Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

Lokal Karya

Support Karya dan Usaha Lokal Di Sekitar Anda…

UMKM

WTC; Warung ta Caffe

wtc1

Bekerja sebagai pegawai di salah satu kantor instansi milik negara memang menjadi sebuah jaminan cerah untuk masa depan. Namun dalam urusan berkarya, bagi  Achmad Bachtiar tak ada batasnya. Kedai kopi juga jadi ruang kreatif baginya. Dia adalah salah satu dari sekian pemilik/pengelola kedai kopi yang sudah mulai menjamur di Kabupaten Jember. Usaha dengan jenis kedai kopi ia pilih karena dirasa lebih mudah dioperasikan di tengah keterbatasan waktu yang ia miliki karena harus sibuk dengan pekerjaan utamanya. Juga, lokasi kehidupan yang berada di sekitaran kampus merupakan lingkungan yang identik dengan tempat nongkrong.

Nama kedai kopi yang ia pakai pun cukup unik, yaitu “Warung Ta Café” (WTC). Sebuah nama yang mengandung unsur kalimat tanya, dan sangat tidak umum sekali dipakai sebagai nama kedai kopi. Tak jarang memang orang bingung dan merasa ada yang lucu ketika mendengar nama seperti itu bagi sebuah kedai kopi. Sebuah nama kedai kopi yang bisa dibilang cukup epic. Usut punya usut ternyata nama tersebut diambil dari celetukan salah seorang istri temannya ketika ia berdiskusi dengan beberapa teman tentang keinginannya membuka kedai kopi.

Sik tah, mas.. sampeyan iki kate buka warung ta café?”

(Bentar, bentar mas.. kamu ini mau bikin warung apa café?), begitu celetuk seorang istri temannya. Yang akhirnya secara spontanitas, Bebe, sapaan akrab Achmad Bachtiar membuat kalimat tanya tersebut menjadi nama kedai kopinya. Dia menganggap kadang hal-hal tak terduga yang muncul itu bisa saja digunakan sebagai identitas. Sebuah pemilihan nama yang sangat unik sekali dan cukup membuat orang-orang heran.

wtc2

Dalam menjalankan bisnisnya ini, Bebe memiliki upaya untuk menggunakan keseluruhan bahan-bahan baku yang dibutuhkan kedai kopinya berasal dari produsen-produsen maupun distributor lokal Jember. Kebetulan juga ia memiliki banyak teman ataupun relasi yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan bahan baku untuk menu di kedai kopi.

Dia menyebutkan bahwa bahan-bahan baku seperti kopi, di Jember banyak sekali yang mampu menyediakan. Bahkan seperti diketahui sendiri bahwa kopi di Jember juga memiliki banyak varian jenis. Hal itu juga berlaku untuk beberapa bahan baku lainnya yang bisa dijangkau secara langsung ke produsennya dalam skala lokal.

Semisal teh dan tempe sebagai bahan menu lalapan yang disediakan di daftar menu, ia ingin sekali membeli langsung dari produsennya. Bebe sangat membuka sekali kepada produsen bahan baku sekaligus memanfaatkan maksimal dalam hal itu.

WTC merupakan konsep kedai kopi sederhana. Sebab para konsumen tidak harus berpenampilan nyentrik dulu untuk bisa berada di situ. Menu dan tempat yang sederhana tersebut sudah cukup mampu membuat konsumen berlama-lama di kedai kopi tersebut. Untuk menanggapi perkembangan teknologi di masa kini, pemilik hanya menyediakan fasilitas jaringan wifi dan televisi layar datar sebagai sarana hiburan. Bahkan Bebe juga mengungkapkan bahwa kedai kopinya adalah pilihan kesekian bila konsumen mencari tempat nongkrong yang dipakai untuk ajang mencari kata “hits”.

wtc3

“Kalau mau nongkrong dengan tujuan untuk memperlancar proses PDKT dengan cewek, tempat saya ini mungkin menjadi pilihan ke-empat atau ke-lima lah untuk dikunjungi.”, tambah Bebe saat menjawab pertanyaan di tengah wawancaranya dengan tim lokalkarya.id saat itu.

