Lapak The Jannah, Berawal Hanya untuk Penggalangan Dana Hingga Komitmen Usaha
LokalKarya.id – Di era digital seperti saat ini membangun usaha memang dimudahkan dengan adanya media online. Inilah yang dimanfaatkan oleh owner Lapak The Jannah, Prita dan Nana. Usaha lapak the jannah bermula pada Desember 2015, setelah Prita mengundurkan diri dari dunia advertising, dengan modal marketing dan suami mempunyai basic konveksi. Pasangan suami istri ini akhirnya memutuskan untuk membangun usaha dengan menjual barang-barang vintage dan totebag.

Awalnya usaha yang mereka tekuni ini hanya untuk menggalang dana bagi rumah baca di bekasi,loh. Karena mendapatkan respon positif dari konsumennya, mereka memutuskan untuk mencari inovasi-inovasi baru.
“We sell lifestyle and green life not just a product”, tutur perempuan berusia 32 tahun ini. Lapak the jannah mengusung tema green life bukan semata-mata hanya untuk tema produk saja, nih. Owner juga aktif berpartisipasi dalam campaign lingkungan, bukan hanya dengan memosting poster lingkungan di social media, Lapak The Jannah juga memproduksi totebag foldable dengan bahan parasit yang travel friendly, cocok untuk mengurangi kantong plastik saat belanja, harganya berkisar Rp. 25.000 untuk yang polos dan Rp. 45.000 untuk yang bermotif.


Ada gymsack juga yang bahannya dibuat dari kain perca sofa, produk yang dijual juga tidak dibuat massal, satu desain bisa hanya 5-6 produk saja. Ada pouch quotes juga yang memang didesain sesuai dengan permintaan customer.
Tenang saja buat arek lokal yang menginginkan motif sesuai minat, di Lapak The Jannah juga bisa custom loh. Disini juga menjual barang vintage dan second yang masih layak pakai. “Tampil keren ga harus mahal, bahan re-useable juga oke. Yang penting adalah menghargai suatu karya” tambah Prita.

Kini Lapak The Jannah sudah berjalan selama 1,5 tahun. Bukan hanya menjual tas, kini Lapak The Jannah juga menyediakan merchandise (mug custom, pin, dan keperluan goodie bag).
Meskipun Lapak The Jannah awalnya berada di Bekasi, perpindahan owner dari Bekasi ke Jember tidak menunjukkan kendala untuk pemasaran, karena pemasaran owner fokus di media sosial dan bazaar insidentil. Sampai saat ini konsumen terbanyak masih dari daerah Jabodetabek. Untuk pembelian barang baku pun masih dari Tanah Abang dan Surabaya, karena minimnya bahan baku tas di daerah Jember. Kendala lainya yang dirasakan karena sebagian masyarakat masih kurang menghargai suatu karya, hanya melihat suatu barang dari fungsinya dan harganya.
Dengan prinsip say no no riba, Lapak The Jannah memulai usaha dengan modal sendiri dan hasil kerja keras sendiri tanpa adanya investor. Seperti yang dikatakan Prita jika usaha sebenarnya hanya butuh niat dan keberanian, lalu mencari relasi dan memanfaatkan media online yang ada. Prita mengaku bahwa usaha yang digeluti tidak mengeluarkan modal yang besar hanya sekitar Rp. 400.000 – 500.000 pada awalnya. Namun omset yang diperoleh juga menguntungkan. Satu bulan ini saja omset Lapak The Jannah sebesar Rp. 2.900.000,-. Dengan keuntungan bersih mencapai Rp. 1.900.000,-

Harapan Prita dan Nana sebagai owner selanjutnya yaitu bisa memiliki manajemen yang profesional dan dapat mewadahi anak-anak SMK dalam hal magang, yang memang menggeluti hal yang sama dengan usaha Lapak The Jannah.
Ini quote favorit yang mendasari usaha Lapak The Jannah : “Kami generasi cepat yang menolak cara instan untuk suskes”, dikutip dari buku Generasi Langgas nya Yoris Sebastian.
Buat arek lokal yang ingin thu lebih dalam tentang Lapak The Jannah, langsung meluncur ke akun media sosial dan nara hubungnya ya 🙂
Instagram : @lapakthejannah
Facebook : Lapak The Jannah
Whatsapp : 085331470887
