Okra Merah, Sayuran Sehat dengan Nilai Ekonomi Tinggi
lokalkarya.id – Tanaman Okra atau yang memiliki nama latin Abelmoschus esculentus L. Moench, termasuk jenis sayur-sayuran yang kaya manfaat. Tanaman asal Ethiopia dan dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim tropis. Dalam beberapa tahun terakhir, mulai banyak masyarakat di Indonesia yang membudidayakan jenis sayur-sayuran ini.

Widi Nugraha, salah satu pelopor budidaya okra merah, di perkebun asal Desa Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji, Jember, Jawa Timur.
“Saya mulai mencoba tanam okra merah ini sejak tahun 2012, karena penasaran. Saat itu saya coba tanam di polybag,” tutur Widi.
Adapun okra hijau, banyak dibudidayakan secara massal oleh sebuah perusahaan swasta di Jember untuk di ekspor ke Jepang. Saat awal membudidayakan okra merah, Widi harus mendatangkan benihnya langsung dari Amerika Latin, melalui situs jual-beli, e-bay.
Widi mengaku, tanaman okra memiliki daya tahan yang relatif baik serta tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Tanaman okra merah yang ditanam di ladang, ia gunakan sebagai pembibitan. Sedangkan yang di tanam di polybag, ia gunakan untuk konsumsi. Sebab, selain untuk konsumsi, permintaan okra saat ini banyak berupa bibit oleh orang-orang yang tertarik untuk menanamnya. Masa pertumbuhan okra dari awal benih ditanam hingga siap panen untuk konsumsi mencapai 45 hari. Adapun untuk pembibitan, masa tanamnya lebih lama 30 hari.

Untuk okra yang dikonsumsi, Widi sengaja menanamnya tanpa menggunakan pestisida sama sekali. Sebab, buah okra merah yang dihasilkan, juga bisa dimakan secara mentah. Rasanya yang tawar, dengan tekstur buah empuk. Biji okra merah juga bisa dijadikan campuran kopi atau bahan biskuit. Untuk dijadikan bahan campuran kopi, biji okra disangrai dan dihaluskan sampai menjadi bubuk.
Okra dipercaya mengandung banyak khasiat bagi kesehatan dan menyembuhkan beberapa penyakit seperti diabetes, kolesterol dan sebagainya. Khasiat okra ini sudah Widi buktikan kepada suaminya, Yudi Nugroho yang sebelumnya menderita asam urat. Selain itu, minus pada mata anak tunggalnya juga berkurang karena rutin mengonsumsi okra.

Kegiatan bercocok tanam yang menjadi hobinya sejak kecil, kini ia jadikan sebagai profesi utama. Pada tahun 2015, Widi mantap untuk memutuskan mengundurkan diri dari jabatan sebagai manajer di sebuah perusahaan bahan bangunan.
“Bertani itu bikin kita awet muda dan sehat. Karena sering hirup oksigen,” tutur Widi sembari tersenyum.
Saat ini, produksi buah okra merah Widi sudah masuk ke salah satu jaringan ritel modern nasional. Selain itu, ia juga memasok ke sebuah ritel modern di Batam, milik kawannya. Setiap minggu, ia bisa 3 kali mengirim okra merah segar melalui salah satu pengepul di Surabaya. Widi mengirim sebanyak 50 hingga 70 kilogram setiap pengiriman, dengan harga jual Rp. 16 ribu hingga Rp. 18 ribu, bergantung ukuran.

Sebagai agropreneur, di Jember Jawa Timur ini, ia juga membudidayakan edamame. Sebagai pengembangan usaha, kini Widi mulai belajar mengembangkan tiga jenis komoditas yang belum banyak di tanam di Indonesia, yakni asparagus ungu, buah persik (peach atau prunus persica) dan gold plum. (Adi Faizin)