Konsep kesederhanaan yang diusung sang pemilik untuk model WTC sendiri, juga digunakan dalam sistem pemasarannya. Sederhana sekali strategi yang digunakan untuk mengenalkan kedai kopinya, Bebe hanya mengandalkan promosi model klasik, yaitu dari mulut ke mulut.

Awalnya ia memanfaatkan aplikas BlackBerry Messenger (BBM)-nya sendiri dengan fitur Broadcast Message kepada seluruh kontak BBM yang ia miliki. Kemudian juga akun-akun media sosial pribadinya. Setelah itu mengalir seperti biasa tanpa harus gencar melakukan promosi besar-besaran di berbagai bentuk media apapun.

Kekuatan viral tersebut diyakininya cukup untuk membuat kekuatan branding di usaha yang sedang dijalankannya. Untuk promosi, bermodal nama yang unik membuat banyak orang penasaran, jaringan komunitas yang cukup banyak. Serta tempat WTC sendiri yang dekat sekali dengan lingkungan perumahan sekaligus masih di area kampus, Bebe sudah cukup mampu mengenalkan dan menarik pelanggan selama kurang lebih sekitar satu setengah tahun ini. Sangat sederhana sekali.

wtc4

Bukan berarti dalam waktu satu setengah tahun tersebut Bebe tidak mengalami kendala yang berarti dalam menjalankan usahanya. WTC pernah mengalami fase sepi pelanggan saat di 3 bulan pertama setelah dibuka.

Awal buka memang selalu ramai dengan kawan dan komunitasnya sendiri yang menjadi konsumen. Kemudian juga ada salah satu komunitas mahasiswa di Jember yang menjadi pelanggan tetap. Namun karena komunitas mahasiswa tersebut memiliki tempat nongkrong baru yang lain, maka mereka meninggalkan WTC secara pelan-pelan.

Bebepun tidak bisa memaksakan teman-teman dan komunitasnya sendiri untuk terus menerus nongkrong di WTC saat mereka memilih tempat nongkrong selain WTC. Fase paceklik pelanggan konsumen tersebut dirasakan selama 3 bulan pertama. Namun setelah itu WTC sudah mulai kedatangan konsumen-konsumen baru.

Kendala lain yang dihadapi WTC yang lainnya adalah harga bahan-bahan baku yang terus menerus melonjak. Dilema muncul ketika harga menu dan kualitasnya harus tetap sama di tengah harga bahan-bahan baku yang naik harga. Sebab, Bebe masih tetap harus mempertahankan konsumen pasarnya yaitu kebanyakan mahasiswa yang lekat dengan identitas anak kost dengan kekuatan andalan, ngirit.

Mau tak mau Bebe memang harus menerapkan harga yang bersahabat. Namun dalam permasalahan seperti itu ia menerapkan strategi subsidi silang untuk mengatasi persoalan yang sudah umum dihadapi pengusaha lainnya.

Menu yang higienis, service pelanggan yang cepat, dan tetap dalam kesederhanannya adalah kelebihan tersendiri yang dimiliki WTC. Selain itu, Bebe juga selaku pemilik WTC memiliki harapan untuk lebih mengembangkan kapasitas kedai kopinya. Juga membuka dalam tenggang durasi waktu yang lebih lama.

Dan harapan terbesarnya adalah membuka jaringan baru kepada siapa saja untuk keterhubungan bisnis masing-masing. Dia mengajak lebih banyak orang untuk menggali potensi bisnis yang dimilik, dan mengambil peran untuk berwirausaha.

Qoute:

“Membuka bisnis itu sama dengan membuat jaringan. Dan yang sudah dipunya itu adalah asset. Manfaatkan!” –Achmad Bachtiar, Pemilik Warung Ta Café (WTC).

Contact Person:

082337110873 (Achmad Bachtiar)

Bayu Arganata

Editor & Content Writer at lokalkarya.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *