman relawan yang mendukung kegiatan budidaya tanaman di Omah Sinau.
Pada waktu senggang, biasanya sore hari, anak-anak datang ke Omah Sinau berbarengan dengan teman-temannya. Omah Sinau menyediakan layanan perpustakaan yang buku-bukunya dapat dibaca secara gratis oleh anak-anak. Apabila jenuh membaca, anak-anak juga boleh dolanan atau bermain. Ada beberapa permainan yang disediakan, antara lain dakon, egrang, holahop, dan lainnya. Anak-anak sangat senang menghabiskan waktu senggangnya di Omah Sinau.
Setiap dua bulan sekali, diadakan kegiatan bertajuk Sunday Market yang menjadi panggung anak-anak untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya. Tak hanya anak-anak dampingan Omah Sinau saja yang menunjukkan aksinya, para relawan dari ragam komunitas di Lumajang juga menunjukkan aksinya. Ada yang musikalisasi puisi, drama, dan lainnya. Selain itu juga dihadirkan kuliner lokal dari ibu-ibu sekitar desa yang ikut berkampanye tentang jajanan sehat tanpa micin atau bahan berpengawet.
Harapannya, Omah Sinau ini tak hanya menjadi sarana untuk anak-anak saja, melainkan juga untuk keluarga. Rencananya dalam waktu dekat akan diadakan paket outbond untuk keluarga. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kekompakan dan menguatkan rasa kasih sayang antar anggota keluarga.

Omah Sinau didirikan bukan hanya ditujukan kepada anak-anak, melainkan juga kepada anak muda yang sedang semangat-semangatnya bergotong royong membangun negeri ini. Maka dari itu, Asih mengajak para relawan yang bergerak dalam berbagai bidang untuk membangun sinergi antar masyarakat di desa.
Relawan-relawan inilah yang menjadi promotor agar masyarakat terus bergerak mengalahkan ambisi dan hawa nafsu pribadi. Namun sayangnya, masih sedikit para relawan yang mampu memahami makna relawan. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak dari mereka yang menganggap bahwa relawan tidak butuh dana dari lembaga, tidak perlu dukungan dari pemerintah, dan masih banyak anggapan lain yang menyimpang.
Untuk itulah Asih mewadahi kesalahpahaman itu supaya kembali sesuai makna kerelawanan yang telah ditetapkan oleh PBB. Asih mengajak para relawan komunitas yang bergerak di sekitar Lumajang untuk hadir menyamakan konsep dan tujuan tentang makna kerelawanan dalam sebuah kegiatan Volunteer Management Training (VMT). Kegiatan tersebut diselenggarakan secara berkala di Omah Sinau.

Harapannya, Omah Sinau dapat bersinergi dengan anak muda untuk terus berkarya dan berinovasi guna kemajuan negeri ini. Negara akan berkembang pesat jika dimulai dari pembangunan desa dan serentak dilakukan oleh anak-anak muda yang memiliki semangat gelora seperti Bung Karno. Jadi, arek lokal juga semangat kan untuk membangun desa?
